Cadangan Devisa Indonesia Menyusut, Rupiah Diprediksi Masih Tertekan pada 9 Juni 2026
Cuaninsight – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah kombinasi sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya ketegangan geopolitik global, hingga menurunnya posisi cadangan devisa Indonesia.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,84% ke level Rp18.188 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.171 per dolar AS atau turun 0,73% dibandingkan hari sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati arah pergerakan rupiah untuk perdagangan Selasa (9/6/2026), terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Penguatan Dolar AS dan Sentimen Risk Off Menekan Rupiah
Analis menilai pelemahan rupiah kali ini tidak terlepas dari meningkatnya sikap hati-hati investor global. Kondisi yang dikenal sebagai risk off membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah juga memicu kekhawatiran pasar. Ketidakpastian geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memperbesar kepemilikan aset safe haven.
Di sisi lain, kondisi domestik dinilai turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Menurut Lukman, pasar masih menghadapi sentimen negatif yang memengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Penurunan Cadangan Devisa Menjadi Sorotan
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah penurunan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026.
Data menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia mencapai US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Angka tersebut turun sekitar US$1,3 miliar dibandingkan posisi akhir April 2026 yang tercatat sebesar US$146,2 miliar.
Meski level cadangan devisa masih tergolong kuat untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional, penurunan tersebut tetap menjadi perhatian investor karena dapat mengurangi ruang intervensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar apabila tekanan eksternal terus meningkat.
Penurunan cadangan devisa ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat sentimen negatif terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Konflik Timur Tengah dan Koreksi Saham Teknologi Jadi Ancaman Baru
Selain faktor domestik, investor juga terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Harapan tercapainya perdamaian dinilai semakin sulit terwujud, sehingga risiko terhadap pasar keuangan global masih cukup tinggi.
Dari pasar modal global, aksi jual besar-besaran atau sell off pada saham-saham teknologi juga menjadi perhatian. Koreksi yang berlanjut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong investor kembali mencari aset yang lebih aman.
Apabila kondisi tersebut berlanjut, tekanan terhadap mata uang emerging market seperti rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Kekhawatiran Defisit Fiskal Ikut Membayangi
Sementara itu, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, melihat bahwa pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia.
Menurutnya, kekhawatiran investor muncul terkait potensi pelebaran defisit transaksi berjalan yang dipicu oleh menurunnya surplus perdagangan nasional. Di saat yang sama, berbagai program belanja pemerintah membutuhkan pendanaan yang besar.
Tekanan juga datang dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan kebutuhan subsidi energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan impor energi dan permintaan dolar AS berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Proyeksi Rupiah untuk Selasa 9 Juni 2026
Melihat berbagai sentimen yang berkembang, para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Lukman Leong memproyeksikan rupiah berada dalam rentang Rp18.250 hingga Rp18.400 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan tingginya ketidakpastian pasar saat ini. Namun satu hal yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana perkembangan sentimen global, kondisi geopolitik Timur Tengah, serta respons kebijakan ekonomi domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagi investor dan pelaku usaha, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah pasar keuangan Indonesia di tengah tantangan ekonomi global yang masih dinamis.

