Danantara Siap Gelontorkan Rp225 Triliun Garap 13 Proyek Hilirisasi Strategis

Cuan Insight – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus memperluas peran dalam mendorong agenda hilirisasi nasional. Hingga saat ini, Danantara tengah menggarap 13 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi sekitar Rp225 triliun.

Portofolio tersebut mencakup sejumlah sektor strategis, mulai dari mineral, energi, pertanian, pangan, hingga komoditas perkebunan. Pengembangan berbagai proyek itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri sekaligus memperkuat rantai industri nasional.

CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan proyek-proyek tersebut dikembangkan melalui dua tahap.

13 Proyek Hilirisasi Danantara Capai Rp225 Triliun

Rosan menjelaskan, tahap pertama mencakup enam proyek yang tersebar di 13 daerah. Setelah itu, pemerintah dan Danantara menambahkan proyek-proyek pada tahap berikutnya sehingga total portofolio hilirisasi yang digarap mencapai 13 proyek dengan nilai investasi sekitar Rp225 triliun.

“Yang menyangkut di Danantara, kita sudah melakukan kurang lebih ada 13 di dalam dua tahap. Yang pertama di tahap pertama ada 6 proyek di 13 daerah, tahap kedua di 13 proyek tambahan sehingga total yang kami lakukan investasinya adalah Rp225 triliun,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Untuk memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai target, Danantara juga melakukan pemantauan secara berkala. Perkembangan investasi dan pembangunan setiap proyek dipantau melalui dashboard yang diperbarui setiap hari.

Sistem tersebut memungkinkan pengelola investasi melihat perkembangan proyek secara lebih terukur, termasuk progres pembangunan dan realisasi investasi.

Hilirisasi Mineral Jadi Fokus Utama

Sektor mineral menjadi salah satu pilar terbesar dalam portofolio hilirisasi Danantara. Berbagai proyek dikembangkan untuk mengubah komoditas mentah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Salah satunya adalah proyek pengolahan alumina menjadi aluminium, serta pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat.

Danantara juga mengembangkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. DME menjadi salah satu produk yang dikembangkan sebagai alternatif bahan bakar dan energi.

Di sektor nikel, terdapat pengembangan produksi stainless steel di Morowali, Sulawesi Tengah. Selain itu, terdapat proyek produksi carbon steel slab dengan bahan baku nikel.

Hilirisasi mineral lainnya mencakup produksi carbon steel slab dari bijih besi lokal di Cilegon, Banten. Ada pula pengembangan fasilitas produksi aspal Buton di Karawang, Jawa Barat, serta proyek hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur.

Beragam proyek tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperluas pemanfaatan sumber daya mineral Indonesia agar tidak berhenti pada ekspor bahan mentah.

Proyek Energi Ikut Dikembangkan

Agenda hilirisasi Danantara tidak hanya menyasar mineral. Sektor energi juga masuk dalam daftar proyek yang tengah dikembangkan.

Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah produksi bioavtur berbahan baku used cooking oil (UCO) di Cilacap, Jawa Tengah. Pengembangan bioavtur berbasis bahan baku tersebut sejalan dengan upaya memperluas penggunaan energi alternatif sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah minyak jelantah.

Selain itu, terdapat proyek pengembangan bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam paparan Rosan, terdapat pula pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai dan Cilacap. Danantara juga memasukkan proyek produksi tangki penyimpanan bahan bakar yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Palembang, Balikpapan, dan Mamuju.

Hilirisasi Pertanian dan Pangan Diperluas

Sektor pertanian dan pangan juga menjadi bagian dari strategi hilirisasi Danantara. Salah satu proyek yang dikembangkan adalah integrated poultry business yang mencakup berbagai wilayah di Indonesia.

Selain itu, terdapat proyek pengolahan industri garam yang mencakup Sampang, Madura, dan Balikpapan. Pengembangan industri tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat industri pangan dalam negeri.

Danantara juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan. Salah satu proyeknya adalah pengolahan minyak kelapa sawit menjadi oleokimia dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Proyek lainnya mencakup pengolahan pala menjadi oleoresin serta integrated coconut downstream processing di Maluku Tengah.

Investasi Hilirisasi Capai Rp181,4 Triliun

Di tingkat nasional, investasi hilirisasi juga menunjukkan perkembangan positif. Rosan menyebut sektor hilirisasi memberikan kontribusi sekitar 22,1% terhadap realisasi investasi nasional.

Pada semester I-2026, realisasi investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp181,4 triliun, atau tumbuh 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski begitu, investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral dengan nilai sekitar Rp121 triliun.

Pemerintah kini ingin memperluas porsi hilirisasi ke sektor lain seperti perkebunan, kehutanan, serta minyak dan gas bumi. Diversifikasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

Hilirisasi Didorong untuk Serap Tenaga Kerja

Menurut Rosan, hilirisasi berbasis perkebunan dan kehutanan memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja. Walaupun nilai investasi di sektor tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan proyek mineral, kebutuhan tenaga kerja dapat lebih tinggi.

Hal ini menjadi pertimbangan pemerintah dalam memperluas agenda hilirisasi. Strategi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperbesar kontribusi investasi terhadap ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja.

Dengan portofolio proyek mencapai Rp225 triliun, Danantara kini memiliki peran penting dalam mengawal pengembangan industri hilir nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh proyek dapat berjalan sesuai jadwal, memiliki keekonomian yang kuat, serta memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *