Vale Kejar Cadangan Nikel Tanamalia, Eksplorasi Ditargetkan Rampung 2027

Cuan Insight – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus mematangkan rencana pengembangan tambang nikel baru di Blok Tanamalia, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Saat ini, perusahaan masih melakukan pemetaan secara lebih mendalam terhadap sumber daya dan cadangan bijih nikel di kawasan tersebut.

Proses eksplorasi dan pendetailan sumber daya ditargetkan rampung pada akhir 2027. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar penting bagi Vale Indonesia untuk menentukan skala pengembangan tambang, umur operasi, hingga kebutuhan pembangunan fasilitas pengolahan nikel.

Pengembangan Blok Tanamalia menjadi salah satu proyek strategis Vale Indonesia karena berpotensi memperkuat basis sumber daya nikel perusahaan dalam jangka panjang. Namun, sebelum masuk tahap konstruksi, perusahaan masih harus memastikan potensi cadangan serta kelayakan teknis dan lingkungan dari proyek tersebut.

Eksplorasi Tanamalia Masuk Tahap FEL II

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan pengembangan Tanamalia kini memasuki studi Front End Loading (FEL) tahap II.

Tahap tersebut berfokus pada kajian lebih mendalam untuk mengetahui secara detail sumber daya dan cadangan bijih nikel yang tersedia. Informasi tersebut nantinya menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan desain serta skala industri tambang.

“2027 tuh proses pendetailan eksplorasi, studi eksplorasi tahap 2 dan nanti ada pendetailan desain,” ujar Budiawansyah dalam taklimat media di Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2026).

Setelah FEL II selesai, Vale Indonesia akan mempersiapkan FEL III. Pada tahap ini, kajian akan bergerak lebih jauh menuju perencanaan konstruksi tambang, termasuk aspek keselamatan dan pengelolaan dampak lingkungan.

Menurut Budiawansyah, aspek lingkungan menjadi bagian penting dalam desain tambang Tanamalia. Perusahaan ingin memastikan aktivitas pertambangan dapat dilakukan secara aman sekaligus mengendalikan potensi dampaknya terhadap lingkungan.

Tambang Tanamalia Berpotensi Mulai 2029

Jika proses eksplorasi dan pembangunan dapat dilakukan sesuai rencana, kegiatan penambangan di Blok Tanamalia berpotensi dimulai paling cepat pada 2029.

Namun, jadwal tersebut masih sangat bergantung pada hasil eksplorasi dan kajian teknis yang sedang berlangsung. Vale perlu memastikan terlebih dahulu berapa besar sumber daya dan cadangan yang dapat ditambang secara ekonomis.

Budiawansyah menyebut rentang pengembangan Tanamalia berada pada periode 2029–2031. Hasil eksplorasi akan menentukan berapa besar skala industri yang dapat dikembangkan sekaligus memperkirakan life of mine atau umur tambang.

Dengan kata lain, semakin jelas potensi cadangan yang ditemukan, semakin akurat pula perusahaan dalam menentukan kapasitas produksi dan masa operasi tambang.

Apabila kandungan nikel dinilai memadai, konstruksi tambang diperkirakan dapat dimulai pada periode 2027–2028, sebelum kegiatan produksi berjalan paling cepat pada 2031 berdasarkan skenario pengembangan yang lebih konservatif.

Blok Tanamalia Punya Area Eksplorasi Luas

Blok Tanamalia merupakan bagian dari Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Vale Indonesia yang mencakup subblok IUPK Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas sekitar 13.556 hektare.

Selain itu, kawasan Tanamalia berada di wilayah hutan Sorowako dengan area izin eksplorasi lanjutan mencapai 17.239 hektare. Area Tanamalia mencakup Desa Loeha dan sebagian kecil Desa Rante Angin di Luwu Timur.

Besarnya area eksplorasi membuat proses pemetaan sumber daya membutuhkan kajian secara bertahap dan terperinci. Perusahaan tidak hanya perlu menghitung potensi kandungan nikel, tetapi juga memastikan rencana penambangan memenuhi aspek teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Smelter HPAL Disiapkan Bersama Mitra

Pengembangan tambang Tanamalia juga dikaitkan dengan rencana pembangunan fasilitas high pressure acid leach (HPAL) yang terintegrasi dengan tambang.

Fasilitas tersebut direncanakan dibangun bersama mitra strategis. Salah satu nama yang disebut-sebut memiliki ketertarikan terhadap proyek tersebut adalah perusahaan otomotif asal Eropa, termasuk Volkswagen AG (VW) melalui divisi baterainya, PowerCo.

Presiden Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan perusahaan belum dapat memberikan banyak informasi mengenai calon mitra tersebut. Menurutnya, terdapat perjanjian kerahasiaan atau confidentiality agreement yang membuat perusahaan belum bisa mengungkap detail kerja sama.

Ia menegaskan, apabila kerja sama sudah mencapai tahap formal, Vale Indonesia akan mengumumkannya kepada publik.

Dengan demikian, pasar masih perlu menunggu kepastian mengenai siapa mitra yang akan terlibat dalam pembangunan smelter HPAL Tanamalia serta bagaimana struktur kerja sama tersebut nantinya.

ESG Jadi Faktor Penting Proyek Nikel

Selain cadangan dan keekonomian proyek, aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi perhatian dalam pengembangan industri nikel Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) disebut tengah menyusun standar ESG nasional melalui gap analysis antara regulasi domestik dan standar internasional. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesesuaian proyek mineral kritis Indonesia dengan kebutuhan investor global.

Ketertarikan investor asing terhadap proyek nikel Indonesia juga semakin berkaitan erat dengan pemenuhan standar ESG. Dalam konteks Tanamalia, persyaratan tersebut menjadi penting mengingat produk nikel yang dihasilkan berpotensi masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Karena itu, pengembangan Tanamalia bukan sekadar mengejar tambahan produksi nikel. Vale Indonesia juga perlu memastikan seluruh rantai proyek, mulai dari eksplorasi, konstruksi, pertambangan hingga pengolahan, mampu memenuhi standar keberlanjutan yang semakin ketat.

Tanamalia Jadi Proyek Jangka Panjang Vale

Dengan eksplorasi yang ditargetkan semakin detail hingga 2027, proyek Tanamalia masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum benar-benar memasuki fase produksi.

Hasil eksplorasi akan menjadi penentu utama keputusan investasi berikutnya. Jika cadangan nikel yang ditemukan memenuhi kebutuhan industri dan proyek dinilai layak secara ekonomi serta lingkungan, pembangunan tambang dan smelter dapat berlanjut sesuai rencana.

Bagi Vale Indonesia, keberhasilan pengembangan Tanamalia berpotensi memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok nikel dan baterai kendaraan listrik. Namun, bagi investor, perkembangan proyek ini tetap perlu dicermati bersama faktor harga nikel, kebutuhan industri baterai global, investasi smelter, serta komitmen ESG perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *