BEI Tagih BUKK Kejar Free Float 15%, Saham Publik Emiten Keluarga Kalla Baru 6,17%

Cuaninsight –  PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), emiten yang terafiliasi dengan keluarga Kalla, tengah menyiapkan langkah untuk memenuhi ketentuan minimum saham publik atau free float 15 persen yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data kepemilikan per 31 Agustus 2026, porsi saham free float BUKK baru mencapai 6,17 persen. Dengan posisi tersebut, perseroan masih memiliki pekerjaan untuk meningkatkan jumlah saham yang dimiliki dan diperdagangkan oleh publik hingga memenuhi ketentuan bursa.

Free Float BUKK Baru 6,17 Persen

Ketentuan mengenai kepemilikan saham publik menjadi salah satu aspek penting bagi perusahaan tercatat di BEI. Mengacu pada Ketentuan V.1.1 Peraturan I-A BEI, perusahaan tercatat diwajibkan memiliki saham free float paling sedikit 15 persen dari seluruh saham yang tercatat di Bursa.

Kondisi BUKK yang baru memiliki free float 6,17 persen membuat perseroan harus menambah porsi saham publik secara signifikan.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, BEI meminta BUKK memberikan penjelasan tertulis mengenai kendala yang dihadapi perusahaan dalam memenuhi ketentuan minimum saham publik.

Permintaan tersebut menjadi perhatian manajemen karena pemenuhan free float tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap ketentuan bursa, tetapi juga dengan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan investor di pasar.

BUKK Siapkan Opsi Penambahan Saham Publik

Menanggapi permintaan BEI, manajemen BUKK menyatakan masih mengkaji sejumlah alternatif untuk meningkatkan porsi free float perseroan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penjualan saham oleh pemegang saham utama kepada masyarakat. Dengan mekanisme tersebut, sebagian saham yang saat ini dimiliki pemegang saham utama dapat beralih ke publik sehingga meningkatkan jumlah saham yang beredar di masyarakat.

“Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penjualan saham oleh pemegang saham utama kepada masyarakat, sehingga jumlah saham yang beredar di publik dapat meningkat,” ujar manajemen BUKK dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (17/9/2026).

Meski demikian, manajemen belum menyampaikan secara rinci bentuk transaksi, jumlah saham yang akan dilepas, maupun waktu pelaksanaan. Perseroan masih melakukan kajian terhadap opsi yang tersedia.

Target Free Float BUKK Naik Bertahap

BUKK berencana memenuhi ketentuan free float secara bertahap. Dalam jangka pendek, perseroan menargetkan porsi saham publik meningkat dari posisi saat ini menjadi 7,5 persen.

Setelah itu, perusahaan memiliki target jangka panjang untuk mencapai free float 15 persen pada 2029, sesuai dengan perubahan ketentuan Peraturan I-A BEI yang menjadi acuan perseroan.

Strategi bertahap tersebut menunjukkan bahwa BUKK tidak menargetkan pemenuhan batas minimum secara sekaligus. Perseroan juga meminta BEI memberikan waktu agar proses penyesuaian struktur kepemilikan dapat dilakukan sesuai rencana.

Manajemen menyatakan akan berupaya mengejar peningkatan free float menjadi 7,5 persen dalam waktu dekat. Untuk jangka panjang, perseroan menargetkan porsi saham publik mencapai 15 persen pada 2029.

Mayoritas Saham BUKK Masih Dikuasai Pemegang Saham Utama

Data kepemilikan saham BUKK menunjukkan bahwa sebagian besar saham perseroan masih berada di tangan sejumlah pemegang saham dengan kepemilikan signifikan.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Solihin Jusuf Kalla memiliki 29,912 persen saham atau sekitar 789,81 juta saham.

Kemudian Suhaelly Kalla tercatat menguasai 30,32 persen saham atau sekitar 800,65 juta saham. Sementara Nadia Achmad memiliki 14,7124 persen atau sekitar 388,47 juta saham.

Pemegang saham lainnya, Laila Achmad, tercatat memiliki 14,56 persen atau sekitar 384,47 juta saham.

Komposisi tersebut memperlihatkan tingginya konsentrasi kepemilikan BUKK pada pemegang saham tertentu. Kondisi itu juga menjadi konteks penting dalam rencana perseroan meningkatkan porsi saham yang beredar di publik.

Berapa Saham BUKK yang Dimiliki Masyarakat?

Di luar pemegang saham dengan kepemilikan signifikan tersebut, saham BUKK juga dimiliki masyarakat.

Data KSEI mencatat kepemilikan masyarakat non-warkat sebesar 8,84 persen atau sekitar 233,47 juta saham. Sementara kepemilikan masyarakat warkat tercatat 1,23 persen atau sekitar 32,72 juta saham.

Selain itu, Irsal Kamarudin tercatat memiliki 0,34 persen saham atau sekitar 9,19 juta saham.

Free float merupakan bagian saham perusahaan yang dimiliki publik dan memenuhi kriteria untuk diperdagangkan secara bebas di pasar. Karena itu, peningkatan free float BUKK nantinya akan berkaitan dengan perubahan komposisi saham yang tersedia bagi investor publik.

Apa Dampaknya bagi Investor?

Rencana peningkatan free float menjadi perhatian investor karena perubahan jumlah saham publik dapat memengaruhi struktur perdagangan saham di pasar.

Semakin besar porsi saham yang tersedia untuk publik, secara umum semakin luas pula saham yang dapat beredar di pasar. Namun, dampak terhadap likuiditas dan harga saham tetap bergantung pada kondisi perdagangan, minat investor, jumlah saham yang dilepas, serta mekanisme transaksi yang akhirnya dipilih perusahaan.

Bagi BUKK, tantangan terdekat adalah merealisasikan target free float 7,5 persen sebelum menuju target 15 persen pada 2029.

BEI sendiri telah meminta penjelasan mengenai kendala pemenuhan aturan tersebut. Kini, pasar menantikan langkah konkret BUKK, termasuk keputusan mengenai opsi pelepasan saham oleh pemegang saham utama.

Dengan struktur kepemilikan yang masih terkonsentrasi, pemenuhan ketentuan free float akan menjadi salah satu agenda korporasi penting BUKK dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *