Bursa Rontok, Investor Ritel Boncos: Ada yang Rugi 52%, Ada yang Curi Peluang

Cuaninsight –  Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan menjadi ujian tersendiri bagi investor ritel di pasar modal Indonesia. Ketika mayoritas saham mengalami tekanan, nilai portofolio investor dapat ikut tergerus dalam waktu singkat, bahkan ketika saham yang dikoleksi berasal dari perusahaan berkapitalisasi besar.

Kondisi tersebut dirasakan sejumlah investor ritel yang tetap bertahan di tengah gejolak pasar. Ada yang memilih tidak melakukan cut loss, ada pula yang mengurangi aktivitas transaksi dan menunggu kondisi membaik. Namun, sebagian investor justru melihat koreksi harga sebagai peluang untuk kembali masuk ke pasar.

Portofolio Investor Ritel Tertekan hingga 52 Persen

Adi, seorang pekerja swasta berusia 40 tahun di Jakarta Barat, menjadi salah satu investor yang merasakan langsung tekanan pasar. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, nilai portofolionya sempat tergerus hingga 52 persen.

Kondisi tersebut terjadi ketika tekanan jual melanda pasar saham secara luas hingga mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt. Bagi Adi, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan selama berinvestasi di pasar modal.

Menariknya, saham yang dimilikinya bukan sekadar saham berkapitalisasi kecil. Portofolionya antara lain berisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Ia juga memiliki eksposur pada sektor komoditas dan energi melalui saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Tekanan pasar yang terjadi secara menyeluruh membuat saham-saham unggulan tersebut ikut terkoreksi. Akibatnya, floating loss atau kerugian yang belum terealisasi meningkat cukup tajam.

Meski demikian, Adi memilih tidak langsung menjual sahamnya.

Pilih Bertahan karena Pakai Uang Dingin

Alih-alih melakukan cut loss, Adi memilih mempertahankan portofolionya sembari menunggu kondisi pasar kembali stabil. Salah satu alasannya karena dana yang ditempatkan di pasar saham merupakan uang dingin.

Artinya, dana tersebut tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun kebutuhan darurat. Kondisi ini membuat Adi memiliki ruang untuk menghadapi volatilitas pasar tanpa harus menjual saham dalam kondisi tertekan.

Ia bahkan mengaku tidak keberatan apabila pemulihan portofolionya membutuhkan waktu hingga tahun depan.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan investor menghadapi koreksi tidak hanya ditentukan oleh kondisi saham, tetapi juga oleh kondisi keuangan pribadi dan tujuan investasi.

Bagi investor yang menggunakan dana untuk kebutuhan jangka pendek, tekanan harga saham tentu dapat menimbulkan tekanan lebih besar. Sebaliknya, investor dengan dana yang memang dialokasikan untuk investasi jangka panjang memiliki ruang lebih besar untuk menunggu.

Investor Ritel Lain Rugi Puluhan Juta Rupiah

Pengalaman serupa juga dialami Prilly, pekerja swasta berusia 40 tahun di Jakarta Selatan. Sejak mulai berinvestasi pada 2017, ia telah menempatkan dana di pasar saham, terutama pada sektor perbankan.

Gejolak pasar terbaru membuat nilai investasinya turun sekitar Rp70 juta. Meski kerugian tersebut cukup besar, kondisi itu tidak membuatnya meninggalkan pasar saham.

Prilly justru memilih memperketat strategi investasi. Ia tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru ketika pasar masih dipenuhi ketidakpastian. Menurutnya, aktivitas tersebut sebaiknya dipandang sebagai investasi, bukan sekadar permainan untuk mengejar keuntungan cepat.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa investasi saham selalu memiliki dua sisi. Potensi keuntungan memang terbuka, tetapi risiko penurunan nilai investasi juga harus diperhitungkan sejak awal.

Ada yang Masih Menahan Saham dalam Jangka Panjang

Investor ritel lainnya, Fajar, juga telah mengenal pasar saham sejak 2011. Dengan modal awal sekitar Rp10 juta, ia mulai membeli sejumlah saham, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Perjalanan investasinya tidak selalu menghasilkan keuntungan. Ia mengaku masih memiliki saham yang mengalami tekanan setelah bertahun-tahun berada dalam portofolio.

Namun, Fajar membedakan antara potensi kerugian dan kerugian yang sudah benar-benar direalisasikan. Selama saham belum dijual, penurunan nilai tersebut masih berupa floating loss.

Ia juga masih melihat peluang investasi saham dalam jangka panjang, terutama melalui potensi dividen dari perusahaan yang membagikannya.

Meski demikian, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya memahami fundamental perusahaan dan menyesuaikan investasi dengan kemampuan finansial masing-masing.

IHSG Turun, Sebagian Investor Justru Cari Peluang

Tidak semua investor ritel mengambil posisi bertahan. Dino, investor berusia 35 tahun, justru kembali melakukan transaksi ketika melihat sejumlah harga saham mulai terkoreksi.

Setelah beberapa bulan tidak aktif bertransaksi, ia memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan scalping. Strategi ini dilakukan dengan membeli dan menjual saham dalam waktu relatif singkat untuk memanfaatkan pergerakan harga.

Bagi Dino, koreksi IHSG dapat membuka peluang, tetapi ia tidak ingin mengambil posisi terlalu panjang ketika kondisi pasar masih belum stabil. Ia memperkirakan tekanan jual dari investor asing masih menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan IHSG. Karena itu, ia memilih melakukan transaksi secara lebih selektif.

Strategi seperti scalping tentu memiliki risiko lebih tinggi karena investor harus mampu membaca pergerakan harga dengan cepat. Koreksi yang dianggap murah juga tidak otomatis berarti harga saham sudah mencapai titik terendah.

Koreksi IHSG Jadi Pengingat Penting bagi Investor

Beragam pengalaman investor ritel tersebut menunjukkan bahwa satu kondisi pasar dapat menghasilkan strategi yang berbeda. Ada investor yang memilih bertahan, ada yang menunggu, sementara sebagian lainnya justru memanfaatkan penurunan harga untuk melakukan transaksi.

Perbedaan strategi tersebut sangat bergantung pada profil risiko, tujuan investasi, kondisi keuangan, serta karakter aset yang dimiliki. Bagi investor jangka panjang, koreksi pasar dapat menjadi bagian dari siklus investasi. Namun, bukan berarti setiap penurunan harga harus langsung dimanfaatkan untuk membeli saham.

Investor tetap perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, prospek bisnis, likuiditas saham, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Penggunaan uang dingin juga menjadi faktor penting. Dana investasi sebaiknya tidak berasal dari kebutuhan sehari-hari maupun dana darurat agar investor memiliki kemampuan menghadapi fluktuasi pasar tanpa tekanan untuk menjual pada saat harga turun.

Pada akhirnya, kisah sejumlah investor ritel di tengah pelemahan IHSG menjadi pengingat bahwa pasar saham bukan hanya soal mencari keuntungan ketika harga naik. Kemampuan mengelola risiko, menjaga disiplin, dan menyesuaikan strategi dengan kondisi finansial juga menjadi bagian penting dalam perjalanan investasi. (*wong)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *