Allo Bank Siapkan Rp300 Miliar untuk Buyback, Mampukah Mengangkat Saham BBHI?

CuaninsightPT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), bank yang terafiliasi dengan konglomerat Chairul Tanjung, menyiapkan dana maksimal Rp300 miliar untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Aksi korporasi ini dilakukan ketika harga saham BBHI masih mengalami tekanan cukup dalam sepanjang 2026.

Berdasarkan rencana perseroan, buyback saham berlangsung selama tiga bulan, mulai 3 September hingga 2 Desember 2026. Manajemen Allo Bank menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk membantu menjaga stabilitas harga saham agar pergerakannya lebih mencerminkan kinerja dan fundamental perusahaan.

Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), saham BBHI sebenarnya ditutup menguat 2,86% atau 25 poin ke level Rp900 per saham. Namun, penguatan harian tersebut belum mampu menghapus tekanan yang terjadi sejak awal tahun.

Secara year to date (YtD), saham BBHI masih terkoreksi sekitar 39,5%. Jika dibandingkan dengan harga Rp1.485 per saham pada perdagangan 2 Januari 2026, harga BBHI telah merosot sekitar 590 poin.

Buyback untuk Menjaga Stabilitas Saham

Manajemen Allo Bank menjelaskan, aksi buyback diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan antara kondisi pasar dengan fundamental perseroan. Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk mempertahankan kepercayaan pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Saham hasil pembelian kembali nantinya akan disimpan sebagai saham treasuri. Penguasaan saham tersebut akan mengikuti jangka waktu dan ketentuan yang berlaku berdasarkan POJK Nomor 29 Tahun 2023.

“Perseroan berencana untuk menyimpan saham yang telah dibeli kembali untuk dikuasai sebagai saham treasury untuk jangka waktu sebagaimana diatur dalam POJK 29/2023,” jelas manajemen Allo Bank dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Kamis (3/9/2026).

Buyback menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan perusahaan ketika manajemen menilai harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Namun, keputusan tersebut tetap perlu dilihat bersama kinerja keuangan, prospek bisnis, serta kemampuan perusahaan menjaga likuiditas.

Cuan Insight: Rp300 Miliar Bukan Dana Kecil

Dari sisi nilai, dana maksimal Rp300 miliar yang disiapkan Allo Bank setara dengan sekitar 1,93% dari total aset perseroan. Manajemen menilai jumlah tersebut masih berada dalam kapasitas keuangan yang memadai.

Perseroan memperkirakan pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap biaya operasional maupun kinerja laba-rugi. Pengalihan sebagian kas menjadi saham treasuri juga dinilai tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pendapatan.

Manajemen menegaskan Allo Bank memiliki modal kerja dan arus kas yang cukup untuk menjalankan transaksi buyback sekaligus membiayai kegiatan usaha sehari-hari.

“Hal itu mengingat perseroan memiliki modal kerja dan cash flow yang cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha perseroan,” ungkap manajemen.

Meski demikian, penggunaan dana Rp300 miliar tetap memiliki konsekuensi terhadap struktur keuangan. Jika seluruh dana tersebut benar-benar digunakan, total aset dan ekuitas perseroan secara teoritis dapat berkurang dengan nilai yang sama.

CAR Allo Bank Berpotensi Turun

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan investor adalah rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR).

Dengan menggunakan posisi keuangan per 30 Juni 2026 sebagai dasar perhitungan, Allo Bank memperkirakan CAR secara proforma dapat turun sekitar 2,77%.

Rasio tersebut diproyeksikan bergerak dari 66,35% menjadi 63,58% apabila seluruh dana buyback Rp300 miliar digunakan.

Meskipun mengalami penurunan, posisi CAR tersebut masih dinilai berada dalam tingkat yang dapat dikelola. Manajemen Allo Bank meyakini kondisi tersebut tidak akan mengganggu keberlangsungan bisnis maupun rencana ekspansi perseroan.

Tingginya CAR juga menunjukkan bahwa perseroan memiliki bantalan modal yang cukup besar. Namun, investor tetap perlu memperhatikan bagaimana penggunaan kas untuk buyback memengaruhi kemampuan bank dalam membiayai ekspansi bisnis ke depan.

Saham BBHI Masih Tertekan

Aksi buyback Allo Bank menjadi perhatian karena dilakukan ketika saham BBHI telah mengalami koreksi cukup besar sepanjang tahun.

Penurunan hampir 40% secara YtD menunjukkan adanya tekanan yang signifikan terhadap saham tersebut. Dalam kondisi seperti ini, buyback dapat menjadi sinyal bahwa manajemen melihat harga saham saat ini belum sepenuhnya merefleksikan nilai atau prospek perseroan.

Namun, investor sebaiknya tidak langsung mengartikan buyback sebagai jaminan harga saham akan segera kembali naik. Pergerakan saham tetap ditentukan oleh mekanisme pasar, sentimen investor, kinerja keuangan, prospek industri perbankan, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Jumlah saham yang benar-benar dibeli kembali juga akan bergantung pada harga transaksi selama periode buyback. Semakin rendah harga pembelian, secara teoritis semakin banyak saham yang dapat diperoleh dengan anggaran yang sama.

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Bagi investor BBHI maupun calon investor, terdapat sejumlah faktor yang perlu diperhatikan selama periode buyback. Pertama adalah realisasi pembelian saham dibandingkan dengan plafon maksimal Rp300 miliar.

Kedua, investor perlu memantau perkembangan fundamental Allo Bank, termasuk pertumbuhan kredit, kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, dan permodalan.

Ketiga, perubahan CAR juga perlu menjadi perhatian karena bank membutuhkan modal yang kuat untuk mendukung ekspansi. Meskipun proforma CAR masih berada pada level tinggi, penggunaan kas untuk membeli saham treasuri tetap mengubah komposisi aset dan ekuitas perseroan.

Dengan demikian, buyback BBHI dapat menjadi katalis positif dari sisi sentimen, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan prospek saham. Investor tetap perlu menilai apakah perbaikan harga saham nantinya didukung oleh pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *