Bank Neo Commerce Raup Laba Rp294,85 Miliar, Strategi Kredit Ritel dan QRIS

Cuan Insight– PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026 dengan membukukan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar. Capaian tersebut meningkat 6,81 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp276,05 miliar.

Kinerja ini memperlihatkan bahwa strategi transformasi digital serta penguatan tata kelola yang diterapkan perusahaan mulai memberikan hasil positif, meski industri perbankan masih menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi dan dinamika pasar keuangan.

Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, mengatakan bahwa perusahaan tetap konsisten menghadirkan layanan keuangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya untuk aktivitas finansial sehari-hari.

Menurutnya, fokus utama perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperkuat tata kelola agar pertumbuhan tersebut dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan

Cuan Insight: Strategi Beralih ke Kredit Konsumer dan UMKM

Di tengah tekanan ekonomi, Bank Neo Commerce memilih melakukan penyesuaian portofolio pembiayaan dengan mengurangi eksposur pada segmen komersial dan korporasi.

Hingga akhir Juni 2026, total penyaluran kredit tercatat sebesar Rp7,13 triliun, turun 11,79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kualitas aset dan mengoptimalkan portofolio pembiayaan.

Meski demikian, pembiayaan pada segmen konsumer dan UMKM justru menunjukkan tren positif. Nilai kredit gabungan kedua segmen tersebut mencapai Rp5,80 triliun, tumbuh 6,68 persen dibandingkan semester I 2025.

Langkah ini memperlihatkan bahwa Bank Neo Commerce semakin fokus menggarap pasar ritel yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang sekaligus risiko yang lebih terukur melalui sistem analisis digital.

Selain mendorong ekspansi kredit, perusahaan juga berhasil memperbaiki kualitas aset. Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 2,99 persen, lebih rendah dibandingkan 3,10 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan tersebut merupakan hasil dari penguatan manajemen risiko, penyempurnaan proses underwriting berbasis digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Efisiensi Operasional Makin Baik

Di sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Neo Commerce mencapai Rp12,30 triliun hingga akhir Juni 2026. Walaupun secara keseluruhan DPK turun 7,74 persen, dana tabungan justru mengalami pertumbuhan 2,10 persen menjadi Rp3,39 triliun.

Pertumbuhan dana murah tersebut berdampak positif terhadap rasio Current Account Saving Account (CASA) yang meningkat menjadi 32,21 persen, dibandingkan 30,09 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Chief Financial Officer Bank Neo Commerce, Sufen Triantio, menjelaskan bahwa perusahaan secara bertahap menurunkan suku bunga deposito sehingga mampu menekan cost of fund.

Strategi tersebut membuat margin bunga semakin sehat karena kenaikan yield mampu diimbangi dengan biaya dana yang lebih rendah. Selain itu, perusahaan terus mengembangkan layanan wealth management dan transaksi digital guna meningkatkan penghimpunan dana murah dari nasabah.

QRIS Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Salah satu pencapaian paling menonjol datang dari layanan pembayaran digital melalui QRIS. Jumlah transaksi QRIS melonjak 124 persen, dari sekitar 119,3 juta transaksi pada semester I 2025 menjadi 267,4 juta transaksi pada semester I 2026.

Tidak hanya volume transaksi yang meningkat, pendapatan dari layanan QRIS juga tumbuh sangat signifikan.

Pendapatan QRIS mencapai Rp25,8 miliar, atau melonjak sekitar 246 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,4 miliar.

Peningkatan ini menunjukkan semakin besarnya kontribusi layanan digital terhadap pendapatan nonbunga perusahaan. Sejalan dengan itu, fee based income juga meningkat menjadi Rp59,66 miliar, naik 6,77 persen secara tahunan.

Permodalan Semakin Solid untuk Ekspansi

Dari sisi kesehatan keuangan, Bank Neo Commerce juga mencatatkan penguatan struktur modal. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 50,23 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan 41,27 persen pada semester I 2025.

Modal inti perusahaan juga tumbuh 14,52 persen menjadi Rp4,20 triliun. Sementara itu, efisiensi operasional terus membaik yang tercermin dari rasio BOPO yang turun menjadi 82,31 persen dari sebelumnya 84,81 persen.

Di sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 3,23 persen, menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki semakin optimal.

Dengan fondasi permodalan yang semakin kuat, peningkatan transaksi digital, serta fokus pada pembiayaan konsumer dan UMKM, Bank Neo Commerce optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat posisinya di industri perbankan digital Indonesia sepanjang sisa tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *