IHSG Ambles 3,05% ke Level 5.643, Simak Prediksi Support dan Sentimen Pasar 1 Juli 2026
Cuan Insight– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (30/6/2026) dengan pelemahan tajam. Indeks terkoreksi 177,59 poin atau 3,05 persen sehingga berakhir di level 5.643,19 setelah sepanjang hari berada di bawah tekanan jual yang cukup besar.
Koreksi ini menjadi salah satu penurunan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir. Seluruh sektor saham bergerak di zona merah, menandakan tekanan jual terjadi secara luas di pasar. Pelaku pasar masih dibayangi ketidakpastian global serta sejumlah sentimen domestik yang membuat investor memilih bersikap lebih hati-hati.
Seluruh Sektor Kompak Melemah
Tekanan paling besar datang dari sektor barang baku (basic materials) yang terjun hingga 5,54 persen. Pelemahan tersebut kemudian diikuti sektor energi yang turun 3,51 persen dan sektor barang konsumen siklikal yang terkoreksi 2,79 persen.
Data perdagangan juga menunjukkan dominasi saham yang melemah. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 564 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 136 saham yang berhasil menguat dan 99 saham bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap tergolong tinggi dengan volume perdagangan mencapai 21,87 miliar saham. Nilai transaksi sepanjang hari tercatat sebesar Rp14,85 triliun.
Saham yang Masih Menguat di Tengah Tekanan Pasar
Meski mayoritas saham melemah, beberapa emiten masih mampu mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan.
Top gainers dari kelompok saham unggulan antara lain:
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) naik 9,68 persen.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menguat 7,14 persen.
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) bertambah 2,88 persen.
Di sisi lain, saham-saham yang mengalami tekanan terbesar dalam kelompok LQ45 adalah:
PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) turun 9,65 persen.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 8,54 persen.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terkoreksi 7,98 persen.
Selain saham-saham unggulan tersebut, beberapa emiten di luar indeks utama juga mencatatkan kenaikan signifikan seperti PEGE, AYLS, BOBA, ESTA, dan ELPI. Sebaliknya, saham SAME, MMIX, EPAC, PANS, serta TALF menjadi kelompok yang mengalami penurunan paling dalam.
Sentimen Global Masih Menekan IHSG
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pelemahan IHSG masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Menurutnya, investor global masih menunggu kepastian dari sejumlah perkembangan internasional. Bursa saham Asia sendiri bergerak bervariasi (mixed) seiring pasar memantau perkembangan dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Walaupun pasar mulai memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga tahun ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan langkah tersebut baru akan direalisasikan pada September 2026.
Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Rupiah dan Data Ekonomi Domestik Jadi Perhatian
Dari sisi domestik, pelemahan IHSG juga dipicu oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat.
Depresiasi rupiah dinilai mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek kebijakan moneter global yang masih ketat. Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah belum sepenuhnya mampu mengangkat optimisme investor.
Pasar juga sedang menunggu sejumlah indikator ekonomi penting dari dalam negeri. Data inflasi, neraca perdagangan, hingga aktivitas manufaktur akan menjadi acuan investor dalam menilai kondisi ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun 2026.
Prediksi IHSG Rabu (1/7): Waspadai Area Support
Untuk perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, Nico memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan fase koreksi.
Ia memproyeksikan pergerakan indeks berada dalam rentang support dan resistance di kisaran 5.520 hingga 5.740. Area 5.520 diperkirakan menjadi level support penting yang akan diuji apabila tekanan jual masih berlanjut.
Sementara itu, dari faktor eksternal, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk Conference Board Consumer Confidence, Present Situation Index, dan JOLTS Job Openings. Hasil dari data-data tersebut diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Jika data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang masih kuat, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama dapat kembali memberikan tekanan terhadap pasar saham global, termasuk IHSG.
Bagi investor, kondisi pasar yang masih volatil membuat strategi selektif menjadi pilihan utama. Saham dengan fundamental kuat dan prospek bisnis yang solid diperkirakan tetap memiliki peluang bertahan lebih baik dibanding saham yang sensitif terhadap sentimen jangka pendek.

