Xendit Ungkap Konsumen RI Makin Tinggalkan Pembayaran Tunai
Cuaninsight – Perkembangan teknologi digital semakin mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia dalam melakukan transaksi. Pembayaran tunai perlahan mulai ditinggalkan, sementara metode pembayaran digital seperti QRIS, dompet digital, transfer bank, dan kartu semakin banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perubahan tersebut juga terlihat dalam transaksi daring. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga dan produk ketika berbelanja online, tetapi juga metode pembayaran yang tersedia. Laporan terbaru Xendit bersama Cube menunjukkan, kelengkapan pilihan pembayaran menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keputusan konsumen menyelesaikan transaksi.
Konsumen Bisa Membatalkan Belanja karena Metode Pembayaran
Sebagai penyedia infrastruktur pembayaran, Xendit bekerja sama dengan Cube untuk meluncurkan laporan yang menggabungkan data transaksi Xendit dengan hasil survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.000 responden berasal dari Indonesia. Hasil survei memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan dalam kebiasaan pembayaran masyarakat Tanah Air.
Presiden Xendit Nazim Ali mengatakan, konsumen Indonesia semakin meninggalkan pembayaran tunai. Menurutnya, pilihan metode pembayaran kini menjadi bagian penting dari pengalaman konsumen ketika melakukan transaksi secara online.
Salah satu temuan menarik adalah sebanyak 51% responden Indonesia mengaku pernah membatalkan pembelian daring dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan responden dari lima negara lainnya dalam survei tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha perlu memperhatikan preferensi pembayaran konsumennya. Menyediakan produk yang menarik dan harga kompetitif saja belum tentu cukup apabila konsumen tidak menemukan metode pembayaran yang nyaman bagi mereka.
Transaksi QRIS Tumbuh 142%
Perubahan perilaku pembayaran juga terlihat dari semakin populernya transaksi real-time. QRIS menjadi salah satu metode yang mencatat pertumbuhan signifikan pada platform Xendit.
Berdasarkan data Xendit, transaksi menggunakan QRIS meningkat 142% dalam periode Januari 2025 hingga April 2026.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi pembayaran berbasis kode QR dalam ekosistem transaksi digital Indonesia. QRIS menawarkan proses pembayaran yang praktis dan dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan, baik transaksi di toko fisik maupun kanal digital.
Selain QRIS, transaksi menggunakan kartu kredit juga mengalami pertumbuhan. Pada periode yang sama, transaksi kartu kredit di platform Xendit meningkat 83%.
Sementara itu, transfer bank masih menjadi salah satu metode pembayaran real-time yang banyak digunakan. Berdasarkan hasil survei, metode transfer bank diperkirakan digunakan dalam 52% pembelian yang dilakukan responden.

Dompet Digital Masih Jadi Favorit
Meski QRIS mencatat pertumbuhan tinggi, dompet digital masih menjadi salah satu metode pembayaran yang paling banyak digunakan konsumen Indonesia.
Sekitar 60% responden menyebut menggunakan dompet digital dalam transaksi daring. Bahkan, sekitar 70% dari pengguna tersebut mengatakan dompet digital digunakan untuk setidaknya separuh transaksi pembelian mereka.
Menariknya, persaingan dompet digital di Indonesia terlihat cukup berimbang. Laporan tersebut tidak menemukan satu platform yang secara mutlak mendominasi penggunaan di antara GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsumen memiliki beragam preferensi. Pelaku usaha yang ingin memperluas peluang transaksi perlu mempertimbangkan penyedia pembayaran yang relevan dengan target konsumennya.
Semakin banyak pilihan pembayaran yang tersedia, semakin kecil kemungkinan konsumen meninggalkan transaksi hanya karena metode yang mereka inginkan tidak tersedia.
Penggunaan COD Mulai Berkurang
Pergeseran menuju pembayaran digital juga terlihat dari penggunaan metode cash on delivery atau COD. Sekitar empat dari 10 responden Indonesia mengatakan mereka kini lebih jarang menggunakan COD dibandingkan satu tahun sebelumnya.
Menariknya, perpindahan konsumen dari satu metode pembayaran ke metode lainnya tidak hanya dipengaruhi oleh aspek kepraktisan. Insentif seperti diskon dan cashback justru menjadi salah satu alasan utama konsumen memilih metode pembayaran tertentu.
Selain promosi, konsumen juga mempertimbangkan kecepatan proses pengembalian dana atau refund serta aspek keamanan transaksi.
Artinya, pengalaman pembayaran yang baik tidak berhenti ketika konsumen menekan tombol bayar. Proses setelah transaksi, termasuk konfirmasi pembayaran, keamanan, dan pengembalian dana, turut menentukan tingkat kepuasan pelanggan.
Peluang Besar bagi Bisnis Digital
Perubahan kebiasaan konsumen tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha. Ketika semakin banyak masyarakat beralih ke transaksi daring, metode pembayaran menjadi bagian penting dari strategi bisnis.
Laporan Xendit juga mencatat penjualan di tiga platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara, yakni Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, meningkat sekitar 33% pada kuartal I tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan e-commerce tersebut membuat persaingan mendapatkan konsumen semakin ketat. Pelaku usaha berpotensi kehilangan transaksi jika konsumen menemukan hambatan pada tahap pembayaran.
Karena itu, strategi pembayaran perlu disesuaikan dengan kebiasaan konsumen. Bisnis tidak hanya perlu memikirkan bagaimana membuat pelanggan datang, tetapi juga bagaimana memastikan proses pembayaran berlangsung mudah dan nyaman hingga transaksi selesai.
Xendit Dorong Pengalaman Pembayaran Menyeluruh
Xendit melihat kebutuhan tersebut sebagai peluang untuk membangun solusi pembayaran yang lebih menyeluruh. Nazim Ali menekankan bahwa penyedia layanan pembayaran tidak cukup hanya menawarkan kemudahan transaksi atau biaya yang kompetitif. Pengalaman konsumen setelah pembayaran juga menjadi bagian penting dari layanan.
Aspek seperti notifikasi ketika terjadi kendala, kemudahan memperoleh refund, hingga kepastian waktu penyelesaian transaksi menjadi bagian dari pengalaman yang perlu diperhatikan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan pembayaran digital Indonesia semakin bergeser dari sekadar persoalan menggantikan uang tunai. Konsumen kini menuntut transaksi yang cepat, aman, fleksibel, sekaligus memiliki proses penyelesaian yang jelas.
Bagi pelaku usaha, perubahan ini menjadi sinyal bahwa menyediakan beragam metode pembayaran bukan lagi sekadar fitur tambahan. Pilihan pembayaran dapat menentukan apakah konsumen melanjutkan transaksi atau justru meninggalkan keranjang belanja.
Dengan semakin kuatnya penggunaan QRIS, dompet digital, transfer bank, dan kartu, tren pembayaran digital diperkirakan akan terus berkembang. Pelaku bisnis yang mampu mengikuti preferensi konsumen sekaligus memberikan pengalaman pembayaran yang baik memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan pelanggan di tengah persaingan ekonomi digital yang semakin ketat.
