Saham CTRA Tertekan 32% di 2026, Masih Layak Dikoleksi? Ini Prospeknya
Cuan Insight– PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memasuki 2026 dengan berbagai tantangan yang membayangi industri properti nasional. Tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), pelemahan nilai tukar rupiah, serta melambatnya daya beli masyarakat diperkirakan akan memengaruhi kinerja perseroan sepanjang tahun ini.
Meski demikian, sejumlah analis menilai fundamental CTRA masih relatif kuat. Koreksi harga saham yang cukup dalam bahkan dinilai membuka peluang investasi bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang.
Suku Bunga Tinggi Tekan Kinerja Bisnis
Manajemen Ciputra Development memperkirakan pendapatan dan laba bersih pada 2026 masing-masing turun sekitar 10 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya.
Sebagai gambaran, pada 2025 perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp12,7 triliun atau tumbuh 13 persen secara tahunan. Sementara laba bersih meningkat 25 persen menjadi Rp2,7 triliun.

Namun, memasuki 2026, kondisi ekonomi yang lebih menantang membuat perusahaan memilih menetapkan target secara konservatif. Marketing sales atau prapenjualan dipatok tetap di level Rp9,5 triliun, seiring perlambatan permintaan properti di sejumlah wilayah.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen membuat bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap tinggi, sehingga keputusan masyarakat untuk membeli rumah cenderung tertunda.
Strategi Andalkan Insentif PPN DTP
Untuk menjaga penjualan, CTRA memanfaatkan program Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Perseroan memiliki aset sekitar Rp4 triliun yang dapat dipasarkan melalui skema insentif tersebut. Manajemen juga mempercepat pembangunan unit yang belum terjual agar dapat diserahterimakan sebelum akhir tahun sehingga pembeli masih dapat menikmati fasilitas PPN DTP.
Hingga kuartal I 2026, marketing sales CTRA telah mencapai Rp2,4 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 51 persen berasal dari proyek yang memanfaatkan insentif pemerintah.
Meski demikian, perusahaan mencatat adanya perubahan pola permintaan. Penjualan rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar justru menurun, sedangkan segmen Rp2 miliar hingga Rp5 miliar menunjukkan peningkatan kontribusi.
Hal ini mengindikasikan bahwa pembeli dari kelompok menengah atas masih memiliki daya beli yang relatif lebih kuat dibandingkan segmen rumah terjangkau.
Pelemahan Rupiah dan Beban Bunga Jadi Tantangan
Selain permintaan yang melemah, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga meningkatkan biaya konstruksi. Di sisi lain, beban bunga perusahaan masih cukup besar. Pada kuartal I 2026, CTRA membukukan beban bunga sekitar Rp201,7 miliar, sementara utang jangka pendek mencapai Rp11,2 triliun.
Kondisi tersebut membuat ruang pertumbuhan laba menjadi lebih terbatas meskipun penjualan masih berjalan.
Tekanan makroekonomi juga tercermin pada pergerakan saham. Hingga akhir Juni 2026, harga saham CTRA telah terkoreksi sekitar 31,9 persen secara year to date (YTD).
Menurut sejumlah analis, pelemahan tersebut lebih banyak dipengaruhi arus keluar dana asing (foreign outflow) akibat sentimen global dan penguatan dolar AS dibandingkan penurunan fundamental perusahaan.
Fundamental Masih Dinilai Solid
Sejumlah analis pasar modal tetap memberikan pandangan positif terhadap prospek jangka panjang CTRA. Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai koreksi harga saham lebih mencerminkan sentimen pasar dibandingkan penurunan kualitas fundamental bisnis. Perseroan masih memiliki diversifikasi proyek yang luas di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya hingga Makassar.
Selain itu, pendapatan berulang dari pusat perbelanjaan, hotel, dan properti komersial dinilai mampu membantu menjaga stabilitas arus kas perusahaan.
Analis juga melihat katalis positif yang berpotensi mendorong kinerja CTRA, antara lain kepastian perpanjangan program PPN DTP hingga 2027, realisasi program pembangunan tiga juta rumah, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta rencana pemerintah memperpanjang tenor KPR hingga 40 tahun.
Jika kebijakan tersebut terealisasi, cicilan rumah akan menjadi lebih ringan sehingga daya beli masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, berpotensi meningkat.

Prospek Saham CTRA Masih Menarik
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, kondisi keuangan Ciputra Development masih tergolong sehat. Perseroan memiliki kas dan setara kas sekitar Rp8,25 triliun yang memberikan fleksibilitas untuk melakukan ekspansi lahan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pembiayaan utang baru.
Di sisi lain, kemampuan perusahaan menyesuaikan bauran produk sesuai kebutuhan pasar menjadi nilai tambah dibandingkan sebagian pesaingnya. Analis Maybank Sekuritas bahkan masih mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham CTRA dengan target harga Rp1.150 per saham.
Artinya, apabila kondisi makroekonomi mulai membaik dan suku bunga bergerak turun dalam beberapa kuartal mendatang, saham CTRA dinilai memiliki ruang pemulihan yang cukup besar.
Bagi investor jangka panjang, tekanan yang terjadi sepanjang 2026 justru dapat menjadi momentum untuk mencermati valuasi emiten properti ini sambil menunggu membaiknya siklus industri.

