Lewat “Lost at Sea”, Bibit dan Stockbit Bicara Cara Investor Hadapi Gejolak Pasar
Cuan Insight – Bibit dan Stockbit kembali berpartisipasi sebagai Lead Partner Art Jakarta 2026. Dalam gelaran seni yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, kedua platform investasi digital tersebut menggandeng seniman asal Yogyakarta, Endry Pragusta, melalui karya School of Medusa II.
Kolaborasi ini tidak sekadar menghadirkan karya seni di ruang pamer. Bibit dan Stockbit membawa narasi “Lost at Sea” untuk menggambarkan perjalanan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi. Melalui metafora lautan dan ombak, investor diajak memahami bahwa volatilitas merupakan bagian dari perjalanan finansial yang membutuhkan kemampuan beradaptasi dan konsistensi.
School of Medusa II dan Kisah “Lost at Sea”
Karya School of Medusa II menampilkan gambaran sebuah rakit yang tampak carut-marut setelah diterjang ombak di tengah lautan. Visual tersebut menjadi representasi dari kondisi seseorang yang seolah tersesat ketika harus menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Head of PR and Corporate Communication Bibit, William, menjelaskan bahwa konsep Lost at Sea berangkat dari karakter laut yang selalu bergerak dan berubah.
Menurutnya, gelombang laut dapat menjadi gambaran bagaimana seseorang menghadapi situasi yang tidak selalu dapat diprediksi. Ada masa ketika kondisi relatif tenang, tetapi ada pula periode ketika arus dan gelombang menjadi lebih kuat.
“Laut tidak pernah benar-benar diam. Di balik badai dan arus yang tidak menentu, gelombang terus bergerak secara perlahan dan konsisten, menguji segala sesuatu yang dibangun di atasnya,” jelas William saat pembukaan Art Jakarta 2026, Jumat (2/10/2026).
Volatilitas Pasar Diibaratkan Seperti Ombak
Melalui karya Endry Pragusta, narasi tentang laut kemudian dikaitkan dengan perjalanan finansial dan investasi. William mengatakan perjalanan investasi seseorang juga tidak selalu memiliki peta yang sempurna. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan gambaran sistem pendidikan dalam karya School of Medusa II yang membuat manusia harus menavigasi masa depan dengan perangkat yang belum tentu lengkap.
“Dari narasi artwork ini sendiri kemudian dengan perjalanan investasi seseorang yang diwakilkan oleh kehadiran Bibit dan Stockbit, kita mau bilang bahwa perjalanan investasi kita juga sama dengan sistem pendidikan tadi. Masih belum sempurna,” ujarnya.
Bagi Bibit dan Stockbit, pesan tersebut menjadi bagian dari edukasi investasi yang ingin disampaikan kepada pengunjung Art Jakarta 2026.
Investasi tidak selalu bergerak dalam kondisi yang ideal. Perubahan ekonomi, sentimen pasar, maupun berbagai faktor eksternal dapat memengaruhi pergerakan aset. Karena itu, investor perlu memiliki pemahaman dan strategi yang sesuai dengan kondisi serta tujuan finansial masing-masing.
Jangan Buru-Buru “Meninggalkan Laut”
Narasi Lost at Sea juga membawa pesan mengenai bagaimana menghadapi volatilitas pasar. William mengibaratkan kondisi ekonomi sebagai laut yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.
Menurutnya, yang dapat dilakukan investor adalah melakukan penyesuaian agar tetap mampu menghadapi perubahan kondisi.
“Bibit dan Stockbit ingin mengajak penikmat seni untuk bilang bahwa si laut itu kita tak bisa kendalikan. Sama seperti perekonomian. Tapi, kita bisa melakukan sedikit adjustment gimana caranya kita tak tenggelam dulu,” paparnya.
Ia memberikan gambaran bahwa ketika investasi sedang menghadapi kondisi yang kurang baik, investor tidak harus mengambil keputusan secara terburu-buru hanya karena melihat perubahan jangka pendek. Penyesuaian terhadap strategi dan keseimbangan portofolio dapat menjadi bagian dari proses menghadapi perubahan.
Pesan tersebut bukan berarti mengabaikan risiko investasi. Justru, investor perlu memahami instrumen yang dimiliki, mempertimbangkan profil risiko, serta mengambil keputusan berdasarkan tujuan dan kondisi finansial masing-masing.
Investasi Tak Lepas dari Perubahan Ekonomi
William menilai tema School of Medusa II relevan dengan dinamika perekonomian yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Berbagai perubahan kebijakan ekonomi dan kondisi makro menjadi faktor yang diperhatikan investor serta pelaku pasar modal. Situasi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan investasi dapat berubah dari waktu ke waktu.
Namun, melalui kolaborasi dengan Endry Pragusta, Bibit dan Stockbit ingin menyampaikan bahwa dinamika ekonomi tidak harus dipandang sebagai alasan untuk berhenti belajar mengenai investasi.
“Kita tahu lah, setahun terakhir investment di Indonesia, perekonomian itu banyak tough-nya ya. Banyak dinamikanya. Tapi, ya kita optimis bahwa tahun depan, tahun-tahun ke depan lagi akan bisa lebih baik,” kata William.
Pesan tersebut ditujukan kepada masyarakat dari berbagai kelompok usia, termasuk milenial dan Gen Z. Edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan investasi dinilai perlu terus dilakukan agar masyarakat mampu memahami risiko serta beradaptasi terhadap perubahan ekonomi.
Edukasi Investasi Lewat Seni
Keikutsertaan Bibit dan Stockbit di Art Jakarta 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas percakapan mengenai investasi. Edukasi finansial tidak hanya disampaikan melalui angka, grafik, atau pembahasan instrumen investasi, tetapi juga melalui pengalaman visual dan karya seni.
Dalam setiap penyelenggaraan Art Jakarta, Bibit dan Stockbit juga menghadirkan karya yang membahas dua sisi perjalanan investasi, yakni konsistensi investor serta lingkungan atau kondisi yang membentuk iklim investasi.
Kali ini, karya School of Medusa II menjadi medium untuk menggambarkan perjalanan manusia ketika menghadapi ketidakpastian.
Investasi sendiri merupakan perjalanan yang membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan konsistensi. Karakter tersebut memiliki kemiripan dengan proses kreatif seorang seniman dalam menghasilkan sebuah karya.
Pengunjung Bisa Ikut Aktivitas Interaktif
Selain menghadirkan karya seni, Bibit dan Stockbit menyiapkan pengalaman interaktif bagi pengunjung booth selama Art Jakarta 2026. Pengunjung dapat mengikuti aktivitas menulis dan origami untuk mengekspresikan sekaligus memvisualisasikan harapan dan aspirasi mereka.
William berharap pengalaman tersebut dapat menjadi sarana refleksi bagi pengunjung untuk melihat investasi dan kondisi ekonomi dari perspektif yang lebih luas.
Melalui narasi Lost at Sea, Bibit dan Stockbit mengajak masyarakat melihat bahwa menghadapi volatilitas bukan hanya persoalan angka di layar investasi. Kemampuan memahami perubahan, menjaga keseimbangan, terus belajar, dan menyesuaikan strategi menjadi bagian dari perjalanan finansial yang perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa melalui School of Medusa II adalah tentang perjalanan manusia menghadapi ketidakpastian. Seperti laut yang terus bergerak, kondisi ekonomi juga dapat berubah. Investor perlu memiliki pengetahuan dan kesiapan agar dapat menavigasi perjalanan finansialnya dengan lebih bijak.
