Modal Rp700 Ribu di Kantin IPB, Susu Mbok Darmi Kini Punya 210 Outlet

Cuaninsight – Bisnis besar tidak selalu lahir dari modal besar. Kisah Susu Mbok Darmi menjadi salah satu contohnya. Berawal dari modal Rp700 ribu saat masih menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Dhony Pratama mampu mengembangkan bisnis susu pasteurisasi hingga memiliki 210 outlet dan hampir 1.000 karyawan.

Perjalanan tersebut dimulai pada 2013 dari sebuah gerai sederhana di kantin Fakultas Peternakan IPB. Kini, Susu Mbok Darmi yang berada di bawah naungan PT Sumoda Tama Berkah telah memperluas jaringan ke Jabodetabek dan Bandung.

Lebih dari sekadar memperbanyak gerai, bisnis yang dirintis Dhony juga membawa misi untuk mempertemukan konsumen dengan produk susu sekaligus membuka akses pasar bagi peternak lokal.

Berawal dari Modal Rp700 Ribu di Kantin IPB

Saat memulai usaha, Dhony belum memiliki jaringan toko besar maupun modal yang besar. Pria kelahiran Pontianak, 3 Oktober 1993, tersebut masih duduk di semester empat Fakultas Peternakan IPB.

Modal awalnya hanya Rp700 ribu yang dipinjam dari seorang teman. Dengan dana tersebut, ia membuka gerai pertama Susu Mbok Darmi di lingkungan kampus.

Latar belakang pendidikan peternakan membuat Dhony melihat peluang yang lebih luas. Menurutnya, persoalan industri susu bukan hanya bagaimana menjual produk kepada konsumen, tetapi juga bagaimana membantu peternak lokal menyalurkan hasil produksinya.

Pada masa awal pengembangan usaha, Susu Mbok Darmi bahkan hadir melalui gerobak dan gerai sederhana di sekitar kampus. Dari sana, Dhony mulai membangun konsep bahwa susu tidak harus selalu dibeli di supermarket. Produk susu dapat dibuat lebih dekat dengan masyarakat dan dikonsumsi sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Menghubungkan Peternak Lokal dengan Konsumen

Gagasan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari model bisnis Susu Mbok Darmi. Dhony ingin menciptakan kultur baru dalam mengonsumsi susu, dengan menghadirkan produk dalam format yang lebih menarik dan mudah dijangkau konsumen.

Di sisi lain, ia melihat adanya tantangan yang dihadapi peternak lokal. Penyaluran susu masih banyak bergantung pada koperasi, sementara jalur hilirisasi yang dapat menghubungkan peternak secara langsung dengan pasar masih terbatas.

Susu Mbok Darmi kemudian mengambil posisi sebagai penghubung dalam rantai tersebut. Saat ini, sekitar 70% kebutuhan susu perusahaan berasal langsung dari peternak lokal. Sementara itu, sekitar 30% lainnya diperoleh melalui koperasi.

Model tersebut membuat pertumbuhan bisnis tidak hanya berkaitan dengan jumlah outlet, tetapi juga dengan ekosistem peternakan yang menjadi sumber bahan baku.

Dari Bogor Menjadi 210 Outlet

Perjalanan selama lebih dari satu dekade membawa perubahan besar bagi Susu Mbok Darmi. Dari gerai kecil di kantin kampus, bisnis tersebut kini memiliki 210 outlet yang tersebar di Jabodetabek dan Bandung. Perusahaan juga telah memiliki hampir 1.000 karyawan.

Untuk mendukung skala operasional yang semakin besar, Susu Mbok Darmi memiliki pabrik dan gudang sendiri. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan rantai dingin yang dibutuhkan dalam bisnis susu pasteurisasi.

Pertumbuhan itu menunjukkan bagaimana model bisnis yang dimulai dari lingkungan kampus dapat berkembang menjadi jaringan usaha dengan rantai pasok dan operasional yang jauh lebih kompleks.

Pandemi Jadi Ujian Terberat

Namun, ekspansi Susu Mbok Darmi tidak selalu berlangsung mulus. Pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi salah satu periode paling berat dalam perjalanan perusahaan.

Penjualan sempat anjlok hampir 60% ketika pembatasan aktivitas membuat pergerakan konsumen berubah drastis. Kondisi tersebut menjadi semakin menantang karena pada periode yang sama terjadi perubahan dalam struktur internal perusahaan.

Dhony yang sebelumnya lebih banyak menangani branding, ekspansi, dan hubungan eksternal harus mengambil peran lebih besar dalam operasional setelah ditinggal partner bisnisnya. Situasi tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan cepat.

Beralih dari Offline ke Online

Sebelum pandemi, sekitar 90% penjualan Susu Mbok Darmi berasal dari kanal offline. Ketika aktivitas masyarakat dibatasi, perusahaan harus mengubah strategi distribusi dan pemasaran. Sekitar 70% penjualan kemudian dialihkan ke kanal online.

Transformasi tersebut mencakup penguatan pemasaran digital, konten, serta berbagai aktivitas yang memungkinkan produk tetap menjangkau konsumen ketika mobilitas masyarakat terbatas. Perubahan strategi menjadi bagian penting dari upaya perusahaan untuk bertahan ketika bisnis mengalami tekanan besar.

Pembiayaan BSI Rp500 Juta Bantu Bisnis Bertahan

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan modal menjadi salah satu tantangan utama. Susu Mbok Darmi kemudian memperoleh fasilitas pembiayaan dari PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI sebesar Rp500 juta.

Dhony menyebut pembiayaan tersebut tidak hanya digunakan untuk pengembangan usaha, tetapi juga membantu perusahaan bertahan ketika pandemi berlangsung.

Dana tersebut antara lain dimanfaatkan untuk memperkuat transformasi digital, termasuk kebutuhan pemasaran dan pembuatan konten ketika perilaku konsumen mulai bergeser dari transaksi offline ke online.

Selain pembiayaan, Susu Mbok Darmi juga menggunakan layanan perbankan BSI lainnya, termasuk fasilitas penggajian karyawan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan bisnis setelah perusahaan mengalami penurunan penjualan yang cukup dalam.

Kini Jual hingga 2 Juta Cup per Bulan

Setelah melewati periode pandemi dan melakukan berbagai penyesuaian, skala bisnis Susu Mbok Darmi kembali berkembang. Saat ini, seluruh outlet perusahaan mampu menjual sekitar 1 juta hingga 2 juta cup susu setiap bulan.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator pemulihan bisnis sekaligus menunjukkan besarnya pasar yang dapat dibangun dari produk susu pasteurisasi dengan konsep yang dekat dengan konsumen. Meski demikian, Dhony melihat perjalanan Susu Mbok Darmi masih jauh dari selesai.

Target 250 Outlet pada Akhir 2026

Dhony menargetkan jaringan Susu Mbok Darmi bertambah menjadi 250 outlet hingga akhir 2026. Ekspansi juga diarahkan ke sejumlah wilayah baru di Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Dalam dua tahun mendatang, perusahaan bahkan menargetkan jumlah outlet dapat mencapai 450 gerai. Target tersebut menunjukkan bahwa strategi ekspansi masih menjadi bagian penting dari agenda pertumbuhan perusahaan.

Namun, pertumbuhan jaringan tidak berarti Susu Mbok Darmi akan langsung membuka skema franchise atau kemitraan.

Tetap Kelola Outlet Sendiri

Salah satu prinsip yang masih dipertahankan perusahaan adalah pengelolaan outlet secara mandiri. Hingga saat ini, Susu Mbok Darmi belum membuka skema franchise maupun kemitraan. Seluruh outlet masih dikelola sendiri agar standar operasional, prinsip bisnis, dan budaya perusahaan dapat dipertahankan.

Bagi Dhony, ekspansi bukan hanya persoalan menambah jumlah toko. Ada sejumlah aspek lain yang ingin tetap dijaga, mulai dari keterlibatan peternak lokal, pertumbuhan karyawan, hingga hubungan dengan konsumen.

Dari modal Rp700 ribu di kantin IPB hingga 210 outlet, perjalanan Susu Mbok Darmi memperlihatkan bagaimana sebuah bisnis dapat tumbuh melalui kombinasi inovasi, kemampuan beradaptasi, penguatan rantai pasok, dan dukungan pembiayaan.

Kini, target 450 outlet menjadi babak berikutnya bagi Dhony dan timnya untuk membawa bisnis susu tersebut tumbuh lebih jauh tanpa meninggalkan ekosistem lokal yang sejak awal menjadi bagian dari fondasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *