Kredit Menganggur Perbankan Tembus Rp2.506 Triliun, Sinyal Kehati-hatian?

Cuaninsight – Awal tahun 2026 dibuka dengan fenomena yang menarik di sektor perbankan nasional. Di tengah pertumbuhan kredit yang hampir menyentuh dua digit secara tahunan, jumlah kredit menganggur atau undisbursed loan justru menunjukkan tren kenaikan. Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi kredit yang belum tersalurkan mencapai Rp2.506,47 triliun atau setara 22,65% dari total kredit perbankan.

Angka ini meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar Rp2.439,2 triliun atau 22,12%. Artinya, meskipun bank mencatat pertumbuhan penyaluran kredit, masih ada dana besar yang tertahan dan belum benar-benar mengalir ke sektor riil.

Mengapa Kredit Menganggur Naik?

Menurut Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, kenaikan undisbursed loan terjadi karena bank masih melakukan kajian mendalam sebelum menyalurkan kredit.

Di tengah kondisi likuiditas yang membaik, banyak bank memiliki pipeline kredit yang cukup besar, terutama pada sektor-sektor prioritas pemerintah yang relatif baru. Namun, kehati-hatian dalam menilai risiko membuat proses persetujuan kredit berjalan lebih lambat.

Bank cenderung memperkuat analisis risiko sebelum mencairkan fasilitas kredit, terutama pada sektor baru yang belum memiliki rekam jejak panjang. Strategi ini dinilai wajar untuk menjaga kualitas aset dan menghindari lonjakan kredit bermasalah di masa depan.

Likuiditas Longgar, Penyaluran Masih Tertahan

Kondisi likuiditas perbankan sebenarnya tergolong solid. Namun, likuiditas yang longgar tidak otomatis mendorong percepatan pencairan kredit.

Di satu sisi, permintaan pembiayaan memang ada, terutama dari sektor UMKM dan proyek prioritas nasional. Di sisi lain, bank tetap selektif dalam menilai prospek usaha, arus kas debitur, hingga sensitivitas terhadap perubahan suku bunga.

Tren suku bunga yang berpotensi menurun pada 2026 diperkirakan dapat menjadi katalis bagi percepatan kredit. Namun hingga awal tahun, kehati-hatian masih mendominasi strategi penyaluran dana.

Bank-Bank Besar Ikut Catat Kenaikan

Fenomena kredit menganggur ini juga tercermin pada bank-bank besar nasional.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat kredit menganggur per Januari 2026 sebesar Rp464,82 triliun, naik 8,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, total penyaluran kredit BCA tetap tumbuh 6,26% secara tahunan menjadi Rp948,95 triliun.

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk membukukan kredit menganggur Rp284,36 triliun, meningkat 8,75% YoY. Di saat yang sama, penyaluran kreditnya melonjak 15,62% menjadi Rp1.511 triliun.

Kenaikan paling signifikan tercatat di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dengan lonjakan kredit menganggur hingga 64,22% menjadi Rp90,08 triliun per Desember 2025. Meski demikian, kredit yang disalurkan tetap tumbuh 15,95% YoY.

Berbeda dengan tren tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk menunjukkan stabilitas. Kredit menganggur perseroan justru turun tipis 2,95% menjadi Rp107,55 triliun per November 2025, sementara penyaluran kredit tumbuh 6,36% YoY menjadi Rp162,21 triliun.

Manajemen CIMB Niaga menegaskan fokus pada optimalisasi penggunaan kredit existing, bukan sekadar menaikkan plafon yang belum tentu dimanfaatkan debitur.

Dampak bagi Perekonomian

Meningkatnya kredit menganggur menandakan adanya jeda antara komitmen pembiayaan dan realisasi pencairan. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini berpotensi menahan laju ekspansi ekonomi karena dana belum sepenuhnya mengalir ke sektor produktif.

Namun dari sisi stabilitas, pendekatan prudent perbankan justru membantu menjaga kualitas kredit dan kesehatan industri keuangan.

Ke depan, percepatan evaluasi risiko dan kepastian arah suku bunga akan menjadi faktor penting dalam mendorong realisasi kredit. Jika suku bunga turun dan prospek ekonomi membaik, pipeline kredit yang besar saat ini berpotensi segera terealisasi dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *