IHSG Sepekan Anjlok 3,28 Persen, Kapitalisasi Pasar Susut Jadi Rp10.627 Triliun
Cuaninsight – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah sepanjang perdagangan pekan 28 September hingga 2 Oktober 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah 3,28 persen dan ditutup pada level 6.036,88.
Posisi tersebut turun dibandingkan penutupan perdagangan pada pekan sebelumnya yang berada di level 6.241,89. Pelemahan indeks juga diikuti dengan penurunan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Di tengah tekanan indeks, aktivitas perdagangan saham justru menunjukkan dinamika berbeda. Rata-rata volume transaksi harian melonjak lebih dari 70 persen dibandingkan pekan sebelumnya, sementara rata-rata nilai transaksi harian juga masih mencatatkan pertumbuhan.
IHSG Turun 3,28 Persen dalam Sepekan
BEI mencatat IHSG melemah 3,28 persen sepanjang pekan perdagangan terakhir. Indeks ditutup di level 6.036,88 pada Jumat (2/10/2026). Jika dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya di level 6.241,89, IHSG mengalami penurunan 205,01 poin.
Penurunan tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar saham domestik masih cukup terasa. Pergerakan IHSG menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk melihat gambaran umum kinerja saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Pelemahan indeks juga berdampak terhadap nilai keseluruhan kapitalisasi pasar BEI.
Kapitalisasi Pasar BEI Turun Jadi Rp10.627 Triliun
Seiring dengan penurunan IHSG, kapitalisasi pasar BEI juga mengalami koreksi. Sekretaris Perusahaan BEI, Elsierra Putri Yosita, menyebutkan kapitalisasi pasar turun 2,55 persen menjadi Rp10.627 triliun dari posisi pekan sebelumnya yang mencapai Rp10.905 triliun. Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp278 triliun dalam kapitalisasi pasar dibandingkan pekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar merupakan salah satu indikator penting dalam melihat nilai agregat perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa berdasarkan harga sahamnya. Ketika harga saham mengalami penurunan secara luas, nilai kapitalisasi pasar juga dapat ikut terkoreksi.
Volume Transaksi Saham Justru Melonjak
Menariknya, pelemahan IHSG tidak membuat aktivitas perdagangan saham ikut menurun secara keseluruhan. BEI mencatat rata-rata volume transaksi harian saham justru meningkat 72,51 persen. Volume tersebut naik menjadi 50,37 miliar saham per hari dari sebelumnya 29,20 miliar saham per hari.
Lonjakan volume menunjukkan aktivitas jual beli saham berlangsung cukup ramai selama periode tersebut. Namun, tingginya volume transaksi tidak secara otomatis menunjukkan pasar sedang menguat. Volume yang besar dapat terjadi baik ketika investor melakukan akumulasi maupun ketika terjadi peningkatan aksi jual di tengah tekanan pasar.
Nilai Transaksi Harian Naik 5,40 Persen
Selain volume transaksi, rata-rata nilai transaksi harian saham juga mengalami peningkatan. BEI mencatat rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp12,63 triliun. Angka tersebut naik 5,40 persen dibandingkan rata-rata pekan sebelumnya yang berada di level Rp11,98 triliun.
Dengan demikian, meski IHSG mengalami koreksi, nilai transaksi di pasar saham tetap menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Perbedaan antara pergerakan indeks dengan volume dan nilai transaksi menjadi gambaran bahwa investor tetap aktif melakukan perdagangan di tengah kondisi pasar yang mengalami tekanan.
Frekuensi Transaksi Harian Menurun
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami penurunan. BEI mencatat rata-rata frekuensi transaksi harian turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi. Pada pekan sebelumnya, frekuensi transaksi harian mencapai 1,82 juta kali.
Data tersebut menunjukkan jumlah kejadian transaksi mengalami penurunan meski volume saham yang berpindah tangan justru meningkat cukup tajam. Kondisi tersebut memperlihatkan dinamika perdagangan saham sepanjang pekan berjalan tidak hanya dapat dilihat dari pergerakan IHSG, tetapi juga melalui volume, nilai, dan frekuensi transaksi.
Investor Asing Catat Net Sell Rp1,27 Triliun
Tekanan terhadap pasar saham juga terlihat dari aktivitas investor asing. Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp1,27 triliun.
Arus dana asing menjadi salah satu indikator yang sering diperhatikan pelaku pasar karena perubahan posisi investor asing dapat memengaruhi likuiditas dan sentimen perdagangan saham.
Sepanjang 2026, investor asing tercatat telah membukukan akumulasi net sell sebesar Rp82,55 triliun. Besarnya nilai jual bersih tersebut menunjukkan arus keluar dana asing masih menjadi salah satu dinamika yang perlu diperhatikan investor di pasar saham Indonesia.
Investor Perlu Mencermati Pergerakan Pasar
Pelemahan IHSG sebesar 3,28 persen sepanjang pekan 28 September–2 Oktober 2026 menjadi perkembangan penting bagi investor. Penurunan indeks disertai koreksi kapitalisasi pasar, sementara volume dan nilai transaksi justru mengalami peningkatan.
Di sisi lain, investor asing mencatat net sell Rp1,27 triliun pada perdagangan Jumat dan secara kumulatif mencapai Rp82,55 triliun sepanjang 2026. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi investor dalam membaca kondisi pasar. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, kondisi fundamental aset, serta strategi masing-masing investor.
Pergerakan IHSG dalam pekan berikutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau pasar mulai menemukan momentum untuk kembali menguat.
