Tanggapan Resmi Bos BCA Digital soal Isu IPO blu by BCA
Cuaninsight – Isu rencana initial public offering (IPO) blu by BCA kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Namun, manajemen PT Bank Digital BCA (BCA Digital) menegaskan bahwa rencana melantai di Bursa Efek Indonesia belum menjadi agenda utama perusahaan dalam waktu dekat.
Direktur Utama BCA Digital, Lanny Budiati, menyampaikan bahwa perusahaan memilih untuk memfokuskan strategi bisnis pada penguatan internal sepanjang tahun 2026, dibandingkan menyiapkan aksi korporasi besar seperti IPO.
“Sepanjang tahun 2026, BCA Digital memilih untuk memfokuskan strategi bisnis pada penguatan inovasi produk dan peningkatan kualitas layanan,” ujar Lanny dalam keterangannya kepada media, Rabu (28/1/2026).
IPO Belum Masuk Agenda Prioritas Manajemen
Menurut Lanny, perusahaan saat ini lebih berkonsentrasi mengembangkan produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah, seiring semakin ketatnya persaingan di industri perbankan digital nasional.
Ia menegaskan bahwa IPO bukanlah target jangka pendek, melainkan opsi strategis yang bisa dipertimbangkan di masa depan ketika perusahaan telah mencapai skala bisnis, profitabilitas, serta kesiapan operasional yang optimal.
“Fokus utama kami adalah memastikan fundamental dan kinerja keuangan BCA Digital senantiasa terjaga,” kata Lanny.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan karakter industri bank digital yang membutuhkan investasi besar dalam teknologi, keamanan sistem, serta edukasi pasar sebelum mengejar ekspansi melalui pasar modal.
Fokus Perkuat Produk dan Pengalaman Nasabah
Manajemen mengungkapkan bahwa pengembangan produk akan diarahkan untuk menjawab kebutuhan transaksi harian nasabah, pengelolaan keuangan pribadi, serta kemudahan akses layanan perbankan berbasis digital.
Selain inovasi produk, BCA Digital juga menaruh perhatian besar pada:
- stabilitas sistem teknologi informasi,
- keamanan data dan transaksi nasabah,
- peningkatan kecepatan layanan, serta
- efisiensi struktur biaya operasional.

Langkah ini ditujukan untuk mendorong peningkatan jumlah pengguna aktif dan volume transaksi, yang pada akhirnya akan memperkuat pendapatan berbasis fee dan transaksi digital.
“Strategi tersebut dilakukan untuk mendorong peningkatan jumlah dan aktivitas transaksi nasabah, dengan tetap memperhatikan efektivitas serta efisiensi biaya operasional,” jelas Lanny.
Persaingan Bank Digital Semakin Ketat
Industri perbankan digital Indonesia saat ini diisi oleh banyak pemain besar, baik bank konvensional yang bertransformasi digital maupun bank digital murni. Kondisi ini membuat persaingan tidak hanya terjadi pada sisi suku bunga atau promosi, tetapi juga pada:
- stabilitas aplikasi,
- fitur inovatif,
- integrasi ekosistem digital,
- serta kualitas layanan pelanggan.
Dalam konteks ini, manajemen BCA Digital menilai penguatan fundamental jauh lebih penting dibandingkan mempercepat IPO tanpa kesiapan matang.
Kinerja Induk Usaha Jadi Penopang Optimisme
Sebagai anak usaha PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), blu by BCA turut mendapat dukungan kuat dari kinerja solid induk perusahaan.
Hingga Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan laba bersih Rp57,5 triliun, tumbuh sekitar 4,9% secara tahunan (YoY).
Kinerja tersebut ditopang oleh:
- pendapatan bunga bersih (net interest income) yang tumbuh 4,1% YoY,
- pendapatan non-bunga yang melonjak 16% YoY,
- pertumbuhan kredit sebesar 7,7% YoY menjadi Rp993 triliun,
- serta dana pihak ketiga (DPK) yang naik 10,2% YoY menjadi Rp1.249 triliun.
Kondisi ini memberikan ruang bagi BCA Digital untuk fokus membangun bisnis secara organik tanpa tekanan kebutuhan pendanaan dari pasar modal dalam waktu dekat.
Sinyal ke Investor: IPO Bisa Menyusul Jika Fundamental Kuat
Meski menepis rumor IPO dalam waktu dekat, pernyataan manajemen juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa opsi tersebut tetap terbuka dalam jangka panjang.
Bagi investor, langkah BCA Digital menunda IPO justru mencerminkan pendekatan konservatif dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis, bukan sekadar mengejar valuasi pasar jangka pendek.
Jika strategi penguatan produk, efisiensi, serta pertumbuhan nasabah berjalan konsisten, bukan tidak mungkin blu by BCA akan menjadi salah satu kandidat IPO bank digital terbesar di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Penutup
Rumor IPO blu by BCA akhirnya dijawab tegas oleh manajemen. Untuk tahun 2026, BCA Digital memilih fokus pada penguatan fundamental bisnis, inovasi produk, dan kualitas layanan, bukan melantai di bursa.
Strategi ini dinilai realistis di tengah persaingan bank digital yang semakin padat, sekaligus memberi sinyal bahwa IPO hanya akan dilakukan ketika perusahaan benar-benar siap secara operasional dan finansial.

