Bank Digital Tahan Bunga Deposito Meski BI Rate Naik, Ini Alasannya
Cuaninsight – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) biasanya diikuti oleh penyesuaian bunga simpanan maupun kredit di sektor perbankan. Namun, fenomena berbeda justru terlihat di sejumlah bank digital yang memilih mempertahankan tingkat bunga deposito mereka meskipun tren suku bunga sedang meningkat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga profitabilitas, mengendalikan biaya dana, dan mengantisipasi berbagai risiko yang muncul di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.
Padahal, beberapa tahun terakhir bank digital dikenal agresif menawarkan bunga deposito tinggi untuk menarik dana masyarakat. Kini, strategi tersebut mulai mengalami penyesuaian seiring perubahan kondisi pasar dan kebutuhan bisnis yang lebih berkelanjutan.
Bank Digital Mulai Mengubah Strategi Penghimpunan Dana
Pada fase awal pertumbuhan, banyak bank digital menawarkan bunga deposito yang lebih tinggi dibandingkan bank konvensional. Tujuannya adalah mempercepat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan memperluas basis nasabah.
Namun saat ini, fokus industri mulai bergeser. Bank digital tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan dana secara agresif, tetapi juga menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.
Kenaikan BI Rate memang berpotensi mendorong kenaikan bunga deposito. Namun apabila dilakukan secara berlebihan, biaya dana atau cost of fund juga akan meningkat dan berpotensi menekan margin keuntungan bank.
Krom Bank Pertahankan Bunga Deposito
Salah satu bank digital yang memilih strategi tersebut adalah Krom Bank. Saat ini, bunga deposito yang ditawarkan berada di kisaran 6,5% hingga 8%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai 7% hingga 8,25%.
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyatakan bahwa perusahaan akan mempertahankan tingkat bunga deposito yang berlaku saat ini sebagai bagian dari pengelolaan dana yang lebih prudent.
Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi pasar dan dinamika industri untuk memastikan penawaran yang diberikan tetap kompetitif tanpa mengorbankan keberlanjutan bisnis.
Selain itu, Krom Bank juga memperkuat manajemen risiko dan melakukan evaluasi terhadap dampak kenaikan BI Rate terhadap kinerja perusahaan.
Fokus pada Dana Murah dan Efisiensi Biaya
Di tengah kenaikan suku bunga, Krom Bank memilih memperkuat penghimpunan dana murah melalui ekosistem digital yang dimiliki. Strategi ini dinilai lebih efektif dalam menjaga stabilitas biaya dana dibandingkan terus menaikkan bunga deposito.
Bank juga berupaya mempertahankan kualitas kredit dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. Langkah tersebut penting untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terkendali.
Selain itu, efisiensi biaya dana menjadi faktor utama untuk menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) agar tetap sehat.
Allo Bank Belum Melihat Kebutuhan Naikkan Bunga Deposito
Strategi serupa juga diterapkan oleh Allo Bank. Hingga saat ini, bunga deposito Allo Bank masih bertahan di level 5,5%. Manajemen menilai belum ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penyesuaian bunga secara agresif meskipun BI Rate mengalami kenaikan.
Menurut pihak perusahaan, keputusan terkait bunga deposito tidak semata-mata didasarkan pada perubahan suku bunga acuan, melainkan mempertimbangkan berbagai faktor seperti kondisi likuiditas internal, perilaku nasabah, kebutuhan pertumbuhan kredit, hingga persaingan penghimpunan dana di industri.

Karena itu, jika ada penyesuaian bunga di masa mendatang, langkah tersebut kemungkinan dilakukan secara bertahap dan selektif sesuai kebutuhan bisnis.
Likuiditas Industri Masih Relatif Terjaga
Salah satu alasan bank digital belum agresif menaikkan bunga deposito adalah kondisi likuiditas industri perbankan yang masih cukup memadai.
Pertumbuhan dana pihak ketiga secara umum masih mampu mengimbangi kebutuhan penyaluran kredit. Kondisi tersebut membuat tekanan likuiditas belum menjadi ancaman besar dalam jangka pendek.
Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika persaingan menghimpun dana sangat ketat, saat ini banyak bank lebih fokus menjaga kualitas aset dan efisiensi operasional dibandingkan berlomba menawarkan bunga simpanan tertinggi.
Menjaga NIM di Tengah Kenaikan Suku Bunga
Kenaikan biaya dana memang berpotensi menekan margin bunga bersih perbankan. Namun bank digital menilai profitabilitas tidak hanya bergantung pada selisih bunga simpanan dan kredit.
Untuk menjaga kinerja keuangan, bank juga mengoptimalkan aset produktif, meningkatkan kualitas kredit, memperkuat manajemen risiko, serta memperbesar kontribusi pendapatan berbasis biaya (fee based income) dari berbagai layanan digital.
Dengan strategi tersebut, tekanan terhadap NIM diharapkan tetap terkendali sehingga bank dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas jangka panjang.
Penutup
Meski BI Rate kembali meningkat, sejumlah bank digital memilih tidak terburu-buru menaikkan bunga deposito. Fokus utama saat ini adalah menjaga efisiensi biaya dana, memperkuat likuiditas, dan mempertahankan profitabilitas yang sehat.
Strategi ini menunjukkan bahwa industri perbankan digital mulai memasuki fase yang lebih matang, di mana keberlanjutan bisnis dan pengelolaan risiko menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana nasabah.

