Dari Warung Ibu ke 23.000 Toko, Begini Perjalanan Djoko Susanto Membangun Alfamart
Cuaninsight – Kisah sukses Djoko Susanto menunjukkan bagaimana bisnis ritel besar dapat tumbuh dari usaha keluarga yang sangat sederhana. Jauh sebelum nama Alfamart hadir di berbagai sudut kota Indonesia, perjalanan bisnis Djoko dimulai dari sebuah warung kelontong milik ibunya di kawasan Petojo, Jakarta.
Dari warung tersebut, Djoko mempelajari berbagai hal mendasar dalam menjalankan bisnis, mulai dari melayani pelanggan, mengatur persediaan barang hingga menjaga operasional toko. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan bisnisnya hingga membentuk jaringan ritel dengan lebih dari 23.000 gerai.
Sempat Jadi Pegawai Perusahaan Perakitan Radio
Djoko Susanto yang memiliki nama asli Kwok Kwie Fo tidak langsung terjun menjadi pengusaha. Pada masa awal perjalanan kariernya, ia sempat bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan perakitan radio.
Namun, perjalanan sebagai karyawan tersebut tidak berlangsung lama. Pada dekade 1960-an, Djoko memutuskan berhenti bekerja dan kembali membantu usaha keluarga.
Warung yang dikenal sebagai Toko Sumber Bahagia menjadi tempat Djoko belajar bisnis secara langsung. Kala itu, barang yang dijual masih berupa kebutuhan sehari-hari seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun hingga rokok.
Pengalaman berhadapan langsung dengan pelanggan membuat Djoko memahami bagaimana sebuah toko dapat bertahan sekaligus berkembang. Ia tidak hanya berurusan dengan penjualan, tetapi juga harus memastikan ketersediaan stok dan memahami barang yang banyak dicari konsumen.
Fokus ke Rokok dan Bangun Jaringan Grosir
Seiring perkembangan usaha, Djoko kemudian memusatkan perhatian pada perdagangan rokok. Pilihan tersebut membawa perubahan besar terhadap skala bisnis yang dijalankannya.
Jaringan grosir yang dibangun Djoko berkembang secara bertahap. Pada 1987, bisnisnya disebut telah memiliki sekitar 15 toko.
Pertumbuhan tersebut kemudian mempertemukannya dengan Putera Sampoerna, salah satu petinggi PT HM Sampoerna. Pertemuan pada akhir 1986 itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis Djoko.

Menurut Sam Setyautama dalam buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), pertemuan dengan Putera Sampoerna membawa perubahan besar dalam perjalanan karier Djoko.
Ia kemudian dipercaya menduduki posisi direktur penjualan PT Sampoerna sekaligus direktur PT Panarmas, perusahaan distributor rokok Sampoerna.
Dari Distribusi Rokok ke Bisnis Ritel Modern
Keterlibatan Djoko dalam pemasaran produk Sampoerna, termasuk ketika ikut memasarkan Sampoerna A Mild pada 1989, semakin memperluas pengalamannya dalam perdagangan dan distribusi.
Pada periode yang sama, Djoko mulai membangun bisnis ritelnya sendiri melalui pendirian PT Alfa Retailindo. Salah satu langkah penting dilakukan dengan mengubah gudang Sampoerna di Jalan Lodan No. 80, Ancol menjadi Toko Gudang Rabat. Tempat yang sebelumnya berkaitan dengan distribusi rokok tersebut kemudian dikembangkan menjadi toko yang menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Konsep ini menjadi jembatan dari bisnis grosir menuju ritel modern. Barang yang ditawarkan tidak lagi terbatas pada satu kategori, tetapi semakin beragam mengikuti kebutuhan konsumen. Pertumbuhan gerai pun terus berlanjut. Memasuki dekade 1990-an, jaringan tersebut telah berkembang menjadi sekitar 32 toko di sejumlah kota.
Lahirnya Alfa Minimart pada 1999
Perubahan berikutnya terjadi ketika format toko mulai diarahkan menjadi minimarket yang lebih dekat dengan konsumen. Pada 18 Oktober 1999, jaringan tersebut menggunakan nama Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya. Gerai pertama Alfa Minimart disebut berdiri di Jalan Beringin Raya, Tangerang.
Perubahan format ini menjadi bagian penting dalam transformasi bisnis yang sebelumnya berakar dari warung kelontong keluarga menjadi jaringan ritel modern.
Konsep minimarket memungkinkan konsumen berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan format toko yang lebih praktis dan dekat dengan kawasan permukiman.
Alfa Minimart Berubah Menjadi Alfamart
Perjalanan merek tersebut kembali memasuki babak baru pada 1 Januari 2003. Alfa Minimart kemudian menggunakan nama Alfamart. Nama tersebut selanjutnya berkembang semakin luas seiring ekspansi jaringan dan pertumbuhan bisnis ritel modern di Indonesia.
Dari sebuah warung sederhana milik keluarga di Petojo, bisnis yang dirintis Djoko Susanto akhirnya berkembang menjadi Grup Alfamart dengan jaringan lebih dari 23.000 toko di Indonesia. Jaringan tersebut juga mencakup gerai yang dikelola sejumlah anak usaha, termasuk Alfamidi dan Lawson.
Dari Warung Kelontong Menjadi Kerajaan Ritel
Perjalanan Djoko Susanto memperlihatkan proses panjang dalam membangun bisnis ritel. Pertumbuhannya tidak terjadi dalam satu tahap, melainkan melalui beberapa fase, mulai dari warung kelontong, perdagangan rokok, jaringan grosir, distribusi, hingga pengembangan format minimarket.
Pengalaman mengelola toko sejak usia muda menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan konsumen. Sementara pengalaman di bidang distribusi dan perdagangan memberikan fondasi untuk memperluas skala bisnis.
Kini, jejak dari usaha sederhana tersebut dapat dilihat dalam jaringan ritel yang tersebar luas di Indonesia. Perubahan dari Toko Sumber Bahagia menjadi cikal bakal jaringan Alfa hingga Alfamart menjadi salah satu kisah perjalanan bisnis ritel Indonesia yang berkembang dari skala keluarga menuju jaringan nasional.
