Instrumen Investasi Potensial Raup Cuan di 2026, Mana yang Paling Aman?
Cuaninsight – Tahun 2026 diprediksi menjadi periode yang menantang sekaligus penuh peluang bagi para investor. Ketidakpastian global yang dipicu oleh tensi geopolitik, dinamika perang dagang, hingga arah kebijakan suku bunga dunia membuat banyak masyarakat mulai kembali melirik instrumen investasi yang dinilai lebih aman namun tetap berpotensi menghasilkan cuan.
Di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, minat berinvestasi justru cenderung meningkat. Investor tidak lagi hanya mengejar keuntungan besar, tetapi juga mengutamakan stabilitas dan perlindungan nilai aset dalam jangka menengah hingga panjang.
Ketidakpastian Global Dorong Minat Investasi
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai bahwa situasi global yang penuh ketidakpastian akan menjadi pemicu meningkatnya aktivitas investasi sepanjang 2026. Menurutnya, isu geopolitik dan ketegangan perang dagang, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, berpotensi memberi dampak lanjutan terhadap perekonomian Indonesia.
BACA JUGA: Kejar MSCI atau Mandek? Saham Konglomerasi Masuki Fase Ujian di 2026
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai bersiap dengan mengamankan aset dan mencari instrumen investasi yang relatif tahan terhadap gejolak. Bahkan, Bank Indonesia disebut telah memberi sinyal bahwa tantangan ekonomi nasional di 2026 tidak bisa dianggap ringan, sehingga pemilihan instrumen yang tepat menjadi semakin penting.
Emas Masih Jadi Instrumen Favorit
Salah satu instrumen yang diprediksi tetap menjadi primadona di 2026 adalah logam mulia, khususnya emas. Dalam situasi pasar yang bergejolak, emas kerap berfungsi sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Harga emas cenderung bergerak stabil, bahkan meningkat ketika ketidakpastian global memuncak. Tak heran jika emas batangan maupun perhiasan masih dianggap sebagai salah satu investasi paling aman dengan potensi cuan yang konsisten.
Selain emas, logam mulia lain seperti perak juga mulai dilirik sebagai alternatif diversifikasi portofolio dengan risiko yang relatif terkontrol.
Obligasi dan Deposito untuk Investor Konservatif
Bagi investor dengan profil risiko konservatif, obligasi dan deposito tetap menjadi pilihan menarik di 2026. Obligasi, khususnya obligasi negara dan obligasi ritel, menawarkan imbal hasil yang relatif stabil dengan risiko yang lebih rendah dibanding saham.
Dengan adanya potensi penurunan suku bunga acuan global, nilai obligasi berpeluang meningkat sehingga memberikan keuntungan tambahan bagi investor. Sementara itu, deposito tetap relevan sebagai instrumen parkir dana dengan tingkat keamanan tinggi, meskipun imbal hasilnya cenderung lebih terbatas.
Saham Perbankan dan Komoditas Dinilai Prospektif
Instrumen lain yang diperkirakan mampu mendulang cuan adalah saham, terutama saham berbasis perbankan dan komoditas. Ibrahim Assuaibi menilai bahwa sektor perbankan masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, sementara saham komoditas berpotensi diuntungkan ketika konflik geopolitik memicu kenaikan harga bahan tambang dan energi.
Dalam kondisi global yang tidak stabil, permintaan terhadap komoditas strategis biasanya meningkat. Hal ini membuka peluang keuntungan bagi investor yang menempatkan dana pada saham-saham komoditas dengan fundamental kuat.
Pasar Domestik Dinilai Tetap Tangguh
Senada dengan itu, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, melihat bahwa meskipun tekanan global masih berlangsung, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang cukup solid. Salah satu indikatornya adalah kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatat pertumbuhan signifikan secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik. Dengan aliran dana yang berpotensi terus masuk, saham dan instrumen turunannya dinilai masih layak dipertimbangkan di 2026.
Reksadana Jadi Alternatif Praktis
Bagi investor yang menginginkan kemudahan dan diversifikasi otomatis, reksadana menjadi pilihan menarik. Reksadana saham dan reksadana campuran dinilai berpotensi memberikan imbal hasil seiring naiknya pasar saham dan obligasi.
Instrumen ini cocok bagi investor pemula maupun mereka yang tidak memiliki waktu untuk memantau pasar secara aktif, karena pengelolaan dana dilakukan oleh manajer investasi profesional.
Kunci Investasi 2026: Diversifikasi dan Strategi
Secara keseluruhan, 2026 diprediksi menjadi tahun di mana strategi dan kehati-hatian menjadi kunci utama dalam berinvestasi. Tidak ada satu instrumen yang paling sempurna untuk semua kondisi, sehingga diversifikasi portofolio menjadi langkah penting untuk mengelola risiko sekaligus memaksimalkan potensi cuan.
Dengan memahami karakter masing-masing instrumen dan menyesuaikannya dengan profil risiko, investor memiliki peluang besar untuk tetap meraih keuntungan meski di tengah ketidakpastian ekonomi global.

