Demutualisasi BEI Didorong Prabowo, BEI Ingin Naik Kelas Jadi Bursa Internasional
Cuaninsight – Ambisi pemerintah untuk membawa Bursa Efek Indonesia (BEI) menuju standar bursa internasional dinilai memiliki potensi besar, tetapi membutuhkan waktu panjang dan reformasi menyeluruh. Dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat reformasi pasar modal, termasuk melalui demutualisasi BEI, dinilai dapat memperkuat posisi pasar modal Indonesia sebagai sumber pembiayaan dunia usaha.
Meski demikian, target tersebut dinilai belum realistis apabila dipatok untuk dicapai dalam jangka pendek hingga menengah. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyebut ambisi tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai visi jangka panjang.
BEI Punya Ambisi Besar Menuju Bursa Kelas Dunia
Wafi menilai BEI masih memiliki jarak yang cukup lebar jika dibandingkan dengan bursa kelas dunia seperti New York Stock Exchange (NYSE) maupun Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX).
Menurutnya, perbedaan tersebut bukan hanya menyangkut ukuran pasar, tetapi juga kedalaman likuiditas, basis investor, produk investasi, hingga infrastruktur pasar modal.
“Target ini lebih tepat sebagai aspirational vision jangka sangat panjang rentang 20 tahun-30 tahun daripada sasaran jangka pendek,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Artinya, reformasi BEI membutuhkan roadmap yang konsisten dan berkelanjutan. Perubahan struktur kepemilikan melalui demutualisasi dapat menjadi salah satu bagian dari reformasi tersebut, tetapi bukan satu-satunya faktor untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pasar modal regional maupun global.
Enam Indikator Bursa Kelas Dunia
Untuk mengukur kualitas sebuah bursa, terdapat sejumlah indikator yang perlu diperhatikan. Wafi menyebut sedikitnya enam aspek yang lazim digunakan.
Pertama adalah kapitalisasi pasar absolut, yang menunjukkan besarnya nilai keseluruhan perusahaan tercatat. Kedua, volume perdagangan harian atau kedalaman likuiditas. Ketiga, jumlah emiten dan keberagaman sektor yang tersedia bagi investor.
Selanjutnya, terdapat tingkat sophistication atau kematangan basis investor, rata-rata free float setiap emiten, serta kedalaman pasar.
Sebagai pembanding, bursa kelas dunia umumnya memiliki kapitalisasi pasar di atas US$5 triliun, turnover velocity di atas 1% dari kapitalisasi pasar, serta rata-rata free float lebih dari 40%-50%.
Indonesia dinilai masih harus mengejar berbagai indikator tersebut agar dapat sejajar dengan bursa-bursa terkemuka dunia.
Bukan Sekadar Demutualisasi BEI
Demutualisasi BEI menjadi salah satu agenda reformasi yang didorong pemerintah. Dengan demutualisasi, struktur bursa dapat diarahkan menjadi lebih profesional dan berorientasi pada pengembangan bisnis serta peningkatan daya saing.
Namun, Wafi mengingatkan bahwa perubahan struktur bursa saja tidak cukup.
Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari penyempurnaan regulasi, penegakan hukum, kebijakan HSC, hingga peningkatan free float saham perusahaan tercatat.
Selain itu, pasar modal Indonesia perlu memperdalam basis investor institusi domestik. Dana pensiun dan perusahaan asuransi dinilai memiliki dana kelolaan yang jauh lebih besar dibandingkan investor ritel sehingga dapat menjadi sumber likuiditas jangka panjang.
Produk Investasi Perlu Lebih Beragam
Pekerjaan rumah berikutnya adalah memperluas pilihan instrumen investasi. Pasar modal Indonesia masih perlu mengembangkan berbagai produk seperti derivatif, Dana Investasi Real Estat (DIRE/REITs), ETF, dan produk terstruktur.
Diversifikasi produk menjadi penting untuk meningkatkan daya tarik pasar bagi investor dengan profil dan strategi berbeda.
Semakin banyak instrumen yang tersedia, semakin besar pula peluang BEI membangun ekosistem pasar yang lebih dalam. Produk-produk tersebut juga dapat membantu investor melakukan diversifikasi risiko sekaligus meningkatkan aktivitas perdagangan.
Di sisi lain, infrastruktur teknologi perdagangan juga harus mampu memenuhi standar global. Kecepatan transaksi, stabilitas sistem, keamanan, hingga efisiensi penyelesaian menjadi faktor penting dalam menarik investor internasional.
Kerangka perpajakan juga menjadi perhatian. Indonesia perlu memiliki sistem yang kompetitif jika ingin bersaing dengan pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong.
Bursa Besar Harus Investable
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai Indonesia tidak cukup hanya mengejar ukuran pasar secara nominal.
Menurutnya, tantangan utama adalah menciptakan pasar yang besar sekaligus investable.
Bursa dengan standar internasional harus memiliki pasar primer yang produktif sehingga mampu menarik perusahaan berkualitas untuk melakukan initial public offering (IPO).
Tidak kalah penting adalah pasar sekunder yang likuid dan memiliki integritas tinggi. Investor akan mempertimbangkan kualitas emiten, kemudahan transaksi, likuiditas, transparansi, dan perlindungan investor sebelum menempatkan dana dalam jumlah besar.
Rully juga mengingatkan bahwa penilaian bursa maju bersifat multidimensi. World Federation of Exchanges memantau berbagai indikator, termasuk kapitalisasi pasar, nilai transaksi saham, jumlah perdagangan, jumlah emiten, aktivitas IPO, ETF, derivatif, hingga spread sebagai salah satu ukuran likuiditas.
Investor Asing Butuh Kemudahan
Selain memperbesar ukuran pasar, Indonesia juga perlu membuat pasar modal domestik semakin mudah diakses investor asing.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menentukan kemudahan investor internasional dalam bertransaksi.
Pertama adalah keterbukaan regulasi dan kemudahan repatriasi modal. Investor membutuhkan kepastian hukum, kejelasan perpajakan, serta aturan arus modal dan devisa yang transparan.
Kedua adalah efisiensi proses operasional. Pembukaan rekening, layanan kustodian, hingga penyelesaian transaksi harus berjalan mudah dan sesuai standar internasional.
Ketiga, kualitas informasi menjadi faktor penting. Laporan keuangan, keterbukaan informasi perusahaan, dan riset perlu mudah diakses, idealnya tersedia dalam bahasa Inggris dan diperbarui secara cepat.
Faktor terakhir adalah stabilitas makroekonomi dan nilai tukar. Fundamental ekonomi yang kuat serta rupiah yang relatif stabil dapat meningkatkan rasa aman bagi investor jangka panjang.
Peluang Besar, tetapi Butuh Konsistensi
Meski perjalanan menuju bursa berstandar internasional tidak mudah, peluang Indonesia tetap terbuka lebar. Ekonomi domestik yang besar, jumlah perusahaan potensial, serta basis investor yang terus berkembang menjadi modal penting.
Hans menilai cita-cita menjadikan BEI sebagai bursa internasional merupakan peluang yang rasional apabila pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat insentif lintas sektor.
Dengan demikian, demutualisasi dapat menjadi momentum untuk mempercepat reformasi, tetapi keberhasilan akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun pasar yang besar, likuid, transparan, berintegritas, beragam, dan mudah diakses investor global.
Bagi investor, transformasi tersebut bukan sekadar perubahan kelembagaan. Jika dijalankan konsisten, reformasi pasar modal berpotensi memperbesar peran BEI sebagai sumber pendanaan perusahaan sekaligus membuka akses investasi yang semakin luas bagi investor domestik maupun internasional.
