Intikeramik (IKAI) Bidik Kinerja Lebih Moncer, Pertumbuhan Berkelanjutan hingga 2028
Cuan Insight– PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) terus mempercepat transformasi bisnis sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya saing di tengah dinamika ekonomi global. Perseroan menilai penguatan tata kelola perusahaan, efisiensi operasional, serta restrukturisasi bisnis menjadi fondasi utama dalam menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang menghasilkan sejumlah keputusan strategis, termasuk perubahan susunan dewan komisaris guna memperkuat arah transformasi perusahaan.
Melalui langkah ini, IKAI berharap mampu meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperkuat posisi bisnis di sektor manufaktur dan perhotelan yang menjadi dua pilar utama perseroan.
Penguatan Komisaris Dukung Transformasi Perusahaan
Salah satu keputusan penting dalam RUPST adalah penunjukan Tedjodiningrat Broto Asmoro sebagai Komisaris Perseroan.
Kehadirannya melengkapi jajaran Dewan Komisaris yang dipimpin Komisaris Utama William Daniel bersama Komisaris Bernardus Djonoputro. Manajemen meyakini kombinasi pengalaman para komisaris akan memperkuat implementasi tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) sekaligus mengawal strategi pertumbuhan jangka panjang.
William Daniel menjelaskan bahwa penambahan anggota komisaris merupakan bagian dari langkah strategis untuk memperkuat kualitas pengambilan keputusan di tingkat pengawasan.
Ia juga menilai pengalaman Bernardus Djonoputro dalam bidang pengembangan kawasan, infrastruktur, hingga perencanaan wilayah menjadi nilai tambah bagi perusahaan.
Dengan rekam jejak lebih dari tiga dekade di berbagai perusahaan konsultan global serta pengalaman memimpin pengembangan kawasan metropolitan, Bernardus dinilai mampu memberikan perspektif strategis dalam pengembangan bisnis baru IKAI.
Roadmap Pertumbuhan Hingga 2028
IKAI telah menyusun peta jalan transformasi perusahaan yang terbagi dalam tiga fase utama. Tahap pertama adalah Fase Rekondisi yang dijalankan sepanjang 2026 dengan fokus memperkuat fondasi keuangan, meningkatkan efisiensi, dan memperbaiki struktur modal.
Selanjutnya, perusahaan akan memasuki Fase Optimalisasi pada 2027 untuk meningkatkan profitabilitas seluruh lini usaha. Sementara itu, mulai 2028 perseroan menargetkan Fase Ekspansi, yaitu memperluas sumber pendapatan melalui pengembangan bisnis baru yang lebih beragam.
Strategi bertahap tersebut dirancang agar pertumbuhan perusahaan berlangsung secara terukur sekaligus menjaga kesehatan keuangan dalam jangka panjang.

Kinerja Operasional Mulai Menunjukkan Perbaikan
Direktur Utama IKAI, Desra Firza Ghazfan, mengungkapkan bahwa berbagai strategi restrukturisasi yang dijalankan sejak semester kedua 2025 mulai menunjukkan hasil positif.
Di sektor manufaktur, produksi keramik premium Essenza berhasil melampaui 1,1 juta meter persegi sepanjang tahun.
Sementara itu, bisnis hospitality juga menunjukkan pemulihan dengan tingkat okupansi rata-rata jaringan hotel mencapai 72,5 persen.
Perbaikan tersebut menjadi sinyal positif bahwa strategi efisiensi dan restrukturisasi operasional mulai memberikan dampak terhadap performa bisnis perusahaan.
EBITDA Berbalik Positif
Dari sisi keuangan, IKAI membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp148,9 miliar. Salah satu pencapaian penting adalah perubahan EBITDA yang sebelumnya berada di zona negatif menjadi positif sebesar Rp5,2 miliar pada kuartal IV 2025.
Selain itu, pertumbuhan pendapatan pada kuartal terakhir tahun 2025 mencapai 71 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai langkah pemulihan yang dilakukan perusahaan mulai menghasilkan perbaikan fundamental.
Manajemen optimistis tren positif ini dapat terus berlanjut sepanjang 2026.
Restrukturisasi Perkuat Dua Pilar Bisnis
Pada lini manufaktur, unit usaha INKA berhasil mencatat pendapatan sekitar Rp75 miliar setelah menjalankan restrukturisasi proses bisnis dan optimalisasi produksi.
Perusahaan juga telah menyelesaikan kewajiban kepada Bank Mandiri senilai Rp22 miliar yang berasal dari proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
Di sisi lain, bisnis perhotelan juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Unit HPI membukukan EBITDA positif sebesar Rp16 miliar, sedangkan SMS mencatat EBITDA sebesar Rp9,4 miliar seiring meningkatnya performa operasional pada paruh kedua 2025.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kedua sektor utama IKAI mulai kembali memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perusahaan.
Siapkan Pilar Bisnis Baru pada 2026
Memasuki tahun 2026, IKAI tidak hanya fokus memperkuat bisnis yang sudah berjalan, tetapi juga mulai membangun sumber pendapatan baru. Salah satu strategi yang disiapkan adalah pengembangan bisnis Integrated Land Development, yang mencakup pengembangan kawasan, pengelolaan hak atas tanah, penyediaan utilitas, hingga sektor energi.
Diversifikasi ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu sektor usaha.
Manajemen juga menargetkan pendapatan sepanjang 2026 dapat melampaui periode sebelum perusahaan menjalani major maintenance, sehingga menjadi pijakan menuju fase optimalisasi pada tahun berikutnya.
Cuan Insight: Transformasi Fundamental Jadi Sinyal Positif bagi Investor
Bagi investor, langkah yang ditempuh IKAI menunjukkan fokus perusahaan pada penguatan fundamental, bukan sekadar mengejar pertumbuhan jangka pendek. Restrukturisasi keuangan, efisiensi operasional, perbaikan EBITDA, serta diversifikasi bisnis menjadi indikator penting yang kerap diperhatikan pasar dalam menilai prospek sebuah emiten.
Selain itu, roadmap yang jelas hingga 2028 memberikan gambaran mengenai arah pengembangan perusahaan, mulai dari fase pemulihan, optimalisasi, hingga ekspansi. Jika seluruh strategi tersebut dapat dieksekusi secara konsisten, IKAI berpeluang meningkatkan profitabilitas sekaligus memperkuat daya saing di sektor manufaktur, hospitality, dan pengembangan kawasan.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan realisasi target, kondisi ekonomi makro, serta kinerja keuangan setiap kuartal sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan kombinasi tata kelola yang semakin kuat dan strategi pertumbuhan yang terukur, IKAI berupaya membangun fondasi bisnis yang lebih sehat untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.

