Empat Perusahaan Kesehatan Antre IPO, Begini Pipeline BEI 2026

Cuaninsight – Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat tujuh perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham hingga 2 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sektor kesehatan menjadi penyumbang terbanyak dengan empat perusahaan yang tengah bersiap melantai di pasar modal.

Pipeline tersebut menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar saham masih berjalan, meski sepanjang 2026 sudah terdapat tujuh perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di BEI.

Tujuh Perusahaan Masih Berada di Pipeline IPO

Berdasarkan catatan BEI hingga 2 Oktober 2026, terdapat tujuh perusahaan yang masih berada dalam antrean pencatatan saham. Dari jumlah tersebut, empat perusahaan berasal dari sektor healthcare atau kesehatan.

Sementara itu, dua perusahaan lainnya bergerak di sektor energy, sedangkan satu perusahaan berasal dari sektor industrials.

Komposisi tersebut memperlihatkan cukup kuatnya sektor kesehatan dalam pipeline IPO BEI tahun ini. Kehadiran empat perusahaan healthcare sekaligus juga menjadi indikasi bahwa kebutuhan pendanaan dan peluang ekspansi di industri kesehatan masih menarik bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan pasar modal.

Di sisi lain, sepanjang tahun ini sebanyak tujuh perusahaan telah berhasil melantai di bursa. Dari aksi pencatatan saham tersebut, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Dengan masih adanya tujuh perusahaan dalam pipeline, aktivitas IPO di BEI masih berpotensi bertambah hingga penghujung 2026, bergantung pada kesiapan masing-masing perusahaan dan proses pencatatan yang harus dipenuhi.

Profil Aset Perusahaan Calon Emiten

BEI juga mencatat klasifikasi perusahaan dalam pipeline berdasarkan ukuran aset. Pengelompokan tersebut mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Dari tujuh perusahaan yang masih berada dalam pipeline, sebanyak dua perusahaan masuk kategori aset skala kecil, yakni perusahaan dengan total aset di bawah Rp50 miliar.

Kemudian, terdapat tiga perusahaan yang masuk kategori aset skala menengah dengan nilai aset mulai dari Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Sementara itu, dua perusahaan lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Komposisi ini memperlihatkan bahwa perusahaan yang memanfaatkan pasar modal untuk mencari pendanaan tidak hanya berasal dari korporasi dengan aset besar. Perusahaan dengan skala aset kecil dan menengah juga memiliki peluang untuk mengakses sumber pendanaan melalui pasar saham.

Bagi perusahaan, IPO dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh modal guna mendukung ekspansi, memperkuat struktur permodalan, maupun mengembangkan bisnis.

Penghimpunan Dana EBUS Capai Rp132,98 Triliun

Selain pencatatan saham, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal juga berlangsung melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga 2 Oktober 2026, BEI mencatat sebanyak 135 emisi EBUS dari 62 penerbit. Total dana yang berhasil dihimpun melalui instrumen tersebut mencapai Rp132,98 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar modal tidak hanya menjadi tempat bagi perusahaan untuk mencari pendanaan melalui penerbitan saham. Instrumen berbasis utang dan sukuk juga memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan korporasi.

Menariknya, pipeline EBUS juga masih cukup besar. BEI mencatat terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline hingga periode yang sama.

Dari sisi sektor, financials menjadi penyumbang terbesar dalam pipeline EBUS dengan enam perusahaan. Selanjutnya terdapat sektor energy dengan empat perusahaan dan infrastructures sebanyak tiga perusahaan.

Rights Issue Masih Berlanjut

Aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga terlihat dari aksi rights issue. Hingga 2 Oktober 2026, tercatat 15 perusahaan telah menerbitkan rights issue dengan total nilai mencapai Rp16,23 triliun.

Rights issue merupakan salah satu opsi bagi perusahaan tercatat untuk memperoleh tambahan modal melalui penerbitan saham baru yang terlebih dahulu ditawarkan kepada pemegang saham yang sudah ada sesuai ketentuan yang berlaku.

Di samping 15 perusahaan yang telah melaksanakan aksi tersebut, BEI masih mencatat satu perusahaan dalam pipeline rights issue. Perusahaan tersebut berasal dari sektor properties & real estate.

Pipeline Pasar Modal Jadi Perhatian Investor

Masih adanya perusahaan dalam pipeline IPO, EBUS, maupun rights issue menunjukkan bahwa aktivitas penghimpunan dana di pasar modal tetap berlangsung pada 2026.

Bagi investor, keberadaan pipeline tersebut juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Setiap calon emiten memiliki karakteristik bisnis, kondisi keuangan, kebutuhan modal, serta prospek pertumbuhan yang berbeda.

Namun, investor tetap perlu mencermati informasi resmi terkait calon emiten sebelum mengambil keputusan investasi. Prospektus, penggunaan dana hasil aksi korporasi, kondisi fundamental, struktur kepemilikan, hingga risiko bisnis menjadi sejumlah aspek yang penting untuk dipelajari.

Dengan tujuh perusahaan masih mengantre IPO, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak mewarnai pipeline pencatatan saham BEI hingga 2 Oktober 2026. Sementara itu, besarnya penghimpunan dana melalui EBUS dan rights issue menunjukkan bahwa pasar modal tetap menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi dunia usaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *