Laba Bank Sampoerna Melonjak 68%, Transaksi Digital Tembus Rp98 Triliun
Cuaninsight – PT Bank Sahabat Sampoerna atau Bank Sampoerna mencatat pertumbuhan kinerja yang positif sepanjang kuartal I 2026. Kinerja tersebut ditopang penguatan pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan dana murah, hingga ekspansi layanan digital.
Di tengah persaingan industri perbankan dan tantangan ekonomi, Bank Sampoerna berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang signifikan serta menjaga kualitas aset tetap terkendali.
Perusahaan juga menunjukkan agresivitas dalam pengembangan layanan digital dengan total transaksi mencapai puluhan triliun rupiah.
Pembiayaan UMKM Capai Rp11 Triliun
Sektor UMKM masih menjadi fokus utama bisnis Bank Sampoerna. CEO Bank Sampoerna, Ali Yong menjelaskan hingga akhir Maret 2026, pembiayaan untuk UMKM mencapai 59% dari total portofolio pembiayaan perusahaan.
Secara nominal, total pembiayaan tercatat menyentuh Rp11 triliun.
Strategi tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Selain pembiayaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif hingga mencapai Rp15 triliun.
Dana Murah (CASA) Tumbuh Hampir 30%
Pertumbuhan DPK Bank Sampoerna didukung peningkatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Beberapa indikator menunjukkan kenaikan cukup signifikan:
Dana giro perusahaan naik menjadi Rp2,01 triliun dari sebelumnya Rp1,34 triliun
Tabungan meningkat menjadi Rp1,43 triliun dibanding Rp1,31 triliun pada periode sama tahun lalu
CASA tumbuh sekitar 29,6% secara tahunan (year on year)
Peningkatan dana murah biasanya menjadi sinyal positif bagi bank karena biaya penghimpunan dana relatif lebih rendah sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi.
Menurut manajemen, pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perusahaan.
Laba Bersih Melonjak 68%, Efisiensi Operasional Membaik
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra menyebut perusahaan terus menjaga disiplin pengelolaan risiko dan efisiensi operasional.
Hasilnya terlihat dari perbaikan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Rasio BOPO tercatat:
96,33% pada Maret 2026
Sebelumnya 97,26% pada periode sama tahun lalu
Perbaikan efisiensi tersebut ikut menopang pertumbuhan laba. Hingga akhir kuartal I 2026, Bank Sampoerna membukukan laba bersih Rp8,9 miliar, naik sekitar 68% dibanding periode sebelumnya sebesar Rp5,3 miliar.
Kenaikan laba menunjukkan perusahaan mampu menjaga pertumbuhan bisnis di tengah tekanan industri perbankan.
Kredit Bermasalah Tetap Terkendali
Selain fokus pada ekspansi, Bank Sampoerna juga mempertahankan kualitas aset melalui prinsip kehati-hatian. Hal itu tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) Net yang tetap berada pada level 2,70%.
Rasio kredit bermasalah yang terkendali menjadi indikator penting kesehatan bank, terutama ketika pembiayaan UMKM terus diperbesar. Kualitas aset yang stabil biasanya memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Transaksi Digital Sentuh Rp98 Triliun
Salah satu sorotan utama kinerja Bank Sampoerna datang dari bisnis digital.
Perusahaan terus memperkuat layanan Bank as a Service (BaaS) melalui kolaborasi dengan berbagai mitra seperti:
Perusahaan fintech
Multifinance
Koperasi
Institusi keuangan lainnya
Sepanjang kuartal I 2026, layanan BaaS mencatat:
Lebih dari 495 juta transaksi
Volume transaksi mencapai Rp98 triliun
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan ekosistem digital perusahaan yang semakin luas.
Menurut Ali Yong, pencapaian ini didukung kerja sama dengan lebih dari 50 mitra strategis di sektor keuangan.

Fokus pada Inklusi Keuangan dan Transformasi Digital
Selain mengejar pertumbuhan bisnis, Bank Sampoerna juga memperluas program literasi keuangan melalui kegiatan SampoernaFest. Perusahaan turut melakukan pembaruan layanan Sampoerna Mobile Banking (SMB) guna meningkatkan pengalaman pengguna.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat inklusi keuangan serta memperluas akses layanan perbankan digital bagi masyarakat.
Dengan pertumbuhan laba, ekspansi UMKM, dan lonjakan transaksi digital, Bank Sampoerna menunjukkan transformasi bisnis yang semakin mengarah pada model perbankan berbasis teknologi.
Kinerja kuartal I 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana kombinasi pembiayaan sektor produktif dan inovasi digital menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri perbankan nasional.

