Saham BYAN Tertekan, Benarkah 62% Saham Ditawar Murah Haji Isam?

Cuaninsight – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tengah menjadi sorotan pasar modal setelah muncul kabar mengenai rencana pengambilalihan saham perusahaan oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Yang membuat pasar semakin ramai, nilai penawaran yang dikabarkan mencapai US$3 miliar untuk 62% saham BYAN disebut jauh berada di bawah harga pasar.

Berdasarkan laporan Bloomberg News, Haji Isam disebut menawarkan sekitar US$3 miliar secara tunai untuk mengambil alih 62% saham BYAN. Sejumlah sumber yang tidak disebutkan namanya menyebut pembayaran transaksi kemungkinan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus.

Apabila kesepakatan tersebut benar terealisasi dengan nilai seperti yang dikabarkan, harga penawaran itu setara dengan diskon sekitar 80% dibandingkan level pasar saham BYAN saat ini. Besarnya selisih tersebut langsung memunculkan pertanyaan mengenai valuasi dan kemungkinan perubahan pengendali perusahaan batu bara tersebut.

Saham BYAN Tertekan Dua Hari Berturut-turut

Rumor mengenai transaksi tersebut tampaknya ikut memengaruhi pergerakan saham BYAN di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan sebelumnya, saham BYAN merosot 675 poin atau 4,91% ke level Rp13.100 per saham. Tekanan berlanjut pada Jumat, 11 September 2026, ketika saham perseroan kembali terkoreksi sekitar 7% hingga menyentuh Rp12.150 per saham.

Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana isu aksi korporasi dalam skala besar dapat dengan cepat memengaruhi sentimen investor, terutama ketika menyangkut kemungkinan pergantian pemegang kendali perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar.

Valuasi BYAN Terlihat Premium

Di tengah tekanan harga saham, valuasi BYAN masih berada pada level premium jika dibandingkan rata-rata industri pertambangan batu bara.

Berdasarkan data Bloomberg, saham BYAN diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 9,44 kali dan Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 27,9 kali. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat sekitar Rp412 triliun.

Sebagai pembanding, rata-rata PBV industri pertambangan batu bara berada di kisaran 3,2 kali, sedangkan rata-rata PER industri sekitar 11,4 kali.

Artinya, dari perspektif valuasi relatif, BYAN masih dihargai jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata perusahaan dalam sektor yang sama.

Namun, valuasi premium tersebut juga perlu dilihat dari karakteristik bisnis dan ekspektasi pasar terhadap kinerja Bayan Resources. Harga saham yang tinggi tidak otomatis berarti perusahaan tidak menarik, tetapi investor perlu mempertimbangkan seberapa besar ekspektasi pertumbuhan yang sudah tercermin dalam harga.

Deretan Emiten Batu Bara dengan PBV Beragam

Perbedaan valuasi antar-emiten batu bara di BEI cukup lebar. Data Bloomberg menunjukkan beberapa perusahaan bahkan memiliki PBV jauh di atas BYAN, sementara sebagian lainnya justru diperdagangkan di bawah nilai bukunya.

Berikut gambaran PBV sejumlah emiten pertambangan batu bara:

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): 17,37 kali
PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT): 14,3 kali
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): 5,1 kali
PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS): 3,2 kali
PT Bumi Resources Tbk (BUMI): 2,7 kali
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): 2,3 kali
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): 1,5 kali
PT Bukit Asam Tbk (PTBA): 1,4 kali
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): 0,9 kali
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): 0,9 kali
PT Harum Energy Tbk (HRUM): 0,7 kali
PT Indika Energy Tbk (INDY): 0,7 kali
PT ABM Investama Tbk (ABMM): 0,5 kali

Dari daftar tersebut, BYAN memang berada di kelompok dengan valuasi premium, meski masih terdapat emiten lain seperti CUAN dan SMMT yang memiliki PBV lebih tinggi.

Siapa Pemilik Mayoritas Saham BYAN?

Struktur kepemilikan saham menjadi bagian penting dalam membaca rumor transaksi ini. Berdasarkan data Bloomberg per September, Low Tuck Kwong tercatat menguasai 40,25% saham BYAN atau sekitar 13,42 miliar saham.

Sementara itu, Elaine Low memiliki sekitar 22% saham atau 7,33 miliar saham. Kemudian PT Sumber Suryadaya Prima menguasai 10% saham atau sekitar 3,33 miliar saham.

Jika kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low digabungkan, porsinya mencapai sekitar 62,2% saham BYAN.

Angka tersebut nyaris identik dengan porsi 62% saham yang disebut-sebut akan dibeli oleh Haji Isam. Kesamaan ini menjadi salah satu alasan rumor pengambilalihan BYAN mendapat perhatian besar dari pelaku pasar.

Dengan komposisi tersebut, apabila transaksi benar-benar menyasar saham milik Low Tuck Kwong dan Elaine Low, maka Bayan Resources berpotensi mengalami perubahan pengendali.

Free Float dan Likuiditas Jadi Faktor Penting

Struktur saham BYAN juga memiliki karakteristik yang perlu diperhatikan investor. Porsi saham yang beredar di publik atau free float relatif terbatas, sementara aktivitas perdagangan saham tidak setebal emiten dengan kepemilikan publik yang lebih besar.

Kondisi tersebut dapat membuat harga saham lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah besar maupun perubahan sentimen pasar.

Jika saham mayoritas dilepas dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar, muncul pula pertanyaan mengenai bagaimana mekanisme transaksi tersebut akan memengaruhi persepsi investor terhadap valuasi BYAN.

Di sisi lain, harga penawaran dalam sebuah transaksi pengambilalihan tidak selalu dapat dibandingkan secara sederhana dengan harga saham di bursa. Struktur transaksi, skema pembayaran, hak pengendalian, kondisi aset, hingga kesepakatan antar-pemegang saham dapat memengaruhi nilai ekonominya.

Berpotensi Ganti Pengendali Sebelum Akhir 2026

Jika seluruh pihak mencapai kesepakatan atas persyaratan transaksi, proses pengambilalihan disebut berpotensi diselesaikan sebelum akhir tahun.

Sumber lain menyebut Haji Isam berkemungkinan memperoleh pendanaan dari sejumlah bank milik negara di Indonesia untuk mendukung transaksi tersebut. Namun, hingga tercapainya kesepakatan resmi, detail mengenai sumber pendanaan, harga final, struktur pembayaran, serta saham yang akan dialihkan masih menjadi bagian yang perlu dicermati.

Bagi investor, isu utama bukan hanya apakah Haji Isam benar-benar akan mengambil alih 62% saham BYAN, tetapi juga bagaimana perubahan pengendali nantinya memengaruhi strategi perusahaan, struktur kepemilikan, serta valuasi saham di pasar.

Dengan PBV 9,44 kali dan PER 27,9 kali, BYAN saat ini jelas membawa valuasi premium dibandingkan rata-rata sektor batu bara. Karena itu, perkembangan transaksi dan kejelasan harga akuisisi berpotensi menjadi katalis penting bagi arah saham BYAN berikutnya.

Untuk sementara, pasar masih menunggu kepastian. Rumor penawaran US$3 miliar memang telah mengguncang harga saham, tetapi keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, fundamental perusahaan, struktur transaksi, dan informasi resmi yang disampaikan kepada publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *