Naik 4,5%, Penjualan HM Sampoerna Capai Rp87,51 Triliun hingga September 2026
Cuaninsight – PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2026. Emiten rokok yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membukukan penjualan bersih Rp87,51 triliun hingga September 2026, meningkat 4,50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan penjualan tersebut diikuti kenaikan laba yang lebih tinggi. Berdasarkan laporan keuangan interim yang dirilis pada Selasa (27/10/2026), laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp6,51 triliun. Angka ini melonjak 44,35% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan Rp4,51 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan laba HMSP jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualannya. Meski beban pokok penjualan ikut meningkat, perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan laba kotor dan laba sebelum pajak.
Penjualan HMSP Tumbuh 4,50% Menjadi Rp87,51 Triliun
HM Sampoerna membukukan penjualan bersih sebesar Rp87,51 triliun selama Januari–September 2026. Realisasi ini meningkat dari Rp83,74 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara nominal, penjualan bersih perusahaan bertambah sekitar Rp3,77 triliun. Pertumbuhan sebesar 4,50% tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis HMSP di tengah dinamika industri hasil tembakau.
Namun, peningkatan penjualan juga diikuti kenaikan beban pokok penjualan. Dalam laporan keuangan yang sama, beban pokok penjualan HMSP tercatat Rp71,49 triliun, naik 4,62% yoy dari Rp68,33 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Kenaikan beban pokok penjualan yang sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan membuat laju pertumbuhan laba kotor berada di bawah pertumbuhan penjualan. Meski demikian, perusahaan masih mampu meningkatkan laba kotor menjadi Rp16,01 triliun dari sebelumnya Rp15,41 triliun.
Artinya, pertumbuhan penjualan HMSP tetap menghasilkan tambahan laba kotor, meskipun tekanan biaya perlu diperhatikan dalam mengevaluasi kinerja operasional perusahaan.
Laba Sebelum Pajak HMSP Melonjak 21,54%
Pertumbuhan yang lebih kuat terlihat pada laba sebelum pajak. Hingga September 2026, HMSP mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp8,35 triliun, meningkat 21,54% dibandingkan Rp6,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Salah satu faktor yang tercatat dalam laporan keuangan adalah peningkatan penghasilan lain-lain. Pos ini melonjak 187,29% yoy menjadi Rp511,77 miliar, dibandingkan Rp178,12 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Kenaikan penghasilan lain-lain turut menjadi bagian dari perubahan kinerja sebelum pajak perusahaan. Meski demikian, untuk menilai sumber pertumbuhan laba secara menyeluruh, investor tetap perlu memperhatikan rincian komponen pendapatan dan beban lainnya dalam laporan keuangan.
Perbedaan antara pertumbuhan penjualan dan laba juga penting dicermati. Penjualan HMSP meningkat 4,50%, sedangkan laba sebelum pajak tumbuh lebih dari 20%. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan kinerja tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga dipengaruhi berbagai komponen biaya dan penghasilan di luar penjualan utama.
Laba Bersih HMSP Naik 44,35% Menjadi Rp6,51 Triliun
Setelah memperhitungkan pajak dan komponen terkait lainnya, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp6,51 triliun.
Angka tersebut meningkat 44,35% dibandingkan laba Rp4,51 triliun pada periode Januari–September 2025. Secara nominal, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah sekitar Rp2 triliun.
Kenaikan laba bersih yang lebih tinggi daripada pertumbuhan penjualan menjadi salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan HMSP. Namun, investor tetap perlu membedakan pertumbuhan laba dari peningkatan pendapatan utama karena laba bersih juga dapat dipengaruhi perubahan beban operasional, penghasilan lain-lain, dan pajak.
Kinerja laba tersebut juga tercermin pada laba per saham dasar atau earnings per share (EPS). HMSP mencatatkan EPS sebesar Rp56 per saham, naik 43,59% yoy dibandingkan Rp39 per saham pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya.
EPS menjadi salah satu indikator yang kerap diperhatikan investor untuk menilai besarnya laba yang dihasilkan perusahaan per lembar saham. Kendati demikian, indikator tersebut sebaiknya dibaca bersama pertumbuhan pendapatan, kualitas laba, arus kas, serta valuasi saham.
Aset dan Liabilitas HMSP Menyusut per September 2026
Di sisi neraca, total aset HM Sampoerna tercatat sebesar Rp50,41 triliun per 30 September 2026. Nilai tersebut turun 2,23% dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp51,56 triliun.
Penurunan aset juga diikuti penyusutan total liabilitas atau kewajiban perusahaan. Per akhir September 2026, liabilitas HMSP tercatat Rp22,15 triliun, turun 4,57% dari Rp23,21 triliun pada 31 Desember 2025.
Sementara itu, total ekuitas perusahaan mencapai Rp28,25 triliun. Angka ini turun tipis 0,35% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp28,35 triliun.
Perubahan aset, liabilitas, dan ekuitas memberikan gambaran mengenai kondisi neraca perusahaan. Meski kewajiban menyusut, penurunan aset dan ekuitas juga perlu dianalisis bersama komposisi aset, arus kas, serta kebutuhan pendanaan perusahaan.
Dengan membaca laporan laba rugi dan neraca secara bersamaan, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan usaha HMSP selama sembilan bulan pertama 2026.
Kinerja HMSP Jadi Perhatian Investor Saham
Kinerja keuangan HM Sampoerna hingga September 2026 memperlihatkan pertumbuhan penjualan yang moderat, disertai peningkatan laba yang lebih tinggi. Penjualan bersih mencapai Rp87,51 triliun, sementara laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp6,51 triliun.
Di sisi lain, beban pokok penjualan tumbuh sedikit lebih cepat daripada pendapatan. Perusahaan juga mencatat penurunan total aset, liabilitas, dan ekuitas dibandingkan posisi akhir 2025, meskipun besaran penurunannya berbeda.
Bagi investor, laporan keuangan tersebut dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan menjaga kondisi neraca. Namun, pertumbuhan laba saja belum cukup untuk menentukan apakah saham HMSP menarik untuk dibeli atau dijual.
Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi saham, prospek industri, kebijakan perusahaan, kondisi pasar, dan risiko bisnis. Perkembangan kinerja pada kuartal berikutnya juga akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah pertumbuhan laba HMSP dapat dipertahankan.
