Prajogo Pangestu Borong Saham BREN Rp11,87 Miliar di Tengah Pasar Bergejolak
Cuaninsight – Konglomerat Prajogo Pangestu kembali mencuri perhatian pelaku pasar modal. Di tengah kondisi bursa yang bergejolak, ia tercatat melakukan aksi akumulasi saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai mencapai Rp11,87 miliar.
Langkah ini dilakukan saat pasar saham Indonesia mengalami volatilitas tinggi dalam dua hari terakhir, termasuk momen ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi tajam sebelum akhirnya pulih.
Akumulasi 1,33 Juta Saham dalam Sehari
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Prajogo Pangestu membeli sebanyak 1,33 juta saham BREN pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2025.
Transaksi dilakukan secara bertahap dalam 10 kali pembelian dengan rentang harga Rp8.800 hingga Rp9.025 per saham. Secara total, dana yang digelontorkan mencapai Rp11.876.780.000 atau dibulatkan menjadi Rp11,87 miliar.
Aksi ini membuat kepemilikan langsung Prajogo di BREN meningkat menjadi 139,78 juta saham atau setara 0,104% dari total saham beredar. Sebelumnya, porsi kepemilikan berada di level 0,103%.
Meski kenaikannya relatif kecil secara persentase, langkah ini tetap dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang emiten energi terbarukan tersebut.
Tetap Pengendali Lewat Barito Pacific
Selain kepemilikan langsung, Prajogo Pangestu juga menguasai saham BREN secara tidak langsung melalui PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menggenggam sekitar 64,66% saham perusahaan.
Dengan struktur ini, Prajogo menegaskan bahwa statusnya sebagai pengendali perseroan tetap tidak berubah, meskipun ada penambahan kepemilikan pribadi.
Dalam laporannya kepada otoritas, Prajogo menyebut bahwa transaksi dilakukan untuk tujuan investasi pribadi, sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 4 Tahun 2024 mengenai pelaporan kepemilikan saham perusahaan terbuka.
Saham BREN Bergerak Volatil
Pada hari yang sama, saham BREN ditutup di level Rp9.200 per saham. Sepanjang sesi perdagangan, pergerakannya cukup fluktuatif dengan rentang harga antara Rp8.650 hingga Rp9.200.
Total volume transaksi mencapai 12,28 juta saham dengan nilai sekitar Rp109 miliar, menandakan minat pasar yang masih cukup tinggi terhadap emiten ini.
Secara intraday, saham BREN sempat menyentuh titik terendah di Rp8.650 atau turun sekitar 3,88%, sebelum akhirnya berbalik menguat dan ditutup naik 2,22%.
BREN dan Tekanan terhadap IHSG
Aksi beli Prajogo terjadi di tengah kondisi pasar yang sedang sensitif. Dalam dua hari perdagangan terakhir, IHSG sempat tertekan lebih dari 2% sebelum pulih kembali.
Saham BREN, sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, menjadi salah satu saham yang paling awal mengalami tekanan saat indeks mulai terkoreksi.
Pergerakan saham ini memiliki pengaruh besar terhadap IHSG, sehingga ketika BREN melemah, indeks pun ikut terseret.
Namun, pada perdagangan terbaru, saham BREN dinilai relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah saham lain yang sebelumnya juga mengalami volatilitas tinggi, termasuk beberapa saham grup konglomerasi besar.
Kapitalisasi Jumbo, Investor Ritel Menurun
Per akhir perdagangan, kapitalisasi pasar PT Barito Renewables Energy Tbk tercatat mencapai Rp1.230,83 triliun, menjadikannya salah satu perusahaan publik dengan valuasi terbesar di Indonesia.
Meski begitu, data menunjukkan adanya penurunan jumlah investor ritel. Hingga akhir 2025, tercatat sekitar 36.738 investor ritel memegang saham BREN, turun dari 39.018 investor pada bulan sebelumnya.
Fenomena ini bisa mencerminkan sikap wait and see investor individu di tengah volatilitas pasar, atau adanya rotasi portofolio ke saham lain yang dinilai lebih defensif.
Sinyal Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Aksi “gerilya” Prajogo Pangestu mengakumulasi saham BREN di tengah gejolak pasar kerap dipandang sebagai sinyal optimisme dari investor kelas kakap.
Bagi pelaku pasar, langkah ini bisa diartikan sebagai bentuk keyakinan terhadap fundamental perusahaan dan prospek sektor energi terbarukan dalam jangka panjang, meski dalam jangka pendek harga saham masih berpotensi berfluktuasi.
Namun, investor ritel tetap perlu mencermati risiko pasar, kondisi makroekonomi, serta kinerja keuangan perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

