Laba Fintech Lending Melonjak 71%, AFPI Ungkap Rahasia Pertumbuhan Industri
Cuaninsight – Industri fintech peer-to-peer (P2P) lending atau fintech lending mencatat kinerja positif sepanjang awal tahun 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba industri melonjak 71,43% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp960 miliar hingga April 2026.
Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa industri pembiayaan digital mulai menunjukkan fondasi bisnis yang semakin kuat, baik dari sisi pengelolaan risiko maupun kualitas penyaluran pembiayaan.
Di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika pasar keuangan, pertumbuhan laba ini juga mencerminkan kemampuan pelaku industri dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas portofolio pembiayaan.
AFPI: Penguatan Manajemen Risiko Jadi Faktor Utama
Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Entjik Djafar, menilai lonjakan laba industri merupakan hasil dari strategi pengelolaan bisnis yang semakin matang.
Menurutnya, pelaku fintech lending kini lebih fokus pada penguatan manajemen risiko, penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran dana, serta peningkatan tata kelola perusahaan.
Selain mengejar pertumbuhan, industri juga berupaya menciptakan ekosistem yang lebih sehat melalui perlindungan konsumen yang lebih baik dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
AFPI melihat momentum ini sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan industri yang lebih berkualitas dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Fokus Menjaga Kualitas Pembiayaan
Meski kinerja industri menunjukkan tren positif, AFPI menegaskan bahwa kualitas pembiayaan tetap menjadi prioritas utama.
Ke depan, asosiasi akan terus mendorong para penyelenggara fintech lending untuk menjaga kualitas portofolio pinjaman agar tetap sehat. Langkah ini penting guna memastikan stabilitas industri dan menghindari lonjakan risiko kredit bermasalah.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah tingkat wanprestasi pembiayaan atau TWP90, yang mencerminkan kualitas pengembalian pinjaman oleh para peminjam.
AFPI juga mengimbau seluruh platform anggota untuk memperkuat sistem credit scoring agar penyaluran pembiayaan lebih tepat sasaran dan risiko gagal bayar dapat diminimalkan.
Selain itu, edukasi keuangan kepada masyarakat dinilai tetap menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan industri yang sehat.
Tantangan Ekonomi dan Geopolitik Masih Membayangi
Walaupun prospek industri terlihat menjanjikan, pelaku fintech lending tetap menghadapi sejumlah tantangan hingga akhir tahun.
Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik, serta perubahan kondisi pasar keuangan internasional masih berpotensi memengaruhi kemampuan bayar masyarakat dan kinerja sektor pembiayaan.
Karena itu, AFPI menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan regulasi dan kondisi ekonomi yang terus berubah.
Dengan pengelolaan risiko yang tepat, industri diyakini mampu menjaga pertumbuhan sekaligus mempertahankan profitabilitas yang berkelanjutan.
Strategi Pelaku Industri Tingkatkan Profitabilitas
Dari sisi perusahaan, sejumlah penyelenggara fintech lending juga terus melakukan berbagai strategi untuk meningkatkan laba.
Salah satunya dilakukan oleh PT Sahabat Mikro Fintek yang mengaku masih mampu menjaga profitabilitas di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Direktur Utama Samir, Handy Juniandri, mengatakan pertumbuhan pembiayaan menjadi sumber utama peningkatan pendapatan perusahaan.
Untuk memperkuat bisnis, perusahaan terus memperluas jaringan pemberi dana (lender), termasuk menjalin kerja sama dengan sektor perbankan guna memastikan ketersediaan sumber pendanaan bagi para peminjam.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan proses seleksi peminjam yang lebih ketat agar pembiayaan diberikan kepada nasabah yang memiliki kemampuan dan kemauan membayar yang baik.
Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam menjaga kualitas pembiayaan sekaligus mendukung peningkatan laba perusahaan.
OJK Soroti Peran Outstanding Pembiayaan
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba industri tidak terlepas dari meningkatnya outstanding pembiayaan.
Selain volume pembiayaan yang tumbuh, kemampuan perusahaan dalam menjaga kualitas portofolio pinjaman juga menjadi faktor penting yang mendukung peningkatan profitabilitas.
OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp102,07 triliun per April 2026. Angka tersebut tumbuh 26,11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap layanan pembiayaan digital masih cukup tinggi di berbagai segmen masyarakat dan pelaku usaha.
Prospek Industri Fintech Lending Masih Menjanjikan
Meningkatnya laba industri hingga hampir Rp1 triliun menjadi indikator bahwa sektor fintech lending terus berkembang dan semakin matang.
Perbaikan tata kelola, penguatan manajemen risiko, serta peningkatan kualitas pembiayaan menjadi faktor penting yang menopang pertumbuhan tersebut.
Meski berbagai tantangan masih mengintai, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga risiko kredit, industri diyakini memiliki peluang besar untuk terus bertumbuh.
Dengan outstanding pembiayaan yang telah melampaui Rp102 triliun dan dukungan regulasi yang semakin kuat, fintech lending berpotensi memainkan peran yang semakin penting dalam memperluas akses pembiayaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa depan.

