Sewa Terminal OTM Justru Bikin Pertamina Cuan Rp17 Triliun, Ini Hitungannya
Cuaninsight – Penyewaan terminal bahan bakar minyak (BBM) milik PT Orbit Terminal Merak (OTM) disebut justru memberikan keuntungan signifikan bagi PT Pertamina (Persero). Hal ini ditegaskan oleh Patra M. Zen, penasihat hukum Muhamad Kerry Adrianto Riza selaku beneficial owner PT OTM, dalam persidangan perkara dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang.
Menurut Patra, selama periode kerja sama 10 tahun, Pertamina memperoleh keuntungan mencapai US$ 524 juta, yang jika dikonversikan ke Rupiah nilainya setara lebih dari Rp17 triliun. Klaim ini sekaligus membantah dakwaan jaksa yang menyebut penyewaan terminal OTM menyebabkan kerugian negara sebesar Rp2,9 triliun.
Sumber Keuntungan Pertamina dari Terminal OTM
Patra menjelaskan, keuntungan tersebut berasal dari efisiensi pengadaan BBM dan biaya logistik. Sepanjang periode 2014 hingga April 2025, volume BBM yang masuk ke terminal OTM mencapai 309 juta barel.
Tanpa fasilitas terminal OTM, Pertamina disebut harus membeli BBM dari Singapura dengan harga lebih mahal, sekitar US$ 2–3 per barel, dibandingkan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Selisih harga inilah yang menjadi salah satu sumber utama penghematan.
Selain itu, penggunaan terminal OTM memungkinkan Pertamina memakai kapal berukuran besar dengan kapasitas hingga 600 ribu barel dalam sekali angkut. Skema ini menekan biaya transportasi secara signifikan dibandingkan pengiriman dengan kapal kecil.
Hitungan Efisiensi dan Penghematan Biaya
Setelah dikurangi biaya sewa terminal OTM, total penghematan bersih yang dinikmati Pertamina disebut mencapai US$ 211 juta selama 10 tahun. Namun secara keseluruhan, nilai manfaat ekonomi yang diterima Pertamina tetap berada di angka US$ 524 juta.
“Dengan menyewa terminal BBM OTM, Pertamina justru mendapatkan keuntungan besar. Ini bukan kerugian negara,” ujar Patra di Pengadilan Tipikor Jakarta.
Jika mengacu pada kajian Surveyor Indonesia serta kesaksian mantan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution, efisiensi operasional sejak periode 2021–2025 bahkan bertambah sekitar Rp 8,7 triliun.
Total Keuntungan Tembus Rp17 Triliun
Dengan menggabungkan keuntungan dari selisih harga BBM dan efisiensi operasional, Patra menegaskan total manfaat ekonomi dari penyewaan terminal OTM bagi Pertamina mencapai lebih dari Rp17 triliun.
Menurutnya, sekalipun dikurangi biaya sewa terminal selama satu dekade, posisi keuangan Pertamina tetap menunjukkan keuntungan bersih yang signifikan. Karena itu, klaim kerugian negara dinilai tidak selaras dengan data dan metodologi perhitungan yang digunakan para ahli.
Efisiensi Energi dan Implikasinya bagi Bisnis
Dari sudut pandang bisnis dan investasi, kasus ini menunjukkan bagaimana optimalisasi infrastruktur energi dapat memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dan daya saing BUMN energi. Penggunaan terminal strategis seperti OTM bukan hanya soal logistik, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur biaya dan profitabilitas jangka panjang.
Meski proses hukum masih berjalan, perhitungan ekonomi yang dipaparkan dalam persidangan menegaskan bahwa efisiensi operasional dapat menjadi sumber “cuan” besar, bahkan di tengah dinamika hukum dan tata kelola sektor energi nasional.

