Rights Issue BUVA Segera Digelar, 4 Pembeli Siaga Siapkan Dana hingga Rp938,56 Miliar
Cuan Insight – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) kembali mengambil langkah korporasi melalui aksi rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II). Perseroan menargetkan dana maksimal sekitar Rp1,53 triliun dari aksi tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada Senin (3/8/2026), BUVA berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6.154.263.660 saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan PMHMETD II.
Setiap saham baru memiliki nilai nominal Rp50 dengan harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp250 per saham. Dengan jumlah saham maksimal yang diterbitkan, total dana yang berpotensi dihimpun perseroan mencapai Rp1.538.565.915.000.
Aksi korporasi ini menjadi perhatian investor karena dilakukan ketika harga saham BUVA masih berada dalam tekanan. Pada Selasa (4/8/2026), saham BUVA berada di level Rp760 per saham, turun 2,56% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Secara year to date, saham BUVA juga tercatat telah terkoreksi sekitar 49,16%.
Cuan Insight: Bagaimana Skema Rights Issue BUVA?
BUVA menetapkan rasio rights issue sebesar 4:1. Artinya, setiap pemegang empat saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 28 September 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh satu Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
HMETD tersebut dapat digunakan untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Skema ini memberikan kesempatan kepada pemegang saham lama untuk mempertahankan proporsi kepemilikannya dengan mengeksekusi HMETD sesuai hak yang diperoleh.
Namun, investor perlu memperhatikan risiko dilusi. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam PMHMETD II berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 20% setelah saham baru diterbitkan.
Empat Pembeli Siaga Disiapkan
Untuk memastikan penyerapan saham baru, BUVA telah menyiapkan mekanisme pembeli siaga apabila masih terdapat saham yang tidak terserap oleh pemegang HMETD.
PT Nusantara Utama Investama (NUI), selaku pemegang saham utama sekaligus pengendali BUVA dengan kepemilikan 61,07%, akan memperoleh sebanyak 3.758.507.943 HMETD.
NUI telah menyatakan komitmen untuk melaksanakan sebanyak-banyaknya 2,4 miliar HMETD dalam aksi korporasi tersebut.
Apabila masih terdapat saham yang belum terserap, perseroan terlebih dahulu akan mengalokasikannya secara proporsional kepada pemegang saham lain yang melakukan pemesanan tambahan.
Jika tetap terdapat sisa saham, empat pembeli siaga akan menjalankan komitmennya berdasarkan standby buyer agreement tertanggal 27 Juli 2026.
Keempat pembeli siaga tersebut adalah:
- Ferry Sudjono, dengan komitmen maksimal Rp388,56 miliar.
- PT Tata Tirta Datun, maksimal Rp350 miliar.
- PT Henan Putihrai Sekuritas, maksimal Rp100 miliar.
- Hapsoro, maksimal Rp100 miliar.
Keberadaan pembeli siaga memberikan lapisan tambahan dalam mekanisme penyerapan saham baru yang ditawarkan melalui rights issue.
Cuan Insight: Kinerja Operasional BUVA Mulai Membaik
Rights issue BUVA dilakukan di tengah perbaikan sejumlah indikator operasional perseroan sepanjang semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, pendapatan BUVA mencapai Rp173,95 miliar, meningkat sekitar 4,71% dibandingkan Rp166,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan pendapatan turut mendorong laba bruto menjadi Rp120,93 miliar, naik 7,33% dari Rp112,66 miliar pada semester I-2025.
Dari sisi laba usaha, BUVA mencatatkan Rp27,40 miliar, meningkat dibandingkan Rp23,40 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa aktivitas operasional perusahaan pengelola bisnis hotel dan properti tersebut masih mencatat pertumbuhan.
Laba Bersih Justru Tertekan
Meski pendapatan dan laba usaha meningkat, kinerja laba bersih BUVA justru mengalami penurunan signifikan. Perseroan membukukan laba periode berjalan sebesar Rp8,42 miliar pada semester I-2026. Angka tersebut merosot dibandingkan Rp81,39 miliar pada semester I-2025.
Salah satu faktor utama penurunan tersebut adalah melemahnya kontribusi bagian laba neto entitas asosiasi. Pos ini turun drastis menjadi Rp1,99 miliar dari sebelumnya Rp77,10 miliar.
Selain itu, BUVA mencatat rugi selisih kurs Rp18,52 miliar dan beban keuangan sebesar Rp2,15 miliar. Kedua pos tersebut turut memberikan tekanan terhadap laba bersih perseroan.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi investor karena menunjukkan bahwa pertumbuhan operasional belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan profitabilitas di tingkat akhir.
Cuan Insight: Dana Rights Issue untuk Perkuat Modal
Dari sisi neraca, total aset BUVA pada 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp2,73 triliun, sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang mencapai Rp2,71 triliun. Melalui rights issue, perseroan berupaya memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung pengembangan bisnis properti dan perhotelan.
Tambahan modal dapat menjadi faktor penting bagi perusahaan untuk menjalankan ekspansi maupun memperkuat kapasitas bisnis. Namun, investor tetap perlu melihat bagaimana dana hasil aksi korporasi tersebut nantinya digunakan dan seberapa besar dampaknya terhadap kinerja keuangan.
Pasalnya, tantangan BUVA bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga agar pertumbuhan operasional dapat menghasilkan laba bersih yang lebih konsisten.
Jadwal Rights Issue BUVA
Berdasarkan jadwal sementara, BUVA telah memperoleh persetujuan RUPSLB pada 26 Februari 2026. Pernyataan pendaftaran ditargetkan efektif pada 16 September 2026. Sementara itu, cum-HMETD di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 24 September 2026, kemudian ex-HMETD pada 25 September 2026.
Pencatatan HMETD di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 30 September 2026. Perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung pada 1–14 Oktober 2026.
Distribusi saham hasil pelaksanaan HMETD dijadwalkan pada 5–16 Oktober 2026, sedangkan pembayaran dari pembeli siaga dijadwalkan pada 21 Oktober 2026.
Dengan target dana Rp1,53 triliun, rights issue BUVA menjadi aksi korporasi penting untuk memperkuat permodalan dan menopang ekspansi bisnis. Namun, investor tetap perlu mencermati potensi dilusi, penggunaan dana, serta kemampuan perseroan mengembalikan pertumbuhan operasional menjadi laba bersih yang berkelanjutan.
