Suku Bunga Global Mulai Berseberangan, BI Rate Bakal Bertahan di 5,75%?

CuaninsightPeta kebijakan moneter global mulai berubah. Jika sebelumnya bank sentral cenderung bergerak dalam arah yang relatif beriringan, kini keputusan suku bunga semakin ditentukan oleh kondisi ekonomi masing-masing negara. Tekanan inflasi, harga energi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas mata uang membuat arah kebijakan moneter global semakin terfragmentasi.

Kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$108 per barel menjadi salah satu pemicu meningkatnya kembali risiko inflasi. Kondisi tersebut membuat sebagian bank sentral bersiap mengambil langkah lebih tegas, sementara bank sentral lain memilih menunggu data ekonomi sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.

Perbedaan tersebut menjadi penting bagi Indonesia karena ruang gerak Bank Indonesia (BI) ikut dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, terutama kebijakan bank sentral negara maju.

ECB Mulai Lebih Hawkish, BoJ Bersiap Mengikuti

Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) menjadi salah satu bank sentral yang mengambil langkah lebih tegas di tengah ancaman inflasi. Harga energi yang kembali meningkat membuat risiko tekanan harga menjadi perhatian utama.

Bank of Japan (BoJ) juga diproyeksikan mengikuti arah tersebut. Berdasarkan survei, sekitar 46% responden memperkirakan frekuensi kenaikan suku bunga BoJ dapat meningkat menjadi satu kali setiap kuartal.

Ekspektasi itu tidak terlepas dari meningkatnya tekanan harga di Jepang. Harga barang-barang korporasi pada Agustus tercatat meningkat 7,6%. Dengan tekanan tersebut, BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga hingga 1,25%.

Langkah tersebut akan menjadi kenaikan hawkish kedua setelah BoJ menaikkan suku bunga pada Juni ke sekitar 1%.

Kepala Ekonom Totan Research Institute Izuru Kato menilai BoJ berpotensi memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga dapat dilakukan dalam interval sekitar tiga bulan. Artinya, bank sentral Jepang tidak lagi harus menunggu terlalu lama jika inflasi kembali menunjukkan tekanan.

Dalam survei berbeda, sekitar 82% responden juga menilai pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi akan sulit menentang kenaikan suku bunga BoJ bulan ini setelah adanya intervensi yen yang dikoordinasikan Amerika Serikat dan Jepang.

The Fed Masih Menunggu Data Inflasi

Berbeda dengan ECB dan BoJ, Amerika Serikat masih memiliki ruang untuk mempertimbangkan arah kebijakan berikutnya. The Federal Reserve atau The Fed akan mencermati data inflasi konsumen sebelum mengambil keputusan.

Data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada Agustus memang menunjukkan kenaikan 0,4%. Namun, perhatian pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (CPI).

Bloomberg Economics memperkirakan CPI AS naik 0,39% pada Agustus, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,07% pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi diperkirakan tetap berada di 3,4%.

Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan turun menjadi 2,4% dari sebelumnya 2,5%. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi level terendah sejak Maret 2021.

Penurunan inflasi inti dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga, terutama apabila proses disinflasi terus berlanjut tanpa memberikan tekanan besar terhadap aktivitas ekonomi.

Ekonom Bloomberg Economics Anna Wong menilai pernyataan anggota Federal Open Market Committee (FOMC) masih dapat menjadi pegangan bahwa bank sentral Amerika bersedia mempertahankan suku bunga apabila tren penurunan inflasi tetap berlangsung.

BoE Pilih Bertahan hingga Akhir 2026

Bank of England (BoE) juga mengambil posisi yang relatif berbeda. Bank sentral Inggris diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2026 sebelum kembali menaikkannya pada Februari 2027.

Ekspektasi tersebut didukung oleh proyeksi inflasi Inggris yang mulai melandai. Inflasi diperkirakan turun ke 3,2% pada Juli dari 4% pada Mei.

Di sisi lain, perekonomian Inggris masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi domestik tercatat 0,4% pada Juli.

Ekonom Bloomberg Economics Matt Bunny dan Ana Andrade menilai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Inggris yang berada di atas perkiraan menunjukkan momentum ekonomi masih bertahan. Meski begitu, pasar tenaga kerja mulai mendingin dan pendapatan riil rumah tangga menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi.

Menurut Ekonom Bloomberg Intelligence Megan O’Neil, mayoritas anggota Komite Kebijakan Moneter BoE tampaknya menilai level suku bunga saat ini sudah cukup untuk mengatasi risiko inflasi yang berasal dari konflik di Timur Tengah.

BI Rate Punya Alasan untuk Bertahan

Fragmentasi kebijakan moneter global tersebut justru memberikan alasan bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru mengubah BI Rate.

Saat ini BI Rate berada di level 5,75%. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai tingkat tersebut masih relevan dan berpotensi dipertahankan hingga akhir 2026.

Dari sisi domestik, BI dinilai belum membutuhkan kenaikan suku bunga untuk menahan permintaan. Inflasi Indonesia pada Agustus memang meningkat dari 2,88% menjadi 3,19% secara tahunan, tetapi masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus-minus 1%.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi harga pangan dan dinilai masih memiliki unsur musiman. Dengan demikian, kondisi perekonomian Indonesia belum menunjukkan tanda overheating yang membutuhkan pengetatan moneter lebih agresif.

Di sisi lain, kondisi ekonomi juga belum memberikan alasan kuat bagi BI untuk segera memangkas suku bunga.

Ruang Pemangkasan BI Rate Makin Terbatas

Meski demikian, tantangan BI bukan hanya berasal dari inflasi domestik. Langkah hawkish bank sentral negara maju, khususnya ECB, dapat mempersempit ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran.

Josua menyoroti tekanan harga pada sisi produksi. Inflasi harga produsen dan harga perdagangan besar telah berada di atas inflasi konsumen. Kondisi ini membuka risiko bahwa kenaikan biaya produksi pada akhirnya diteruskan kepada konsumen. Artinya, BI perlu menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi tekanan inflasi dari sisi biaya.

Untuk rapat Dewan Gubernur pada 23 September mendatang, Josua memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

Tidak Perlu Ikut-ikutan Bank Sentral Global

Salah satu pertimbangan penting adalah perubahan struktur pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Saat ini pasar SBN jauh lebih banyak ditopang investor domestik dibandingkan sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat hubungan antara BI Rate dan imbal hasil SBN menjadi semakin penting. Bahkan, menurut Josua, pengaruh BI Rate terhadap yield SBN kini lebih kuat dibandingkan hubungan antara suku bunga Amerika Serikat dan imbal hasil SBN Indonesia.

Jika BI menaikkan suku bunga, dampaknya bukan hanya pada nilai tukar. Biaya penerbitan SBN, biaya dana perbankan, hingga bunga kredit juga berpotensi ikut meningkat.

Karena itu, kenaikan BI Rate tidak seharusnya menjadi respons otomatis setiap kali bank sentral negara maju memperketat kebijakan moneternya.

Bagi Indonesia, strategi yang lebih relevan adalah membaca kondisi domestik secara mandiri. Selama inflasi masih berada dalam target, permintaan belum berlebihan, dan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga, mempertahankan BI Rate 5,75% dapat menjadi pilihan yang lebih rasional.

Dengan kata lain, ketika arah suku bunga global semakin tidak seragam, independensi kebijakan moneter Indonesia justru semakin penting. BI memiliki ruang untuk menunggu data berikutnya sebelum menentukan apakah bunga perlu dinaikkan, dipertahankan, atau suatu saat kembali dipangkas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *