Ramalan Harga Emas dan Perak Awal Juli 2026: Masih Tertekan atau Siap Rebound?
Cuan Insight– Harga emas dan perak diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada pembukaan Juli 2026. Pelaku pasar global kini menanti sejumlah data ekonomi penting serta perkembangan geopolitik yang berpotensi menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed).
Selain konflik geopolitik di Timur Tengah, investor juga akan mencermati data Purchasing Managers’ Index (PMI), inflasi kawasan Eropa, hingga laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran.
Kombinasi berbagai faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah pergerakan logam mulia dalam jangka pendek.
Harga Emas Masih Berada dalam Tren Bearish
Pada perdagangan Senin (29/6/2026) pagi, harga emas berada di kisaran US$4.087,99 per troy ons, atau melemah tipis sekitar 0,01%. Walaupun sempat menguat 1,5% pada penutupan perdagangan Jumat sebelumnya, secara keseluruhan harga emas masih terkoreksi sekitar 1,73% sepanjang pekan lalu. Koreksi tersebut sekaligus memperpanjang tren penurunan mingguan menjadi empat pekan berturut-turut.
Secara teknikal, posisi emas masih dinilai berada dalam fase bearish setelah menembus garis tren naik. Selama harga belum mampu kembali menembus area resistensi di sekitar US$4.115 per troy ons, tekanan jual masih berpotensi berlanjut.

Analis melihat area US$3.927 hingga US$3.886 menjadi zona support penting. Apabila level tersebut ditembus, emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju kisaran US$3.650 per troy ons.
Sebaliknya, jika berhasil kembali menembus area US$4.115, peluang pemulihan harga menuju sekitar US$4.248 per troy ons mulai terbuka.
Proyeksi Lembaga Dunia Masih Beragam
Pandangan lembaga keuangan internasional terhadap prospek emas masih cukup beragam. ING memilih memangkas proyeksi harga emas untuk beberapa kuartal ke depan. Bank asal Belanda tersebut menilai penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi akan menjadi hambatan utama kenaikan harga logam mulia.
ING kini memperkirakan rata-rata harga emas berada di sekitar US$4.300 per troy ons pada kuartal III 2026 dan US$4.600 per troy ons pada kuartal IV 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Menurut analis komoditas ING, Ewa Manthey, meskipun pasar berharap The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya, kondisi suku bunga tinggi dan dolar AS yang masih kuat tetap menjadi faktor negatif bagi emas dalam jangka pendek.
Selain itu, permintaan investor melalui Exchange Traded Fund (ETF) juga mulai melemah setelah aksi ambil untung sejak Maret lalu.
Bank Sentral Tetap Menjadi Penopang Harga Emas
Di tengah tekanan tersebut, permintaan emas dari bank sentral dunia masih menjadi faktor yang menopang harga. Pada kuartal pertama 2026, pembelian emas oleh bank sentral global mencapai sekitar 244 ton, dengan Polandia dan China menjadi pembeli terbesar. Bahkan, China tercatat terus menambah cadangan emasnya selama 19 bulan berturut-turut.
Survei World Gold Council (WGC) juga menunjukkan mayoritas bank sentral dunia masih optimistis terhadap peran emas sebagai aset cadangan devisa. Sebanyak 84% responden memperkirakan porsi emas dalam cadangan devisa akan meningkat dalam lima tahun mendatang.
Sementara itu, JPMorgan tetap mempertahankan pandangan yang lebih optimistis dibandingkan sebagian analis lain. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas berpotensi mendekati US$5.000 per troy ons pada akhir 2026, bahkan masih memiliki peluang menuju US$6.000 per troy ons dalam jangka panjang apabila permintaan bank sentral tetap tinggi.
Harga Perak Juga Menghadapi Tekanan
Tidak hanya emas, prospek perak juga mengalami revisi. ING memangkas proyeksi harga perak menjadi sekitar US$68 per ons pada kuartal III 2026 dan US$74 per ons pada kuartal IV 2026.
Revisi tersebut dipengaruhi perlambatan permintaan industri panel surya, meningkatnya efisiensi penggunaan material fotovoltaik, serta tekanan dari tingginya imbal hasil obligasi dan kuatnya dolar AS.

Meski demikian, dalam jangka panjang perak masih dinilai memiliki prospek yang cukup menarik karena pasar diperkirakan tetap mengalami defisit pasokan, sementara kebutuhan logam untuk elektrifikasi dan transisi energi terus meningkat.
Pada perdagangan Senin pagi, harga perak berada di kisaran US$58 per ons. Meski sempat naik sekitar 2,3% pada penutupan perdagangan Jumat, secara mingguan harga perak masih terkoreksi sekitar 8,84%.
Investor Perlu Mencermati Data Ekonomi Pekan Ini
Awal Juli diperkirakan menjadi periode yang cukup menentukan bagi pasar logam mulia. Selain perkembangan konflik geopolitik, perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi, PMI manufaktur dan jasa, serta laporan tenaga kerja Amerika Serikat.
Jika data ekonomi menunjukkan kondisi ekonomi AS masih kuat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar, yang berpotensi kembali menekan harga emas dan perak.
Sebaliknya, apabila data mulai menunjukkan perlambatan ekonomi, ekspektasi pemangkasan suku bunga dapat kembali mengangkat daya tarik aset safe haven seperti emas.

