Rupiah Tembus Rp18.000, Menko Airlangga Hartarto Ungkap Biang Keroknya

Cuaninsight – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menilai pelemahan mata uang Garuda tersebut lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah masih melihat fundamental ekonomi nasional dalam kondisi kuat. Karena itu, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini perlu dilihat secara lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keputusan investor.

Airlangga Sebut Sentimen Pasar Jadi Faktor Utama

Airlangga menilai tekanan terhadap rupiah saat ini berkaitan erat dengan sentimen investor. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dibedakan dari fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.

“Sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat. Tetapi yang dimainkan sekarang faktor sentimental,” ujar Airlangga di Kantor Kementerian Perekonomian, Jumat (16/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika rupiah kembali menghadapi tekanan terhadap dolar AS. Pergerakan nilai tukar menjadi perhatian karena dapat memengaruhi berbagai sektor perekonomian, mulai dari perdagangan, investasi, hingga biaya impor.

Pemerintah berharap investor tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen yang berkembang di pasar. Pelaku pasar juga diminta melihat indikator fundamental serta penilaian dari berbagai lembaga yang berkaitan dengan kondisi pasar keuangan Indonesia.

Pemerintah Soroti Penilaian MSCI

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pemerintah adalah perkembangan penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.

Airlangga menjelaskan, sebelumnya MSCI diperkirakan baru akan menyampaikan pengumuman pada November 2026. Namun, pengumuman tersebut justru muncul lebih awal pada Oktober.

Dalam perkembangan tersebut, terdapat tenggat waktu baru bagi implementasi sejumlah perbaikan, yang disebut berlangsung pada April dan Juni 2027.

Menurut Airlangga, salah satu perhatian MSCI berkaitan dengan implementasi regulasi serta langkah pembenahan pasar modal Indonesia. Pemerintah menilai proses reformasi membutuhkan waktu sehingga perlu disiapkan secara terukur dan memiliki jadwal pelaksanaan yang jelas.

Reformasi Pasar Modal Perlu Punya Timeline

Pemerintah berencana membahas langkah konkret bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memastikan berbagai agenda pembenahan pasar modal dapat berjalan sesuai target.

Airlangga menekankan pentingnya memiliki jadwal atau timeline yang jelas. Dengan demikian, investor dapat memperoleh kepastian mengenai tahapan reformasi yang sedang dilakukan pemerintah bersama otoritas dan pelaku pasar.

“Kita berharap langkahnya konkret beserta timeline-nya,” kata Airlangga.

Kepastian tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor, terutama ketika pasar tengah sensitif terhadap berbagai informasi mengenai regulasi, tata kelola, transparansi, serta akses investor terhadap pasar modal Indonesia.

Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Jadi Sorotan

Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah tetap menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional perlu menjadi salah satu dasar dalam membaca arah pasar.

Pelemahan nilai tukar tidak selalu berarti terjadi perubahan mendasar pada kondisi ekonomi. Pergerakan mata uang juga dapat dipengaruhi sentimen global, perubahan ekspektasi investor, arus modal, hingga respons pasar terhadap kebijakan dan perkembangan pasar keuangan.

Karena itu, Airlangga berharap investor dapat membandingkan berbagai penilaian sebelum mengambil kesimpulan mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

Ia juga mempertanyakan mengapa penyedia indeks atau lembaga pemeringkat lain tidak selalu memberikan perhatian yang sama terhadap persoalan yang disoroti MSCI. Meski demikian, pemerintah tetap memilih untuk merespons persoalan tersebut dengan mempercepat langkah pembenahan pasar modal.

Kepercayaan Investor Jadi Kunci

Tekanan terhadap rupiah dan perhatian terhadap pasar modal menunjukkan bahwa kepercayaan investor menjadi faktor penting bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

Pemerintah perlu memastikan kebijakan yang telah dirancang dapat diterapkan secara konsisten. Selain itu, komunikasi mengenai jadwal reformasi juga perlu dilakukan secara transparan agar pelaku pasar memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah kebijakan ke depan.

Bagi investor, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pergerakan rupiah maupun pasar saham tidak hanya dipengaruhi angka-angka fundamental. Sentimen, kebijakan global, persepsi risiko, dan kepercayaan terhadap reformasi pasar juga dapat memberikan pengaruh besar dalam jangka pendek.

Dengan demikian, pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pemerintah. Namun, Airlangga menegaskan bahwa tekanan tersebut lebih berkaitan dengan sentimen pasar, sementara fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

Pemerintah kini akan mendorong langkah konkret bersama BEI untuk mempercepat pembenahan pasar modal sekaligus menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *