Steam Jadi Mesin Uang Valve, Sukses Raup Rp180 Triliun dalam Enam Bulan
Cuan Insight– Steam kembali membuktikan posisinya sebagai platform distribusi game PC terbesar di dunia. Berdasarkan estimasi terbaru dari firma riset Alinea Analytics, platform milik Valve tersebut berhasil membukukan pendapatan kotor sekitar US$11,1 miliar atau setara Rp180 triliun hanya dalam enam bulan pertama tahun 2026.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa bisnis distribusi game digital masih tumbuh sangat kuat. Bahkan, pendapatan Steam selama semester pertama 2026 hampir menyamai total pemasukan yang diperoleh sepanjang tahun 2021, ketika industri game menikmati lonjakan besar akibat pandemi COVID-19.
Meski Valve sebagai perusahaan privat tidak pernah mempublikasikan laporan keuangannya secara resmi, data estimasi ini memberikan gambaran mengenai besarnya skala bisnis Steam yang hingga kini masih menjadi pilihan utama jutaan gamer dan pengembang game di seluruh dunia.
Pendapatan Steam Hampir Menyamai Rekor Saat Pandemi
Menurut laporan Alinea Analytics, Steam diperkirakan menghasilkan pendapatan kotor sebesar US$11,1 miliar selama Januari hingga Juni 2026. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2021 Steam diperkirakan memperoleh sekitar US$11,4 miliar dalam satu tahun penuh.
Artinya, hanya dalam waktu enam bulan, platform tersebut hampir menyamai pencapaian terbaiknya saat industri game mengalami lonjakan permintaan selama masa pandemi. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa pasar distribusi game digital tetap berkembang meskipun industri game global sempat mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.
Steam juga terus diuntungkan oleh basis pengguna yang besar, katalog game yang sangat lengkap, serta berbagai fitur komunitas yang membuat pemain tetap aktif di dalam ekosistemnya.
Game Lama Masih Menjadi Penyumbang Pendapatan Terbesar
Menariknya, sebagian besar pemasukan Steam ternyata bukan berasal dari game baru yang dirilis sepanjang 2026. Laporan tersebut menyebutkan hanya sekitar 21 persen pendapatan berasal dari judul-judul yang meluncur tahun ini. Sebaliknya, hampir 80 persen pendapatan justru disumbangkan oleh katalog game lama yang masih memiliki komunitas aktif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa umur komersial sebuah game kini jauh lebih panjang dibanding era distribusi fisik. Kehadiran pembaruan konten, ekspansi, event musiman, hingga potongan harga besar saat Steam Sale membuat banyak game tetap diminati meski telah berusia beberapa tahun. Strategi tersebut juga menguntungkan pengembang karena mereka masih bisa memperoleh pendapatan stabil tanpa harus terus merilis game baru.

Forza Horizon 6 Pimpin Daftar Game Terlaris
Meski game lama masih mendominasi pemasukan secara keseluruhan, beberapa judul baru tetap mencatat performa yang sangat impresif. Dalam daftar game dengan pendapatan terbesar pada semester pertama 2026, Forza Horizon 6 berada di posisi teratas dengan estimasi pendapatan sekitar US$197,7 juta. Di belakangnya terdapat Resident Evil Requiem yang membukukan sekitar US$194,5 juta, disusul Crimson Desert dengan pendapatan sekitar US$190,1 juta.
Keberhasilan ketiga game tersebut menunjukkan bahwa rilisan AAA berkualitas masih mampu menarik perhatian gamer global, terutama ketika dipasarkan melalui Steam.
Pasar Asia Jadi Motor Pertumbuhan Steam
Alinea Analytics juga menyoroti pertumbuhan jumlah pengguna aktif di kawasan Asia sebagai salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan pendapatan Steam. China masih menjadi pasar PC gaming terbesar di dunia, sementara sejumlah negara Asia lainnya terus menunjukkan peningkatan jumlah pemain serta transaksi digital.
Pertumbuhan ini membuat Steam semakin memperkuat posisinya sebagai platform distribusi utama bagi pengembang game internasional. Selain itu, semakin banyak publisher yang kembali memilih Steam sebagai kanal distribusi utama setelah sebelumnya mencoba membangun launcher atau toko digital sendiri.
Valve Masih Sulit Ditandingi Kompetitor
Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan mencoba mengurangi ketergantungan terhadap Steam dengan menghadirkan platform distribusi mandiri. Namun, banyak di antaranya kesulitan membangun basis pengguna sebesar Steam.
Sementara itu, kompetitor seperti Epic Games Store masih mengandalkan strategi pembagian game gratis untuk menarik pemain baru dan mempertahankan aktivitas pengguna.
Meski persaingan semakin ketat, Steam tetap unggul berkat koleksi game yang sangat lengkap, fitur komunitas yang matang, sistem ulasan pengguna, hingga berbagai event diskon besar yang rutin digelar sepanjang tahun.
Dengan pendapatan fantastis yang hampir menyamai rekor tahunan hanya dalam enam bulan, Steam kembali membuktikan bahwa posisinya sebagai raja distribusi game PC masih sangat sulit digoyang. Jika tren ini terus berlanjut, Valve berpotensi mencatatkan rekor pendapatan baru pada akhir 2026 sekaligus memperkuat dominasinya di industri game digital global.

