Paylater Multifinance Makin Ngebut! Pembiayaan Tembus Rp13,40 Triliun
Cuan Insight – Pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater yang disalurkan perusahaan pembiayaan terus menunjukkan pertumbuhan pesat hingga pertengahan 2026. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan nilai pembiayaan paylater multifinance mencapai Rp13,40 triliun per Juni 2026.
Pertumbuhan tersebut mencapai 57,02 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini menunjukkan bahwa layanan pembiayaan dengan skema beli sekarang, bayar kemudian masih memiliki permintaan yang kuat di tengah berkembangnya transaksi digital dan perubahan perilaku konsumen.
Data tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Selasa (4/8/2026).
Cuan Insight: Pembiayaan Paylater Terus Menanjak
Pertumbuhan pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan pada Juni 2026 memperlihatkan tren peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, nilai pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp13,18 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 53,78 persen secara YoY. Dengan demikian, nilai pembiayaan meningkat sekitar Rp220 miliar dalam satu bulan hingga Juni. Pada saat yang sama, laju pertumbuhan tahunan juga kembali menguat dari 53,78 persen pada Mei menjadi 57,02 persen pada Juni.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa paylater masih menjadi salah satu produk pembiayaan yang berkembang cukup cepat di sektor multifinance.
Kehadiran layanan digital dan kemudahan proses pengajuan menjadi sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan pembiayaan tersebut. Masyarakat dapat memperoleh fasilitas pembayaran secara bertahap tanpa harus melakukan proses pembiayaan konvensional yang relatif lebih panjang.
Pertumbuhan April hingga Juni 2026
Jika melihat perkembangan selama tiga bulan terakhir, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan menunjukkan tren peningkatan nilai. Pada April 2026, OJK mencatat pembiayaan BNPL mencapai Rp12,93 triliun, tumbuh 56,92 persen secara YoY. Kemudian, pada Mei 2026, nilai pembiayaan meningkat menjadi Rp13,18 triliun. Namun, pertumbuhan tahunannya sempat melambat menjadi 53,78 persen.
Memasuki Juni, pembiayaan kembali meningkat menjadi Rp13,40 triliun. Pertumbuhan tahunan pun kembali menguat hingga 57,02 persen. Perkembangan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pembiayaan jangka pendek masih cukup besar.
Cuan Insight: Risiko Kredit Paylater Mulai Lebih Terkendali
Pertumbuhan pembiayaan yang tinggi biasanya diikuti perhatian terhadap kualitas kredit. Dalam hal ini, OJK mencatat kondisi Non Performing Financing (NPF) gross BNPL perusahaan pembiayaan masih berada dalam kondisi yang terjaga.
Per Juni 2026, NPF gross BNPL tercatat sebesar 3,09 persen. Angka tersebut mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,44 persen. Penurunan NPF menunjukkan bahwa kualitas pembiayaan paylater mengalami perbaikan secara bulanan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator penting karena pertumbuhan pembiayaan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh besarnya penyaluran, tetapi juga kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.
Dengan NPF yang menurun, peningkatan pembiayaan BNPL hingga Juni belum diikuti dengan peningkatan risiko kredit bermasalah secara bersamaan.
Paylater Makin Dekat dengan Kehidupan Konsumen
Pertumbuhan BNPL juga tidak terlepas dari semakin luasnya ekosistem pembayaran digital di Indonesia. Paylater menawarkan fleksibilitas bagi konsumen untuk melakukan pembelian dan membayarnya secara bertahap sesuai tenor yang tersedia. Fitur ini membuat BNPL banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan konsumsi, khususnya transaksi yang tersedia melalui platform digital.
Namun, pertumbuhan penggunaan paylater juga perlu diikuti pemahaman konsumen mengenai kemampuan membayar. Kemudahan mendapatkan fasilitas pembiayaan tidak berarti seluruh transaksi harus dilakukan menggunakan utang.
Konsumen tetap perlu memperhitungkan total kewajiban, tenor pembayaran, biaya administrasi maupun bunga yang berlaku sebelum menggunakan fasilitas BNPL.
Cuan Insight: Pertumbuhan Harus Diimbangi Pengelolaan Risiko
Dari sisi industri, peningkatan pembiayaan BNPL memberikan peluang bagi perusahaan multifinance untuk memperluas basis konsumen dan mengembangkan layanan digital.
Namun, pertumbuhan sebesar 57,02 persen secara tahunan juga menjadi pengingat pentingnya pengelolaan risiko kredit. Perusahaan pembiayaan perlu menjaga kualitas proses analisis calon debitur, pengawasan pembayaran, serta penerapan prinsip kehati-hatian agar pertumbuhan pembiayaan tetap sehat.
Sementara itu, konsumen perlu menggunakan paylater secara proporsional dan memastikan cicilan tidak mengganggu arus kas bulanan.
Dengan pembiayaan mencapai Rp13,40 triliun dan NPF gross yang turun menjadi 3,09 persen, perkembangan BNPL multifinance hingga Juni 2026 memperlihatkan kombinasi antara pertumbuhan pembiayaan yang kuat dan kualitas kredit yang masih relatif terjaga.
Ke depan, kinerja paylater akan menjadi salah satu perkembangan yang menarik untuk diperhatikan seiring semakin kuatnya digitalisasi sektor pembiayaan dan perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia.
