Astra International Tebar Dividen Rp15,67 Triliun, Resmi Tunjuk Presdir Baru
Cuaninsight – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Astra International (ASII) menghasilkan dua keputusan penting: pembagian dividen jumbo serta penunjukan Presiden Direktur (Presdir) baru.
Perusahaan menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp15,67 triliun atau setara Rp390 per saham untuk tahun buku 2025. Selain itu, RUPST juga menetapkan Rudy sebagai Presiden Direktur yang baru untuk memimpin perusahaan ke depan.
Rincian Dividen dan Jadwal Pembayaran
Dividen yang dibagikan terdiri dari dua komponen, yaitu dividen interim sebesar Rp98 per saham (Rp3,97 triliun) yang telah dibayarkan pada Oktober 2025, serta dividen final sebesar Rp292 per saham yang akan dibayarkan pada 25 Mei 2026.
Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menjelaskan bahwa dividen ini akan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 6 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Total dividen tersebut mencerminkan sekitar 50% dari laba bersih konsolidasian Astra tahun buku 2025 yang mencapai Rp32,77 triliun. Sementara itu, sisa laba akan dicatat sebagai laba ditahan guna mendukung ekspansi bisnis perusahaan.
Capex Naik, Astra Siapkan Investasi Rp36 Triliun
Selain pembagian dividen, Astra juga mengumumkan rencana peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi sekitar Rp36 triliun pada 2026. Angka ini naik sekitar 10% dibandingkan realisasi capex tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp32 triliun.
Direktur Astra, Hsu Hai Yeh, menyampaikan bahwa sebagian anggaran tersebut akan dialokasikan untuk akuisisi strategis. Namun, fokus investasi yang lebih detail masih menunggu hasil kajian strategis yang sedang dilakukan perusahaan.
Strategi Bisnis: Perkuat Core dan Kembangkan Pilar Baru
Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, Astra tengah melakukan peninjauan ulang terhadap seluruh portofolio bisnisnya. Strategi ke depan akan menggabungkan penguatan bisnis inti dengan ekspansi ke sektor baru.
Tujuh lini bisnis utama Astra meliputi:
Otomotif dan mobilitas
Jasa keuangan
Alat berat dan pertambangan
Energi dan konstruksi
Agribisnis
Teknologi informasi
Infrastruktur dan properti
Di luar itu, Astra juga mengembangkan tiga pilar baru yang dinilai prospektif, yakni infrastruktur, kesehatan, dan mineral.
Peran Anak Usaha dan Diversifikasi Mineral
Langkah diversifikasi juga dilakukan oleh anak usaha Astra, yakni United Tractors (UNTR). Perusahaan ini telah memperluas bisnisnya ke sektor mineral seperti emas dan nikel melalui sejumlah aksi akuisisi.
Ke depan, UNTR disebut masih akan mengeksplorasi peluang di komoditas lain, termasuk tembaga yang dinilai memiliki prospek kuat dan keterkaitan dengan komoditas yang sudah digarap sebelumnya.
Buyback dan Kebijakan Laba Ditahan
Astra juga masih menjalankan program pembelian kembali saham (buyback), sehingga jumlah final dividen yang dibagikan dapat menyesuaikan dengan jumlah saham yang beredar pada tanggal pencatatan.
Setelah pembagian dividen, sisa laba bersih minimal Rp17,09 triliun akan dicatat sebagai laba ditahan. Dana ini akan menjadi modal penting bagi Astra untuk mendukung ekspansi dan menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian pasar.

