Pertamina Wanti-wanti Kuota Pertalite, Solar dan LPG 3 Kg Terancam Jebol

Cuaninsight – Anggaran subsidi energi kembali menghadapi tantangan setelah konsumsi LPG 3 kg, solar subsidi, dan Pertalite menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2026. PT Pertamina (Persero) memproyeksikan penyaluran tiga komoditas tersebut berpotensi melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah hingga akhir tahun.

Potensi pembengkakan penyaluran tersebut terungkap dalam paparan Pertamina pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Kenaikan konsumsi menjadi perhatian karena subsidi energi berkaitan langsung dengan pengeluaran negara. Jika realisasi melampaui kuota, pemerintah perlu melakukan langkah pengendalian sekaligus memastikan ketersediaan energi bersubsidi tetap terjaga bagi masyarakat yang berhak.

Penyaluran Solar Berpotensi Melebihi Kuota

Pertamina mencatat realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar hingga Juli 2026 telah mencapai 11,18 juta kiloliter (KL). Sementara itu, kuota solar subsidi untuk sepanjang 2026 ditetapkan sebesar 18,36 juta KL. Berdasarkan tren konsumsi saat ini, Pertamina memperkirakan penyaluran solar hingga akhir tahun dapat mencapai 20,09 juta KL.

Angka tersebut berarti berpotensi 9,4% lebih tinggi dibandingkan kuota yang telah ditetapkan.

Peningkatan konsumsi solar antara lain berkaitan dengan aktivitas industri dan logistik yang semakin tinggi. Pertumbuhan ekonomi nasional juga turut menjadi salah satu faktor yang mendorong kebutuhan BBM untuk kegiatan produktif.

Pertalite Juga Diprediksi Jebol Kuota

Tekanan serupa terjadi pada Pertalite. Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) tersebut telah mencapai 16,54 juta KL.

Kuota Pertalite tahun ini berada di angka 28,69 juta KL. Pertamina memproyeksikan realisasi penyaluran hingga akhir 2026 mencapai sekitar 29,18 juta KL, atau 1,7% di atas kuota.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebut salah satu faktor yang mendorong kenaikan konsumsi Pertalite adalah pergeseran penggunaan dari BBM nonsubsidi.

Kondisi tersebut semakin terlihat setelah harga Pertamax mengalami kenaikan pada 10 Juni 2026. Sebelum kenaikan tersebut, rata-rata penyaluran harian Pertalite berada di sekitar 75.795 KL.

Setelah harga Pertamax naik, rata-rata penyaluran Pertalite meningkat 9,19% menjadi 82.760 KL. Pada Juli, angka tersebut kembali naik menjadi 85.589 KL. Pada Agustus, rata-rata penyaluran harian tercatat sekitar 84.368 KL.

Harga BBM Nonsubsidi Pengaruhi Konsumsi

Perbedaan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi menjadi salah satu persoalan yang ikut mendorong pergeseran konsumsi. Wahyudi menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan Pertalite tidak seluruhnya berasal dari pertumbuhan kebutuhan energi baru. Sebagian merupakan shifting, yakni perpindahan konsumsi dari Pertamax ke BBM subsidi.

Fenomena tersebut juga terjadi pada solar subsidi. Sebelum harga Dexlite dan Pertamina Dex berubah, rata-rata penyaluran harian solar berada di kisaran 50.624 KL.

Angka tersebut kemudian meningkat secara bertahap hingga sekitar 58.271 KL pada Agustus, atau naik sekitar 15,10%. Menurut BPH Migas, meskipun harga sejumlah BBM nonsubsidi kemudian mengalami penurunan, disparitas harga dengan BBM subsidi masih cukup lebar.

LPG 3 Kg Jadi Perhatian Pemerintah

Selain BBM, LPG Tabung 3 kg juga menghadapi potensi kelebihan kuota. Realisasi penyaluran LPG 3 kg hingga Juli 2026 mencapai sekitar 5,04-5,05 juta metrik ton (MT). Dengan kuota yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 8 juta MT, realisasi tersebut sudah mencapai sekitar 63% dari kuota tahunan.

Pertamina memperkirakan penyaluran LPG 3 kg dapat mencapai 8,68 juta MT hingga akhir 2026 atau sekitar 8,5% di atas kuota. Sementara Kementerian ESDM memiliki proyeksi yang sedikit berbeda, yakni sekitar 8,6 juta MT atau 8,46% lebih tinggi dari kuota APBN.

Konsumsi LPG 3 Kg Terus Naik

Kenaikan konsumsi LPG 3 kg sebenarnya bukan fenomena baru. Data Kementerian ESDM menunjukkan penyalurannya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2021, realisasi LPG 3 kg tercatat 7,46 juta MT. Angka tersebut naik menjadi 7,80 juta MT pada 2022.

Kemudian pada 2023, penyaluran meningkat menjadi 8,04 juta MT, sebelum kembali naik menjadi 8,23 juta MT pada 2024 dan 8,52 juta MT pada 2025.

Tren tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk memastikan LPG bersubsidi benar-benar diterima kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.

Pemerintah Perkuat Pengawasan LPG Subsidi

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan salah satu tantangan utama LPG 3 kg adalah sistem distribusi yang sebelumnya masih bersifat terbuka.

Kondisi tersebut membuat LPG subsidi berpotensi digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk mereka yang seharusnya tidak menjadi penerima subsidi.

Pemerintah kemudian mulai melakukan transformasi distribusi sejak 1 Maret 2023. Tahap awal dilakukan melalui pendataan pengguna LPG 3 kg berbasis sistem web.

Selanjutnya, pemerintah melakukan pemadanan data dan penyusunan sasaran penerima LPG tertentu. Pertamina juga bekerja sama dengan Dukcapil untuk memperkuat akurasi data konsumen. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah mengendalikan konsumsi sekaligus memperbaiki ketepatan sasaran subsidi.

Pertamina Digitalisasi Penyaluran Subsidi

Untuk mengendalikan penyaluran BBM subsidi, Pertamina telah menerapkan QR Code untuk transaksi pembelian solar dan Pertalite di 514 kabupaten/kota.

Selain itu, digitalisasi telah dilakukan pada lebih dari 8.000 SPBU. Sistem tersebut memungkinkan transaksi subsidi tercatat secara lebih terstruktur sehingga pemerintah dapat memantau pola konsumsi.

Untuk LPG 3 kg, Pertamina juga telah mendaftarkan sekitar 79,7 juta NIK konsumen dalam sistem Subsidi Tepat. Data tersebut kemudian dipadankan dengan data kependudukan Dukcapil serta Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Ekonomi Tumbuh, Konsumsi Energi Ikut Naik

Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Jaffee Arizon Suardin mengatakan peningkatan konsumsi energi bersubsidi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya aktivitas masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 yang berada di kisaran 5%-5,6% turut mendorong kebutuhan energi dari sektor industri dan logistik.

Selain itu, peningkatan jumlah kendaraan pribadi, aktivitas pariwisata domestik, musim panen, kegiatan melaut, serta kebutuhan transportasi publik ikut memberikan tekanan terhadap konsumsi BBM.

Untuk LPG 3 kg, pertumbuhan penduduk dan kebutuhan menjaga stok menjelang periode Natal dan Tahun Baru juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Dengan tren tersebut, pemerintah dan Pertamina perlu menjaga keseimbangan antara ketersediaan energi, ketepatan sasaran subsidi, dan kesehatan anggaran negara.

Jika konsumsi terus meningkat, penguatan sistem pengawasan dan digitalisasi menjadi semakin penting agar subsidi tidak semakin melebar dari sasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *