September Kerap Menekan IHSG, Ini Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Cuaninsight – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal September 2026 berlangsung cukup fluktuatif. Meski dalam dua hari perdagangan pertama indeks masih mampu mencatat penguatan, investor tetap perlu mencermati pola historis karena September dikenal sebagai salah satu bulan yang kerap memberikan tekanan terhadap pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg Seasonality, rata-rata kinerja IHSG dalam 10 tahun terakhir menunjukkan pelemahan sebesar 0,88% selama perdagangan bulan September. Angka tersebut memang tergolong terbatas, tetapi memberikan gambaran bahwa pasar saham Indonesia memiliki kecenderungan bergerak negatif pada periode ini.
Hingga perdagangan Rabu, 2 September 2026, IHSG justru masih berada di zona positif. Indeks tercatat menguat 0,87% ke level 6.582. Namun, pergerakan sepanjang dua hari perdagangan tersebut berlangsung sangat dinamis dengan volatilitas yang cukup tinggi.
September Punya Rekam Jejak Kurang Bersahabat
Tekanan IHSG pada September tidak selalu terjadi dengan intensitas yang sama. Dalam satu dekade terakhir, terdapat beberapa periode ketika indeks mengalami koreksi cukup dalam akibat kombinasi sentimen domestik dan global.
Pelemahan paling tajam terjadi pada September 2020. Ketika itu, IHSG tertekan lebih dari 7% seiring guncangan ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Pandemi membuat aktivitas ekonomi di berbagai negara mengalami gangguan besar dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Tekanan domestik juga semakin kuat setelah data Bank Indonesia menunjukkan penjualan ritel dalam negeri mengalami penurunan hingga dua digit. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran lemahnya daya beli masyarakat pada periode awal pandemi.
Koreksi berikutnya terjadi pada September 2019 dengan penurunan sekitar 2,52%. Kemudian pada September 2022, IHSG melemah 1,92%, sedangkan September 2024 mencatat koreksi sebesar 1,86%.
Dengan demikian, meskipun tidak setiap September berakhir dengan penurunan besar, investor tetap memiliki alasan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan sentimen.
China Pernah Menjadi Pemicu Tekanan IHSG
Sentimen eksternal juga memainkan peran penting dalam pergerakan IHSG pada September. Salah satu contohnya terjadi pada 2024 ketika kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China membuat investor bersikap lebih defensif.
Kekhawatiran tersebut kemudian berubah setelah pemerintah China mengeluarkan stimulus ekonomi dalam skala besar. Kebijakan itu meningkatkan optimisme terhadap prospek pemulihan ekonomi Negeri Panda sekaligus membuat pasar saham China menjadi lebih menarik bagi investor.
Dampaknya, sebagian aliran dana asing berpotensi berotasi menuju pasar saham China. Aksi ambil untung di sejumlah pasar Asia, termasuk Indonesia, kemudian ikut memberikan tekanan terhadap IHSG.
Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan indeks domestik tidak hanya ditentukan oleh fundamental perusahaan di dalam negeri. Kebijakan ekonomi negara besar, arus modal global, hingga perubahan preferensi investor juga dapat memengaruhi IHSG.
Sentimen September 2026 Mulai Perlu Dicermati
Memasuki September 2026, terdapat sejumlah indikator ekonomi yang menjadi perhatian investor. Salah satunya adalah data inflasi Indonesia pada Agustus 2026.
Inflasi bulanan tercatat 0,21%, sedikit lebih tinggi dibandingkan median proyeksi Bloomberg sebesar 0,20%. Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,19%, lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 3,11% dan meningkat dibandingkan inflasi Juli 2026 sebesar 2,88%.
Indeks Harga Konsumen (IHK) juga meningkat dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai inflasi masih berada dalam sasaran 2,5% plus atau minus 1%. Inflasi inti tercatat 0,21% secara bulanan dan 2,92% secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing berada di 0,14% dan 2,76%.
Perkembangan inflasi menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
PMI Manufaktur Kembali Masuk Zona Kontraksi
Selain inflasi, kondisi sektor manufaktur juga menjadi perhatian pasar. Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 berada di level 49,8, turun dari 50,2 pada Juli.
Posisi PMI di bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase kontraksi. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya produksi dan penciptaan lapangan kerja, di tengah persaingan yang semakin ketat, permintaan yang melemah, serta meningkatnya biaya bahan baku.
Kondisi manufaktur menjadi penting karena sektor tersebut merupakan salah satu kontributor utama terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan lapangan usaha.
Jika pelemahan manufaktur berlangsung lebih lama, investor tentu akan mencermati dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, kinerja perusahaan, hingga prospek laba emiten yang memiliki keterkaitan dengan sektor industri.
Agenda Ekonomi Penting Menanti
September 2026 masih memiliki sejumlah agenda yang berpotensi menggerakkan IHSG. Investor akan mencermati data cadangan devisa, Consumer Confidence Index atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), serta angka penjualan ritel.
Perhatian besar juga akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan membahas kebijakan suku bunga acuan BI Rate.
Kombinasi data inflasi, manufaktur, konsumsi rumah tangga, serta keputusan BI dapat menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar saham sepanjang September.
Cuan Insight: Jangan Hanya Mengandalkan Pola Musiman
Data historis memang menunjukkan IHSG memiliki kecenderungan melemah pada September. Namun, pola musiman tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
Investor perlu melihat apakah tekanan yang muncul bersifat sementara atau mencerminkan perubahan fundamental ekonomi. Inflasi yang meningkat, PMI yang masuk zona kontraksi, serta perkembangan suku bunga merupakan sejumlah indikator yang perlu dipantau secara bersamaan.
Di sisi lain, pelemahan indeks juga dapat menciptakan peluang bagi investor dengan strategi jangka panjang. Koreksi harga saham yang terjadi akibat sentimen pasar tidak selalu berarti fundamental emiten mengalami kerusakan.
Karena itu, investor dapat mempertimbangkan kualitas laporan keuangan, prospek pertumbuhan pendapatan, tingkat utang, arus kas, valuasi, serta prospek sektor sebelum mengambil keputusan.
IHSG Bukan Satu-satunya yang Menghadapi September Berat
Pola tekanan pada September ternyata juga terlihat di sejumlah bursa Asia. Berdasarkan data historis Bloomberg, KLCI Malaysia mencatat rata-rata pelemahan paling dalam sebesar 2,02% pada September dalam periode 10 tahun.
KOSPI Korea Selatan menyusul dengan rata-rata penurunan 0,84%, sedangkan indeks SET Thailand mengalami pelemahan rata-rata 0,68%.
Malaysia bahkan pernah mengalami tekanan besar ketika ekspektasi investor terhadap arah kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat berubah secara drastis. Harapan bahwa inflasi AS akan mereda dan membuka ruang bagi The Fed untuk memperlambat kenaikan suku bunga ternyata tidak sesuai dengan perkembangan data.
Ketika inflasi AS masih menunjukkan tekanan tinggi, ekspektasi terhadap pivot The Fed runtuh. Pasar kemudian kembali memperkirakan kebijakan suku bunga AS yang lebih agresif sehingga memicu episode risk-off di pasar saham.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa IHSG juga sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter global.
Dengan mempertimbangkan faktor historis dan kondisi ekonomi terkini, September 2026 berpotensi menjadi bulan yang penuh dinamika bagi IHSG. Meski indeks masih menguat pada awal bulan, investor tetap perlu memperhatikan data ekonomi domestik, kebijakan BI, sentimen China, arah The Fed, serta pergerakan dana asing sebelum menentukan strategi investasi.
