Djarum Masuk Bisnis Susu, Bangun Peternakan Raksasa dengan 36 Ribu Sapi Perah
Cuaninsight – Grup Djarum memperluas portofolio bisnisnya dengan masuk ke industri susu nasional. Langkah besar ini diwujudkan melalui pembangunan peternakan sapi perah berskala besar di wilayah Brebes, Jawa Tengah.
Ekspansi tersebut dilakukan di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor susu. Saat ini, sekitar 80% kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari luar negeri, sementara produksi susu segar dalam negeri belum mampu mengimbangi permintaan pasar yang terus meningkat.
Investasi ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan konsumsi susu masyarakat Indonesia.
Djarum Bidik Industri Susu yang Masih Bergantung pada Impor
CEO Savoria Group, Ihsan Mulia Putri, menjelaskan kebutuhan susu di Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun. Namun, pasokan domestik masih tertinggal sehingga impor menjadi solusi utama memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain persoalan pasokan, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia juga dinilai masih rendah dibanding sejumlah negara lain.
Karena itu, investasi di sektor peternakan sapi perah dipandang memiliki potensi besar, baik dari sisi bisnis maupun kontribusi terhadap kebutuhan gizi nasional.
Menurut Ihsan, pembangunan peternakan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan produksi susu dan daging nasional.
Bangun Peternakan Modern dengan Sistem Terintegrasi
Dalam proyek ini, Grup Djarum menerapkan konsep pengelolaan terintegrasi dari hulu hingga hilir (farm to factory). Model tersebut dirancang agar kualitas susu tetap terjaga mulai dari proses peternakan hingga distribusi ke konsumen akhir.

Pendekatan terintegrasi juga memungkinkan efisiensi produksi yang lebih tinggi serta standar kualitas susu yang lebih konsisten.
Melalui strategi tersebut, perusahaan berharap mampu:
Mengurangi ketergantungan impor susu
Meningkatkan pasokan susu segar lokal
Mendorong konsumsi susu masyarakat
Mendukung program peningkatan gizi nasional
Mengapa Brebes Dipilih Jadi Lokasi Proyek?
Brebes dipilih sebagai pusat pengembangan karena memiliki sejumlah keunggulan strategis.

Wilayah ini dinilai dekat dengan sumber bahan baku pakan ternak, khususnya jagung. Selain itu, akses menuju pasar susu terbesar di Indonesia, yakni kawasan Jabodetabek, juga relatif lebih mudah.
Faktor sosial juga menjadi pertimbangan. Mayoritas masyarakat Brebes bekerja di sektor pertanian sehingga dianggap mendukung pengembangan ekosistem peternakan modern berbasis agribisnis.
Dengan kombinasi faktor geografis dan sumber daya manusia, Brebes diharapkan tumbuh menjadi pusat industri susu baru di Indonesia.
Target 36 Ribu Sapi Perah, Kontribusi 18% Kebutuhan Nasional
Melalui dua entitas usaha, yakni PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama, Grup Djarum menargetkan populasi peternakan mencapai 36.000 ekor sapi perah dalam beberapa tahun ke depan.
Saat beroperasi penuh, proyek ini diperkirakan mampu menyumbang sekitar 18% target produksi susu segar nasional.
Angka tersebut cukup signifikan mengingat produksi susu lokal selama ini masih jauh dari kebutuhan pasar domestik.
Ekspansi ke industri susu juga disebut akan terhubung dengan lini FMCG (Fast Moving Consumer Goods) milik Grup Djarum yang sebelumnya telah memiliki berbagai produk makanan dan minuman.
Libatkan Ribuan Petani dan Peternak Lokal
Dampak proyek ini tidak hanya berfokus pada bisnis, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Grup Djarum menyatakan akan menggandeng petani dan peternak lokal melalui skema kemitraan, terutama untuk penyediaan pakan dan kebutuhan pendukung lainnya.
Program tersebut diperkirakan melibatkan:
Lebih dari 5.000 petani lokal
Sekitar 8.000 peternak lokal
Ribuan tenaga kerja baru di sekitar proyek
Kemitraan ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Industri Susu Indonesia Dinilai Masih Sangat Menjanjikan
Prospek bisnis susu domestik dipandang masih terbuka lebar. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi meningkat, ditambah berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan produk susu.
Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti:
Harga pakan ternak yang fluktuatif
Ancaman penyakit hewan seperti PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD)
Keterbatasan bibit unggul
Kebutuhan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas
Karena itu, investasi jangka panjang dan penerapan teknologi menjadi faktor penting agar industri susu nasional dapat berkembang lebih cepat.
Langkah Grup Djarum masuk ke bisnis susu menunjukkan perubahan strategi perusahaan menuju sektor pangan dan agribisnis. Jika target produksi tercapai, proyek ini berpotensi menjadi salah satu investasi terbesar yang ikut mengubah peta industri susu Indonesia di masa

