Anindya Bakrie di Beijing: Tegaskan Komitmen Kadin Jaga Hubungan Strategis Indonesia-China
Cuaninsight – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan komitmennya untuk terus menjaga dan memperkuat hubungan ekonomi yang telah terjalin antara Indonesia dan China. Komitmen tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Beijing dalam rangka menghadiri sejumlah agenda ekonomi dan bisnis internasional.
Menurut Anindya, China saat ini merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Kadin Indonesia memandang penting untuk terus membangun komunikasi serta memperluas kerja sama dengan pemerintah maupun pelaku usaha di Negeri Tirai Bambu.
China Masih Menjadi Mitra Dagang Utama Indonesia
Dalam keterangannya di Beijing, Anindya mengungkapkan bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dan China pada tahun lalu mencapai sekitar 168 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan ekonomi kedua negara.
Ia optimistis nilai perdagangan bilateral akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu mitra dagang terbesar China jika tren pertumbuhan ekonomi dan kerja sama yang ada saat ini terus berlanjut.
BACA JUGA: Purbaya Promosikan Panda Bond Tarik Minat Investor China
Saat ini, sekitar seperempat total ekspor Indonesia ditujukan ke pasar China. Sementara itu, hampir sepertiga barang impor Indonesia berasal dari negara tersebut. Kondisi ini menunjukkan hubungan ekonomi yang saling melengkapi antara kedua negara.
Kadin Dorong Kolaborasi yang Menciptakan Nilai Tambah
Anindya menekankan bahwa tujuan kunjungannya ke China bukan sekadar meningkatkan angka perdagangan. Kadin ingin mendorong terciptanya nilai tambah melalui berbagai bentuk kolaborasi strategis.
Menurutnya, kerja sama yang berkelanjutan harus dibangun melalui kepercayaan dan inovasi bersama. Di tengah berbagai tantangan geopolitik global, komunikasi yang intensif antara dunia usaha Indonesia dan China menjadi semakin penting.
Melalui dialog yang terbuka, kedua negara diharapkan dapat menciptakan peluang bisnis baru yang tidak hanya menguntungkan pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing global.

Kendaraan Listrik dan Hilirisasi Jadi Fokus Utama
Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama Kadin adalah industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Namun, fokus kerja sama tidak hanya terbatas pada perdagangan kendaraan listrik semata.
Anindya menjelaskan bahwa Indonesia ingin terlibat dalam seluruh rantai pasok industri EV, mulai dari pengolahan bahan baku, produksi baterai, hingga pengembangan merek kendaraan listrik sendiri.
Langkah tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi mineral yang tengah didorong pemerintah. Dengan dukungan teknologi, pengalaman, dan modal dari China, Indonesia berpeluang memperkuat posisi sebagai pemain penting dalam industri kendaraan listrik global.
Energi Terbarukan dan AI Jadi Peluang Masa Depan
Selain kendaraan listrik, sektor energi terbarukan juga menjadi fokus utama pembahasan Kadin dengan mitra-mitra China. Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung percepatan industrialisasi nasional sekaligus transisi menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pusat data, dan infrastruktur digital juga menjadi perhatian khusus. Menurut Anindya, China saat ini merupakan salah satu negara terdepan dalam pengembangan teknologi AI.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pusat data, tetapi juga kapasitas komputasi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital yang terus berkembang pesat. Dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar, Indonesia memiliki potensi menjadi salah satu pusat ekonomi digital terbesar di kawasan.
UMKM Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Kadin juga menempatkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai prioritas dalam kerja sama ekonomi dengan China. Anindya menyebut UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia karena menyerap puluhan juta tenaga kerja dan berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Karena itu, integrasi UMKM ke dalam rantai pasok global menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Dengan dukungan investasi dan teknologi, UMKM Indonesia diharapkan mampu berkembang lebih cepat dan berkontribusi terhadap target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Investasi China Terus Mengalir ke Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, mengungkapkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara terus menunjukkan tren positif.
Nilai perdagangan Indonesia-China pada 2025 tercatat mencapai sekitar 167,48 miliar dolar AS. Jika digabungkan dengan perdagangan Indonesia-Hong Kong, total nilainya mencapai sekitar 173 miliar dolar AS.
Sementara itu, investasi langsung dari China ke Indonesia mencapai sekitar 7,58 miliar dolar AS. Jika ditambah investasi dari Hong Kong yang mencapai 10,1 miliar dolar AS, total investasi mencapai sekitar 18 miliar dolar AS, menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.
Dengan hubungan perdagangan dan investasi yang terus berkembang, komitmen Kadin untuk menjaga relasi strategis dengan China diyakini dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, serta percepatan transformasi industri Indonesia di masa depan.

