GoTo Balik Untung! Laba Bersih Tembus Rp607 Miliar di Semester I 2026

Cuan Insight– PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk membukukan kinerja yang lebih solid pada paruh pertama 2026. Perusahaan teknologi terbesar di Indonesia tersebut berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp607,48 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp580,01 miliar yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian ini menandai keberhasilan GoTo mempertahankan profitabilitas selama dua kuartal berturut-turut, sekaligus menjadi sinyal bahwa strategi efisiensi dan diversifikasi bisnis mulai memberikan hasil positif.

Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan yang signifikan di berbagai lini usaha, termasuk layanan on-demand, e-commerce, hingga bisnis layanan keuangan digital (fintech).

Pendapatan Tumbuh Hampir 30 Persen

Sepanjang semester I 2026, GoTo membukukan pendapatan bersih sebesar Rp10,99 triliun, meningkat sekitar 28,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp8,55 triliun. Kinerja tersebut berasal dari berbagai sumber pendapatan yang semakin beragam.

Layanan pengiriman menjadi salah satu kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar Rp3,2 triliun atau tumbuh lebih dari 16 persen secara tahunan. Selain itu, perusahaan juga memperoleh pendapatan dari berbagai jenis imbalan jasa, layanan e-commerce, iklan digital, hingga pendapatan lain-lain yang terus meningkat seiring berkembangnya ekosistem GoTo.

Di sisi pembiayaan, perusahaan juga mencatat kenaikan dana pinjaman hingga sekitar Rp2,7 triliun atau meningkat hampir 65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

EBITDA Cetak Rekor Baru

Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyebut semester pertama tahun ini menjadi tonggak penting bagi perusahaan. Selain berhasil membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, EBITDA Grup yang disesuaikan juga meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu dan untuk pertama kalinya berhasil melampaui angka Rp1 triliun.

Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan mulai menghasilkan fondasi pertumbuhan yang lebih sehat.

Walaupun biaya operasional meningkat menjadi sekitar Rp10,21 triliun, laju pertumbuhan beban masih lebih rendah dibandingkan kenaikan pendapatan sehingga profitabilitas perusahaan terus membaik.

Fintech Semakin Dominan

Memasuki semester kedua, GoTo memperkirakan kontribusi bisnis akan mengalami perubahan.Perusahaan menaikkan proyeksi EBITDA bisnis fintech menjadi kisaran Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun setelah melihat performa yang terus menguat sepanjang tahun.

Sebaliknya, proyeksi kontribusi bisnis layanan on-demand sedikit diturunkan menjadi sekitar Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Penyesuaian tersebut dipengaruhi implementasi struktur komisi baru untuk layanan transportasi roda dua Gojek yang mulai berlaku sejak awal Juli 2026 sesuai regulasi pemerintah. Meski demikian, manajemen memastikan operasional bisnis tetap berjalan stabil setelah penerapan kebijakan tersebut.

Investasi Ekosistem Tetap Berlanjut

Tidak hanya berfokus pada profitabilitas, GoTo juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem digital. Perusahaan melanjutkan berbagai program bagi mitra pengemudi, mulai dari dukungan kepesertaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, pemberian beasiswa, hingga program umrah gratis.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga loyalitas mitra sekaligus memperkuat kualitas layanan kepada pelanggan.

Menurut Hans, pertumbuhan perusahaan tidak hanya diukur dari sisi keuangan, tetapi juga dari kemampuan menciptakan manfaat bagi seluruh pelaku dalam ekosistem GoTo.

Cuan Insight

Keberhasilan GoTo mencatat laba bersih selama dua kuartal berturut-turut menunjukkan bahwa perusahaan mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Fokus pada efisiensi operasional, diversifikasi sumber pendapatan, serta penguatan bisnis fintech menjadi faktor utama yang menopang perbaikan kinerja.

Bagi investor, perkembangan ini menjadi sinyal positif karena memperlihatkan transformasi GoTo dari perusahaan yang berorientasi pada ekspansi menjadi bisnis yang semakin menitikberatkan pada profitabilitas dan pengelolaan arus kas.

Di sisi lain, implementasi kebijakan komisi baru pada layanan transportasi daring akan menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pada laporan keuangan kuartal berikutnya. Dampaknya terhadap margin bisnis on-demand akan menjadi indikator penting bagi keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.

Apabila bisnis fintech mampu terus meningkatkan kontribusi dan ekosistem digital GoTo berkembang sesuai target, perusahaan berpeluang mempertahankan tren kinerja positif hingga akhir 2026. Kondisi tersebut dapat memperkuat posisi GoTo sebagai salah satu emiten teknologi terbesar di Indonesia yang mulai menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *