Utang RI dalam Yuan China Meroket 53,6%, Begini Strategi Indonesia

CuaninsightStruktur utang luar negeri Indonesia mulai menunjukkan perubahan seiring meningkatnya penggunaan mata uang selain dolar Amerika Serikat (AS). Salah satu yang paling mencolok adalah kenaikan utang dalam denominasi yuan China yang mencapai 53,6% secara tahunan hingga Juni 2026.

Perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai memperluas sumber pembiayaan eksternal sekaligus mengurangi konsentrasi ketergantungan terhadap dolar AS. Meski demikian, dolar masih menjadi mata uang utama dalam struktur utang luar negeri Indonesia.

Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri (SULNI) Bank Indonesia (BI) edisi Agustus 2026, posisi utang luar negeri Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$453,36 miliar. Dari total tersebut, utang dalam rupiah tercatat US$93,52 miliar. Sementara itu, sekitar US$359,84 miliar atau 79,4% dari total utang luar negeri Indonesia berasal dari mata uang asing.

Yuan Tumbuh Paling Pesat

Dari keseluruhan mata uang asing yang digunakan dalam pembiayaan utang Indonesia, dolar AS masih mendominasi. Posisi utang dalam dolar AS mencapai US$271,11 miliar atau sekitar 59,8% dari total utang luar negeri.

Di bawah dolar AS, terdapat euro dengan nilai US$41,29 miliar atau 9,1%. Selanjutnya, utang dalam yuan China mencapai US$17,84 miliar atau 3,9%, sementara utang dalam yen Jepang berada di level US$17,75 miliar atau sekitar 3,9%.

Meski porsinya masih relatif kecil, pertumbuhan utang dalam yuan menjadi perhatian karena meningkat sangat cepat. Nilainya naik 53,6% dibandingkan Juni 2025 yang hanya mencapai US$11,61 miliar.

Dengan demikian, terjadi peningkatan sekitar US$6,23 miliar secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menjadikan yuan sebagai salah satu kontributor terbesar terhadap kenaikan utang luar negeri Indonesia selama setahun terakhir.

Euro juga mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Nilai utang dalam euro meningkat dari US$35,43 miliar menjadi US$41,29 miliar atau naik 16,5%.

Sebaliknya, penggunaan yen Jepang justru menurun 15,4%, dari US$20,98 miliar menjadi US$17,75 miliar. Utang dalam dolar AS masih bertumbuh, tetapi jauh lebih lambat, yakni sekitar 1,1% menjadi US$271,11 miliar.

Pemerintah Perkuat Diversifikasi Mata Uang

Meningkatnya porsi yuan tidak terlepas dari strategi pemerintah melakukan diversifikasi sumber pembiayaan. Pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang global membuat pemerintah perlu mempertimbangkan struktur pembiayaan secara lebih luas.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah penerbitan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond.

China memiliki salah satu pasar obligasi terbesar di dunia dengan basis investor domestik yang luas. Masuk ke pasar tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mengakses sumber likuiditas sekaligus memperluas basis investor.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penerbitan global bond di China bukan hanya bertujuan mencari sumber pembiayaan baru. Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperluas basis investor dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar dolar AS.

“Ini diversifikasi sumber pendanaan kita. Sebelumnya kan lebih banyak global bond, dolar. Sekarang kita diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China,” ujar Purbaya.

Strategi tersebut kemudian diwujudkan melalui penerbitan Panda Bond pada akhir Juli 2026. Pemerintah menerbitkan surat utang senilai CNY7 miliar atau sekitar Rp18,47 triliun, dengan asumsi kurs Rp2.638 per yuan. Nilai tersebut setara sekitar US$1,03 miliar dan sedikit melampaui target awal sebesar US$1 miliar.

Diversifikasi Bukan Berarti Risiko Hilang

Meningkatnya penggunaan berbagai mata uang dapat mengurangi konsentrasi risiko terhadap satu mata uang. Namun, diversifikasi mata uang tidak otomatis menghilangkan risiko nilai tukar.

Pasalnya, sekitar 80% utang luar negeri Indonesia masih berada dalam denominasi mata uang asing. Artinya, pelemahan rupiah tetap menjadi salah satu risiko utama yang perlu dikelola pemerintah.

Semakin besar porsi utang dalam yuan, semakin besar pula eksposur Indonesia terhadap pergerakan rupiah terhadap yuan. Kondisi ekonomi China dan kebijakan moneter bank sentralnya juga dapat memengaruhi biaya pembayaran utang tersebut.

Karena itu, strategi diversifikasi perlu diikuti dengan pengelolaan risiko yang tepat, termasuk menciptakan sumber penerimaan dalam mata uang yang sama.

Rupiah Lebih Tertekan terhadap Yuan

Menariknya, pergerakan rupiah terhadap yuan selama 2026 menunjukkan tekanan yang cukup besar. Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang kuartal II-2026 rupiah melemah 6,44% terhadap yuan China (CNY) dan turun 6,3% terhadap yuan offshore (CNH). Pada periode yang sama, rupiah melemah sekitar 4,96% terhadap dolar AS.

Jika dihitung sejak awal tahun, tekanan rupiah terhadap yuan bahkan lebih besar. Rupiah tercatat melemah sekitar 9,76% terhadap yuan, sementara terhadap dolar AS pelemahannya sekitar 6,44%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan yuan sebagai mata uang pembiayaan juga membutuhkan perhatian terhadap risiko nilai tukar.

Namun, secara nominal, nilai satu yuan jauh lebih rendah dibandingkan satu dolar AS. Pada perdagangan Rabu (19/8/2026), rupiah berada di sekitar Rp2.645 per yuan, sedangkan dolar AS berada di kisaran Rp17.834.

Natural Hedge Bisa Jadi Strategi Penting

Salah satu cara untuk mengurangi risiko nilai tukar adalah menerapkan natural hedge. Strategi ini dapat dilakukan dengan menciptakan penerimaan dalam mata uang yang sama dengan kewajiban.

Dalam konteks utang yuan, penerimaan dari ekspor ke China, investasi, perdagangan bilateral, maupun transaksi ekonomi lainnya yang menghasilkan yuan dapat membantu mengimbangi kewajiban tersebut.

Dengan demikian, pemerintah tidak selalu harus mengonversi rupiah ke yuan ketika melakukan pembayaran utang.

Pemerintah juga terus mendorong penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk memperkuat transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal. Melalui mekanisme tersebut, transaksi dapat dilakukan menggunakan rupiah dan yuan tanpa selalu bergantung pada dolar AS sebagai mata uang perantara.

Langkah ini berpotensi memperkuat diversifikasi sistem pembayaran sekaligus mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar.

Tantangan Pengelolaan Utang ke Depan

Kenaikan utang dalam yuan menunjukkan bahwa strategi pembiayaan Indonesia semakin beragam. Dolar AS memang masih menjadi mata uang dominan, tetapi pertumbuhan yuan dan euro yang lebih cepat memperlihatkan adanya perubahan komposisi.

Bagi pemerintah, diversifikasi memberikan keuntungan berupa akses terhadap basis investor yang lebih luas. Namun, strategi tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan risiko nilai tukar, kondisi pasar global, serta kemampuan menghasilkan penerimaan dalam mata uang yang sama.

Dengan kata lain, peningkatan utang dalam yuan bukan semata-mata persoalan mengganti dolar dengan mata uang China. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun struktur pembiayaan yang lebih terdiversifikasi dan tahan terhadap gejolak pasar global.

Ke depan, efektivitas strategi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengombinasikan diversifikasi mata uang, penguatan transaksi bilateral, natural hedge, dan pengelolaan fiskal yang prudent.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *