Dolar Melesat, Aprisindo Pilih Tahan PHK Meski Biaya Produksi Melonjak
Cuaninsight – Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai menekan industri alas kaki nasional. Aprisindo memilih strategi wait and see sambil berupaya menahan PHK meski biaya bahan baku impor melonjak hingga 40 persen.
Rupiah Melemah, Industri Alas Kaki Bertahan Sambil Menahan Risiko PHK
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan serius bagi berbagai sektor industri nasional. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah industri alas kaki yang selama ini masih bergantung pada bahan baku impor untuk menjaga kapasitas produksi.
Kondisi kurs yang terus melemah membuat biaya impor meningkat tajam. Situasi ini memaksa pelaku industri untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah bisnis, terutama terkait keberlangsungan operasional dan tenaga kerja.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri memilih bersikap wait and see sambil berusaha mempertahankan produksi dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam waktu dekat.
Biaya Bahan Baku Impor Melonjak Hingga 40 Persen
Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia, Yoseph Billie Dosiwoda, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi industri alas kaki saat ini adalah kenaikan biaya pembelian bahan baku impor.
Menurutnya, pelemahan rupiah telah menyebabkan biaya pengadaan bahan baku meningkat sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan kondisi sebelumnya. Kenaikan tersebut tentu menjadi beban tambahan bagi perusahaan yang harus menjaga efisiensi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain meningkatkan biaya produksi, melemahnya nilai tukar juga berdampak pada daya beli masyarakat dan kondisi pekerja yang bergantung pada stabilitas industri manufaktur.
Strategi Wait and See untuk Menjaga Operasional
Menghadapi kondisi tersebut, para pelaku industri memilih mengambil langkah hati-hati. Aprisindo menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan anggota saat ini masih berupaya mempertahankan operasional tanpa melakukan pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran.
Strategi wait and see dipilih untuk melihat perkembangan ekonomi dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Harapannya, kondisi pasar dan nilai tukar dapat kembali stabil sehingga tekanan terhadap industri tidak semakin berat.
Langkah ini dinilai penting mengingat sektor alas kaki merupakan salah satu industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di Indonesia.
Industri Sulit Menyesuaikan Harga Produk Ekspor
Meski biaya produksi meningkat, produsen alas kaki tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk ekspor. Hal ini karena harga umumnya telah ditentukan oleh pembeli atau buyer internasional.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak perusahaan menjadi terbatas. Di satu sisi biaya bahan baku naik, namun di sisi lain harga jual produk tidak mudah disesuaikan.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen yang harus menjaga margin usaha agar tetap sehat tanpa kehilangan daya saing di pasar global.
Harapan pada Permintaan Ekspor
Di tengah tekanan kurs dan biaya produksi yang meningkat, industri alas kaki masih berharap permintaan dari pasar ekspor tetap kuat. Pesanan dari buyer internasional dianggap menjadi faktor penting untuk menjaga roda produksi tetap berjalan.
Jika permintaan ekspor dapat dipertahankan, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk menjaga tingkat produksi sekaligus mempertahankan tenaga kerja yang ada.
Sebaliknya, apabila tekanan ekonomi global disertai penurunan permintaan ekspor, maka tantangan yang dihadapi industri akan semakin kompleks.
Industri Padat Karya Butuh Stabilitas Ekonomi
Sektor alas kaki selama ini menjadi salah satu penyumbang ekspor manufaktur Indonesia yang cukup signifikan. Karena sifatnya yang padat karya, stabilitas ekonomi dan nilai tukar memiliki pengaruh langsung terhadap keberlangsungan usaha.
Pelaku industri berharap pemerintah dan otoritas terkait dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk nilai tukar rupiah, agar sektor manufaktur tetap kompetitif di pasar internasional.
Untuk saat ini, fokus utama industri adalah bertahan menghadapi tekanan biaya, menjaga produksi tetap berjalan, serta menghindari PHK yang dapat berdampak pada ribuan pekerja di sektor alas kaki nasional.

