Imlek dan Ramadan 2026 Picu Inflasi Pangan? Ini Analisis dan Dampaknya
Cuaninsight – Periode Imlek dan Ramadan 2026 diperkirakan akan mendorong kenaikan inflasi, khususnya pada komoditas bahan pangan. Peningkatan konsumsi masyarakat yang bersifat musiman dinilai menjadi faktor utama yang berpotensi memicu tekanan harga.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memperkirakan inflasi pangan akan meningkat akibat kombinasi tiga faktor utama, yakni perayaan Imlek, bulan puasa, serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, tanpa penguatan distribusi dan pengawasan harga, lonjakan permintaan musiman dapat memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi dan berisiko berkepanjangan.
Tiga Faktor Pendorong Inflasi Pangan
Bhima menjelaskan bahwa faktor pertama berasal dari kenaikan permintaan selama Ramadan. Pada periode ini, konsumsi makanan dan minuman umumnya meningkat signifikan, meski sifatnya sementara. Lonjakan belanja rumah tangga untuk kebutuhan berbuka dan sahur kerap mendorong harga komoditas seperti beras, ayam, telur, cabai, dan minyak goreng.
Faktor kedua adalah momentum libur panjang Imlek yang turut menggerakkan konsumsi kelas menengah. Aktivitas pada sektor transportasi, perhotelan, serta makanan dan minuman meningkat. Kenaikan aktivitas ekonomi tersebut berdampak pada meningkatnya permintaan bahan baku pangan.
Sementara itu, faktor ketiga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam implementasinya, dapur SPPG membeli bahan baku dalam jumlah besar dari distributor utama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan persaingan pasokan dengan pedagang pasar tradisional dan warung kecil.
“Imbasnya harga ayam, telur, dan beras ikut naik,” jelas Bhima.
Fenomena ini disebut sebagai demand pull inflation, yaitu inflasi yang dipicu oleh lonjakan permintaan di tengah pasokan yang relatif terbatas.
Data BPS: Inflasi Tahunan Januari 2026 Capai 3,55%
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Namun, ia menegaskan bahwa tingginya inflasi tahunan lebih dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect). Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan IHK secara signifikan.
Kebijakan tersebut bahkan menyebabkan deflasi pada awal 2025, sehingga basis perbandingan menjadi rendah. Ketika harga kembali ke tren normal pada 2026, secara statistik inflasi tahunan tampak lebih tinggi.
Deflasi Bulanan, Tekanan Harga Dinilai Terkendali
Meski inflasi tahunan relatif tinggi, secara bulanan (month to month/mtm) Januari 2026 justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. IHK turun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak bersifat struktural dan masih dalam batas terkendali. Artinya, kenaikan inflasi lebih mencerminkan faktor perbandingan tahunan ketimbang lonjakan harga yang ekstrem di awal tahun.
Risiko Inflasi Jelang Ramadan
Kendati demikian, risiko inflasi pangan tetap perlu diwaspadai menjelang Ramadan dan Idulfitri. Lonjakan permintaan musiman berpotensi meningkatkan harga komoditas strategis apabila distribusi tidak berjalan optimal.
Penguatan rantai pasok, stabilisasi harga, serta pengawasan distribusi menjadi kunci agar kenaikan harga tidak melebihi daya beli masyarakat.
Dari sisi kebijakan, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat dibutuhkan untuk memastikan pasokan pangan mencukupi. Intervensi seperti operasi pasar dan pengendalian stok dapat membantu meredam lonjakan harga.
Dampak terhadap Daya Beli dan Pasar
Inflasi pangan memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. Jika tidak terkendali, kenaikan harga bahan pokok dapat menekan konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, selama tekanan inflasi masih dalam kisaran target dan didorong faktor musiman, dampaknya cenderung bersifat sementara.
Bagi pelaku pasar dan investor, dinamika inflasi perlu dicermati karena dapat memengaruhi kebijakan suku bunga serta sentimen di pasar keuangan.

