Rupiah Melemah Lagi Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Apa Penyebabnya?
Cuan Insight– Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah angka yang menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat.
Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di posisi Rp17.952 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 93 poin atau sekitar 0,52 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.859 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta perkembangan situasi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah
Salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, yaitu Federal Reserve atau The Fed.
Pelaku pasar menilai peluang pengetatan kebijakan moneter kembali terbuka setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal yang cenderung agresif terkait pengendalian inflasi.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut investor kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 70 persen. Bahkan, pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan pada akhir tahun.
Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS kembali menarik bagi investor global.
Dolar AS Kembali Jadi Aset Favorit Investor
Ketika suku bunga di Amerika Serikat berpotensi naik, investor biasanya mengalihkan dana ke instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan relatif aman.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat. Penguatan dolar kemudian memberikan tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang di kawasan Asia dan pasar berkembang lainnya juga mengalami tekanan serupa akibat menguatnya posisi dolar di pasar global.
Bagi investor internasional, dolar masih dianggap sebagai salah satu aset yang paling aman saat kondisi ekonomi dunia dipenuhi ketidakpastian.
Ketegangan AS dan Iran Tambah Kekhawatiran Pasar
Selain faktor ekonomi, sentimen geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang masih menyisakan sejumlah ketidakjelasan meski kedua negara sempat menunjukkan sinyal perbaikan hubungan.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pemerintah Iran yang menegaskan tidak pernah memberikan kesepakatan seperti itu.
Perbedaan pernyataan tersebut membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Ketidakpastian Global Picu Permintaan Safe Haven
Situasi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap aman atau safe haven. Dolar AS menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diburu dalam kondisi seperti ini. Ketika permintaan dolar meningkat, nilai tukar mata uang negara berkembang umumnya mengalami tekanan.
Selain itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi harga energi dunia, terutama minyak dan gas, yang pada akhirnya dapat berdampak pada perekonomian global.
Karena itu, perkembangan hubungan AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang terus dipantau oleh pasar keuangan internasional.
Pelaku Pasar Menunggu Arah Baru
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal, mulai dari keputusan suku bunga The Fed hingga perkembangan geopolitik global.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS semakin menguat dan ketidakpastian geopolitik berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi tetap terjadi.
Meski demikian, pelaku pasar juga akan mencermati langkah-langkah yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Dengan berbagai faktor yang masih berkembang, pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan masyarakat.

