Proyek Gas Raksasa Rp211 Triliun North Hub Dimulai, Dongkrak Ketahanan Energi Nasional
Cuan Insight– Indonesia kembali mencatat langkah penting dalam pengembangan sektor energi. SKK Migas bersama konsorsium Searah yang terdiri dari Eni Indonesia dan Petronas resmi memulai pembangunan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari, yang menjadi bagian utama dari North Hub Development Project di Selat Makassar.
Dimulainya pembangunan ditandai dengan prosesi First Steel Cutting atau pemotongan baja perdana. Tahapan ini menjadi sinyal bahwa proyek telah memasuki fase konstruksi setelah melewati proses perencanaan teknis, studi kelayakan, hingga keputusan investasi.
Dengan nilai investasi mencapai US$11,8 miliar, proyek ini menjadi salah satu pengembangan migas terbesar yang sedang berlangsung di Indonesia. Dari total investasi tersebut, sekitar US$2,9 miliar dialokasikan khusus untuk pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari sebagai fasilitas produksi utama.
North Hub Ditargetkan Jadi Penopang Produksi Migas Nasional
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa North Hub memiliki peran strategis dalam mendukung target produksi energi nasional pada 2030. Pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari serta produksi gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari. Kehadiran North Hub diharapkan menjadi salah satu proyek utama yang menopang pencapaian sasaran tersebut.
Menurutnya, dimulainya konstruksi FPSO menjadi tonggak penting karena menunjukkan kesiapan proyek untuk memasuki tahap pembangunan secara penuh.
![]()
Proyek Laut Ultra-Dalam Pertama di Indonesia
North Hub Development Project mengintegrasikan pengembangan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem yang berada di kawasan laut dalam Cekungan Kutai, Selat Makassar.
Yang membuat proyek ini berbeda adalah lokasinya yang berada di wilayah ultra-deepwater dengan kedalaman lebih dari 2.000 meter, menjadikannya proyek produksi migas pertama di Indonesia yang dikembangkan pada kedalaman ekstrem tersebut.
Saat mulai beroperasi pada kuartal IV 2028, fasilitas ini ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 1.000 MMSCFD gas dan sekitar 80.000 barel kondensat per hari.
Produksi tersebut diharapkan memperkuat pasokan energi nasional sekaligus meningkatkan ketahanan energi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.
Investasi Besar Sekaligus Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Selain memperbesar kapasitas produksi migas, proyek North Hub juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas.Pemerintah memperkirakan pembangunan proyek ini akan menciptakan lebih dari 8.000 lapangan pekerjaan selama masa konstruksi hingga operasional.
Tidak hanya itu, proyek ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan industri pendukung, khususnya sektor fabrikasi lepas pantai, jasa teknik, logistik, hingga rantai pasok dalam negeri.
Besarnya nilai investasi juga menunjukkan bahwa sektor hulu migas Indonesia masih memiliki daya tarik tinggi di mata investor global.
Cuan Insight
Bagi pelaku pasar maupun investor, dimulainya pembangunan North Hub memberikan sejumlah sinyal positif terhadap prospek industri energi nasional. Pertama, investasi jumbo bernilai lebih dari US$11 miliar mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap potensi migas Indonesia.
Kedua, proyek berskala besar seperti North Hub biasanya menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor, mulai dari konstruksi, manufaktur, perkapalan, logistik, hingga penyedia jasa penunjang migas.
Ketiga, peningkatan produksi gas domestik berpotensi memperkuat pasokan energi untuk industri nasional sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi dalam jangka panjang.
Bagi emiten yang bergerak di sektor energi, konstruksi, maupun jasa penunjang migas, proyek seperti North Hub dapat menjadi sumber kontrak baru yang mendukung pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun ke depan.
Proyek Berjalan Cepat Menuju Target Produksi 2028
Perjalanan North Hub berlangsung relatif cepat dibandingkan proyek migas besar lainnya. Persetujuan Plan of Development (POD) diperoleh pada Agustus 2024, hanya sekitar sepuluh bulan setelah penemuan gas dari sumur eksplorasi Geng North-1.
Tahap Front-End Engineering Design (FEED) selesai pada Januari 2025, kemudian dilanjutkan dengan Final Investment Decision (FID) pada Maret 2026.
Kini, setelah dimulainya pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari, proyek memasuki fase konstruksi dengan target produksi perdana pada kuartal IV 2028.
Seluruh proses pembangunan akan dijalankan berdasarkan prinsip On Time, On Budget, On Scope, disertai penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta standar keselamatan dan lingkungan yang ketat.
Apabila seluruh target berjalan sesuai rencana, North Hub berpotensi menjadi salah satu proyek migas paling strategis yang tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga meningkatkan investasi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen energi utama di kawasan Asia Tenggara.

