Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penyebab Utamanya
Cuaninsight – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen negatif dari pasar keuangan internasional. Mata uang Garuda bahkan diprediksi berpotensi mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat karena pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, hingga biaya produksi industri domestik.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah kali ini tergolong sangat kuat. Dalam perdagangan terbaru, rupiah disebut sudah melemah sekitar 70 poin ke level Rp17.870 per dolar AS.
Ia memperkirakan tren pelemahan tersebut masih berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya.
Rupiah Diprediksi Makin Melemah
Menurut Ibrahim, peluang rupiah menyentuh level Rp18.000 semakin terbuka apabila tekanan global terus meningkat. Ia menilai sentimen pasar saat ini masih cenderung negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, momentum libur nasional dan minimnya aktivitas pasar juga disebut dapat memperbesar volatilitas pergerakan rupiah.
Tidak hanya itu, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh level Rp17.900 hingga penutupan perdagangan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut dipengaruhi derasnya permintaan dolar AS di pasar global.
Pelemahan rupiah yang terus berlangsung membuat investor mulai mencari aset aman atau safe haven, terutama dolar AS yang dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Konflik Timur Tengah dan Eropa Jadi Pemicu Utama
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi memanas setelah Amerika Serikat disebut melakukan serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan yang memicu kekhawatiran pasar akan potensi perang terbuka.
Ketegangan semakin meningkat setelah muncul ancaman politik terhadap Oman yang dinilai terlibat dalam proses perdamaian Iran dan AS. Kehadiran kapal perang Amerika Serikat di wilayah Israel juga memperburuk sentimen global.
Tidak hanya di Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina kembali menjadi perhatian pasar dunia. Serangan Rusia ke Kiev dan permintaan tambahan bantuan militer Ukraina kepada NATO membuat ketidakpastian geopolitik di Eropa Timur meningkat.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah WTI bahkan dilaporkan bergerak di atas USD96 per barel. Kenaikan harga energi global ini turut meningkatkan biaya logistik dan memicu kekhawatiran inflasi di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Dolar AS Menguat Setelah Sinyal The Fed
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve.
Pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih fokus menekan inflasi membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Sebagian ekonom bahkan memprediksi Federal Reserve masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut membuat arus modal global kembali mengalir ke aset berbasis dolar AS.
Penguatan dolar otomatis memberikan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi Indonesia
Jika rupiah benar-benar menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, dampaknya bisa terasa luas terhadap perekonomian nasional.
Harga barang impor berpotensi meningkat, termasuk bahan baku industri, elektronik, hingga kebutuhan pangan tertentu. Selain itu, biaya utang luar negeri pemerintah dan swasta juga akan semakin mahal.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi karena harga produk impor ikut naik. Kondisi ini juga bisa memengaruhi daya beli masyarakat apabila harga kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan.
Meski demikian, sejumlah sektor berbasis ekspor justru berpotensi diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

