Yen ke Level Terendah 40 Tahun, Jepang Intervensi Rp1.713 Triliun
Cuaninsight – Pemerintah Jepang menggelontorkan dana hingga 15,4 triliun yen atau sekitar US$96,5 miliar, setara kurang lebih Rp1.713 triliun, untuk menopang nilai tukar yen yang terus berada di bawah tekanan.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang, nilai intervensi tersebut menjadi salah satu yang terbesar yang pernah dilakukan untuk menahan pelemahan mata uang dalam periode satu bulan. Dana tersebut digunakan dalam upaya memperkuat yen di tengah tekanan pasar valuta asing.
Besarnya intervensi menunjukkan keseriusan Jepang dalam menjaga stabilitas yen setelah mata uang tersebut merosot ke level terendah dalam sekitar empat dekade. Pelemahan yen menjadi perhatian pemerintah karena dapat memberikan dampak berbeda terhadap perekonomian, mulai dari keuntungan eksportir hingga kenaikan biaya impor.
Jepang Habiskan Rp1.713 Triliun untuk Yen
Intervensi Jepang berlangsung dalam periode 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. Data Kementerian Keuangan yang dirilis pada Jumat mencatat total nilai intervensi mencapai 15,4 triliun yen.
Salah satu aksi terbesar terjadi pada 30 Juli 2026, ketika otoritas Jepang diperkirakan mengucurkan sekitar 9,6 triliun yen, atau sekitar Rp1.064 triliun dengan asumsi kurs yang digunakan dalam data tersebut.
Angka tersebut bahkan jauh di atas rekor intervensi harian yang telah terkonfirmasi sebelumnya, yakni sekitar 6,3 triliun yen pada 30 April 2026.
Rincian intervensi harian secara lebih lengkap baru akan diketahui setelah data kuartalan diterbitkan, yang diperkirakan tersedia pada awal November.
Yen Anjlok ke Level Terendah 40 Tahun
Langkah agresif Jepang tidak terlepas dari tekanan terhadap yen. Mata uang Jepang sempat mendekati level 164 yen per dolar AS, posisi yang mencerminkan pelemahan sangat tajam.
Pelemahan yen membawa konsekuensi terhadap perekonomian Jepang. Di satu sisi, yen yang lemah dapat meningkatkan daya saing eksportir karena produk Jepang menjadi relatif lebih murah di pasar global.
Namun, kondisi tersebut juga meningkatkan biaya barang impor. Dampaknya menjadi semakin penting karena Jepang sangat bergantung pada impor energi.
Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya, dengan sekitar 95% pasokan berasal dari Timur Tengah. Ketergantungan tersebut membuat ekonomi Jepang cukup rentan terhadap gangguan pasokan maupun gejolak geopolitik yang dapat memengaruhi harga energi.
Suku Bunga Rendah Jadi Tantangan
Faktor lain yang membuat yen terus berada di bawah tekanan adalah perbedaan tingkat suku bunga Jepang dengan negara maju lainnya, terutama Amerika Serikat.
Bank of Japan (BOJ) dinilai bergerak relatif lambat dalam memperketat kebijakan moneter. Suku bunga Jepang yang masih rendah membuat yen tetap menjadi sumber pendanaan murah bagi investor global.
Strategi tersebut dikenal sebagai yen carry trade, ketika investor meminjam dana dalam mata uang yen dengan biaya rendah lalu menginvestasikannya ke aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Selama selisih suku bunga tetap lebar, permintaan terhadap yen dapat tertekan.
BOJ Tahan Suku Bunga pada Juli
BOJ mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan terakhirnya pada Juli 2026. Meski demikian, para pembuat kebijakan sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan masih mungkin dilakukan.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada pertemuan September mencapai sekitar 65%.
Jika BOJ benar-benar menaikkan suku bunga, langkah tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap yen karena dapat mengurangi kesenjangan imbal hasil dengan negara lain.
Namun, kebijakan tersebut juga perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu pemulihan ekonomi Jepang.
Jepang Dapat Dukungan dari Negara Lain
Intervensi terhadap yen pada akhir Juli juga memiliki unsur kerja sama internasional. BOJ melakukan pembelian yen pada 30 dan 31 Juli, termasuk melalui tindakan gabungan dengan Amerika Serikat ketika mata uang Jepang berada di sekitar level terlemahnya dalam 40 tahun.
Bank of Korea (BOK) juga disebut melakukan intervensi pembelian won secara bersamaan dengan Jepang. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas intervensi di pasar valuta asing.
Pergerakan yen kemudian menunjukkan respons yang cukup cepat. Nilai tukar bergerak dari sekitar 163 yen per dolar AS pada awal periode menjadi sekitar 155,20 yen per dolar AS pada 3 Agustus.
Setelah itu, yen kembali bergerak dan akhirnya berada di kisaran 159,50 yen per dolar AS sejak 10 Agustus.
Amerika Serikat Siapkan Backstop untuk Jepang
Untuk memperkuat keyakinan pasar bahwa Jepang masih memiliki kemampuan melakukan intervensi dalam skala besar, Washington menyatakan Tokyo dapat memanfaatkan fasilitas backstop Federal Reserve bagi bank sentral utama.
Fasilitas tersebut diperkenalkan The Fed pada 2020 untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan global selama pandemi COVID-19.
Melalui fasilitas tersebut, Jepang dapat memperoleh likuiditas dolar AS tanpa harus menjual obligasi pemerintah AS atau US Treasuries secara langsung dalam jumlah besar.
Akses terhadap likuiditas dolar menjadi penting karena intervensi untuk memperkuat yen membutuhkan pasokan dolar AS dalam jumlah signifikan.
AS Dukung Upaya Stabilkan Yen
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan bahwa Washington siap memberikan dukungan terhadap upaya Jepang menjaga stabilitas yen.
Menurut Bessent, Amerika Serikat akan melakukan langkah yang diperlukan untuk mendukung Tokyo dalam menstabilkan mata uangnya.
Kekhawatiran terhadap yen yang dinilai terlalu murah bukan hanya berasal dari dampaknya terhadap Jepang. Kondisi tersebut juga dapat memicu respons dari negara lain jika mereka berupaya melemahkan mata uang masing-masing agar ekspornya lebih kompetitif.
Situasi semacam itu dapat berkembang menjadi devaluasi kompetitif, yang berpotensi meningkatkan ketidakstabilan pasar valuta asing global.
Intervensi Besar Belum Menjamin Yen Stabil
Meski Jepang telah mengeluarkan dana dalam jumlah sangat besar, stabilitas yen tetap bergantung pada berbagai faktor. Perbedaan suku bunga, kebijakan BOJ, arah kebijakan Federal Reserve, kondisi perdagangan global, serta harga energi masih menjadi faktor penting.
Intervensi pasar valuta asing dapat memberikan efek cepat terhadap nilai tukar, tetapi dampak jangka panjang sangat bergantung pada fundamental ekonomi dan arah kebijakan moneter.
Dengan total intervensi mencapai 15,4 triliun yen atau sekitar Rp1.713 triliun, Jepang menunjukkan keseriusan dalam mencegah pelemahan yen semakin dalam. Namun, pasar masih akan mencermati langkah BOJ pada September dan perkembangan ekonomi global untuk melihat apakah penguatan yen dapat bertahan.
