Agung Podomoro Jual Lahan di Bali, Siap Gas Proyek Properti Bernilai Tinggi
Cuaninsight – Sektor properti nasional kembali menunjukkan pergerakan penting yang mencerminkan upaya penyehatan finansial perusahaan besar. Kali ini, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengambil langkah strategis dengan melepas aset lahan seluas sekitar 8 hektar di Bali. Langkah ini bukan sekadar aksi jual aset, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat fundamental keuangan dan meningkatkan likuiditas.
Pada 11 Desember 2025, APLN secara resmi menyelesaikan transaksi penjualan seluruh kepemilikan saham Perseroan dan entitas anaknya, PT Kencana Unggul Sukses (KUS), di PT Karya Pratama Propertindo. Saham tersebut dilepas kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development. Meski melibatkan lahan dengan luasan yang cukup signifikan, manajemen menegaskan bahwa transaksi ini bukan transaksi material maupun afiliasi, melainkan murni keputusan bisnis yang strategis.
Aset Non-Produktif Dilepas demi Likuiditas
Lahan yang dijual tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong yang disiapkan untuk rencana pengembangan properti di Bali. Namun, dalam kondisi pasar dan kebutuhan perusahaan saat ini, manajemen menilai aset tersebut lebih optimal jika dilepas untuk memperkuat kas perusahaan.
Corporate Secretary APLN, Justini Omas, menjelaskan bahwa divestasi ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan dana kas. Langkah tersebut sekaligus membantu perusahaan memangkas kewajiban finansial yang masih membebani neraca.
“Transaksi ini sangat strategis karena dapat meningkatkan dana kas perusahaan. Divestasi aset telah menjadi bagian dari model bisnis APLN sejak 2017 dan terbukti efektif,” ungkap Justini.
Menurutnya, pelepasan aset non-produktif bukanlah tanda perlambatan bisnis, melainkan strategi realistis untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah dinamika industri properti nasional.

Strategi Divestasi yang Terbukti Efektif
APLN bukan pemain baru dalam strategi divestasi. Sejak beberapa tahun terakhir, perusahaan konsisten memanfaatkan penjualan aset strategis untuk memperkuat struktur keuangan. Hasilnya pun terlihat nyata, terutama dalam penurunan beban utang berbunga.
Berdasarkan data konsolidasi keuangan, total pinjaman berbunga (interest-bearing debt) APLN berhasil ditekan secara signifikan. Dari sekitar Rp10 triliun pada 2021, angka tersebut turun menjadi Rp5,5 triliun per September 2025. Artinya, dalam kurun waktu empat tahun, APLN mampu memangkas utang hingga sekitar Rp4,5 triliun.
Penurunan kewajiban ini memberikan ruang gerak yang jauh lebih luas bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi terukur dan mengembangkan proyek-proyek dengan nilai tambah tinggi.
Fokus ke Proyek Bernilai Tinggi
Dengan neraca keuangan yang semakin sehat, APLN kini mengalihkan fokus pada pengembangan proyek-proyek properti bernilai tinggi di berbagai wilayah strategis Indonesia. Fokus ini sejalan dengan kebutuhan pasar akan hunian modern serta upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Beberapa proyek unggulan APLN yang saat ini tengah dikembangkan antara lain:
- Jawa Barat: Podomoro Park Bandung dan Parkland Podomoro Karawang
- Jabodetabek: Bukit Podomoro Jakarta dan Podomoro Golf View Cimanggis
- Luar Jawa: Podomoro City Deli Medan dan Borneo Bay Residence Balikpapan
Proyek-proyek tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan hunian masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan aktivitas bisnis turunan.
Komitmen Jangka Panjang di Sektor Properti
Manajemen APLN menegaskan bahwa langkah divestasi ini justru memperkuat komitmen perusahaan di sektor properti nasional. Dengan struktur keuangan yang lebih solid, APLN optimistis dapat menangkap peluang pertumbuhan baru secara lebih sehat dan berkelanjutan.
“Pembangunan proyek properti ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memenuhi kebutuhan rumah nasional sekaligus mendorong bergeraknya ekonomi daerah,” tutup Justini.
Bagi pelaku industri dan investor, langkah APLN melepas lahan 8 hektar di Bali menjadi contoh bagaimana strategi keuangan yang disiplin dapat memperkuat daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

