Ekonom Sebut Narasi Rupiah Lemah Untungkan Ekspor, Itu Keliru!
Cuaninsight – Perdebatan mengenai pelemahan nilai tukar rupiah kembali ramai di media sosial. Sejumlah influencer dan pelaku pasar bahkan menyebut kurs rupiah yang melemah terhadap dolar AS dapat memberikan dampak positif karena berpotensi meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
Namun pandangan tersebut mendapat kritik dari Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Ia menilai narasi yang menyederhanakan pelemahan rupiah sebagai kabar baik bagi ekonomi nasional justru berisiko menyesatkan masyarakat.
Menurut Josua, dampak pergerakan nilai tukar jauh lebih kompleks dibanding sekadar keuntungan bagi eksportir.
Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Menguntungkan Ekonomi
Dalam pandangan Josua, ada kesalahan besar ketika pelemahan rupiah dianggap otomatis mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ekspor.
Secara teori, mata uang yang melemah memang bisa membuat produk ekspor lebih kompetitif di pasar global karena harga menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Namun kondisi tersebut tidak bisa diterapkan secara sederhana pada struktur ekonomi Indonesia saat ini. Ia menegaskan bahwa manfaat pelemahan rupiah hanya dirasakan sebagian sektor tertentu, terutama pelaku usaha berbasis ekspor komoditas yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS.
Sebaliknya, banyak sektor lain justru menghadapi tekanan lebih besar.
Menurut Josua, anggapan bahwa rupiah lemah selalu baik untuk ekonomi nasional merupakan kesimpulan yang keliru jika melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Industri Manufaktur Berpotensi Jadi Korban
Salah satu sektor yang dinilai paling rentan terdampak pelemahan rupiah adalah industri manufaktur. Penyebab utamanya karena sebagian besar industri nasional masih bergantung pada impor bahan baku, mesin produksi, maupun barang modal dari luar negeri.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor otomatis meningkat.
Akibatnya, perusahaan dapat menghadapi:
Kenaikan biaya produksi
Margin keuntungan yang menyusut
Potensi kenaikan harga produk akhir
Tekanan terhadap ekspansi bisnis
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa memengaruhi daya saing industri domestik. Josua menilai manfaat pelemahan kurs bagi eksportir komoditas tidak cukup untuk menutupi risiko yang dihadapi sektor manufaktur yang lebih luas.

Ekspor Komoditas Bisa Untung, Tapi Tak Berlaku untuk Semua
Ekonom mengakui ada kelompok usaha yang memperoleh keuntungan dari depresiasi rupiah. Perusahaan berbasis ekspor komoditas seperti batu bara, minyak sawit, atau sektor lain dengan pendapatan dolar dapat menikmati peningkatan penerimaan ketika dikonversi ke rupiah.
Namun keuntungan tersebut bersifat sektoral. Karena itu, menurut Josua, masyarakat perlu berhati-hati menerima narasi ekonomi di media sosial yang terlalu menyederhanakan hubungan antara kurs rupiah dan pertumbuhan ekonomi.
Setiap perubahan nilai tukar memiliki konsekuensi berbeda bagi masing-masing industri.
Dunia Usaha Lebih Membutuhkan Rupiah Stabil
Alih-alih rupiah terus melemah atau menguat tajam, Josua menyebut pelaku usaha justru lebih membutuhkan nilai tukar yang stabil dan mudah diprediksi. Stabilitas kurs penting untuk perencanaan bisnis, terutama bagi perusahaan yang telah menyusun kontrak impor maupun ekspor beberapa bulan ke depan.
Dalam praktiknya, banyak perusahaan membuat perencanaan pembelian bahan baku hingga tiga sampai enam bulan sebelumnya.
Jika nilai tukar terlalu berfluktuasi, maka:
Perhitungan biaya produksi menjadi sulit
Risiko bisnis meningkat
Perencanaan investasi terganggu
Ketidakpastian usaha bertambah besar
Karena itu, stabilitas rupiah dianggap lebih penting dibanding perdebatan apakah rupiah kuat atau lemah.
Peran Bank Indonesia Fokus pada Stabilitas
Josua juga menekankan tugas utama Bank Indonesia bukan mendorong rupiah ke level tertentu, melainkan menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap mendukung aktivitas ekonomi.
Nilai tukar yang stabil dinilai membantu menciptakan iklim investasi yang lebih sehat sekaligus memberi kepastian bagi dunia usaha. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, stabilitas kurs menjadi faktor penting menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Masyarakat Perlu Lebih Kritis Menyerap Informasi Ekonomi
Ramainya opini ekonomi di media sosial menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap isu finansial. Namun, informasi terkait nilai tukar, inflasi, hingga kebijakan moneter perlu dipahami secara menyeluruh.
Pandangan bahwa “rupiah lemah selalu bagus untuk ekspor” atau “rupiah kuat selalu buruk bagi ekonomi” dinilai terlalu sederhana untuk menggambarkan kondisi ekonomi modern.
Karena itu, masyarakat disarankan melihat dampak kebijakan ekonomi dari berbagai sisi, termasuk pengaruhnya terhadap industri, investasi, hingga daya beli. Di tengah tekanan global, yang paling dibutuhkan pelaku usaha dan investor bukan sekadar rupiah kuat, melainkan rupiah yang stabil.

