Tren Buyback Jumbo 2025–2026: Sektor dan Saham yang Paling Menarik Diakumulasi

Cuaninsight – Dalam beberapa bulan terakhir, pasar saham Indonesia diramaikan oleh tren baru: gelombang aksi buyback bernilai jumbo dari sejumlah emiten papan atas. Fenomena ini bukan sekadar manuver korporasi biasa—para analis menilai bahwa langkah agresif buyback menandakan fundamental keuangan yang solid, valuasi saham yang masih murah, sekaligus optimisme manajemen terhadap prospek jangka panjang.

Buyback Jumbo: Dari Batubara hingga Otomotif dan Perbankan

Salah satu aksi buyback terbesar datang dari sektor batubara. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) memperoleh restu pemegang saham untuk mengeksekusi program buyback senilai Rp 2,49 triliun. Manajemen ITMG menyatakan bahwa harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental dan potensi bisnis perusahaan di masa mendatang.

Buyback akan dieksekusi melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) secara bertahap atau sekaligus, dengan batas waktu maksimal 12 bulan sejak RUPSLB.

Tak hanya ITMG, raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) juga mengumumkan rencana buyback maksimal Rp 2 triliun, dengan periode pelaksanaan dari 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026. ASII menegaskan bahwa buyback tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor, dan free float tidak akan turun di bawah 7,5%.

Menariknya, anak usaha ASII, PT United Tractors Tbk (UNTR), ikut ambil bagian dengan program buyback bernilai maksimal Rp 2 triliun, berlaku dari 31 Oktober 2025 sampai 30 Januari 2026. Hal ini menegaskan kuatnya posisi kas grup Astra secara keseluruhan.

Di sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan langkah buyback yang bahkan lebih besar. Emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI ini menyiapkan anggaran hingga Rp 5 triliun, yang berlangsung dari 22 Oktober 2025 hingga 19 Januari 2026.

Kenapa Banyak Emiten Gencar Buyback?

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai tren buyback jumbo ini disebabkan oleh tiga faktor utama:

1. Valuasi saham undervalued

Banyak saham emiten besar dinilai diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, sehingga buyback menjadi langkah logis untuk memanfaatkan harga rendah.

2. Posisi kas sangat kuat

Emiten besar—terutama sektor perbankan, otomotif, energi, serta konsumer primer—memiliki neraca yang sehat dan arus kas operasi yang besar. Buyback tidak mengganggu ekspansi atau operasional.

3. Volatilitas pasar meningkat

Kondisi pasar yang berfluktuasi menciptakan peluang bagi manajemen untuk membeli saham pada level harga yang menarik.

Reza menambahkan bahwa buyback sering menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap kinerja jangka panjang, sekaligus upaya menjaga stabilitas harga di tengah potensi melemahnya likuiditas pasar.

Analis KISI, Muhammad Wafi, juga menegaskan bahwa mayoritas emiten melakukan buyback karena valuasi yang sudah berada di bawah harga wajar. Dengan likuiditas pasar yang masih cukup tinggi, program buyback dinilai akan berjalan efektif.

Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang untuk Investor

Dalam jangka pendek

Buyback biasanya mendorong sentimen bullish dan memperkuat harga saham. Selain itu, berkurangnya jumlah saham beredar berpotensi meningkatkan earnings per share (EPS).

Dalam jangka panjang

Buyback dapat memperkuat kepercayaan investor dan menambah nilai kepemilikan per saham. Namun dampaknya terhadap harga tidak selalu instan—bergantung pada skala buyback, kondisi pasar, dan performa fundamental emiten.

Menurut Wafi, penurunan kas memang terjadi, tetapi tidak signifikan untuk emiten besar yang memiliki arus kas kuat. Ia menegaskan bahwa buyback merupakan momen akumulasi yang ideal bagi investor jangka panjang.

Emiten yang Layak Dikoleksi Selama Tren Buyback

Baik Reza maupun Wafi sepakat bahwa sejumlah saham unggulan masih menarik untuk diakumulasi bertahap (averaging), bukan ikut-ikutan euforia sesaat.

Target Harga Menurut Analis:

BBCA → Rp 10.000 – Rp 10.500

ASII → Rp 6.700 – Rp 6.800

UNTR → Rp 28.000 – Rp 29.600

ITMG → Rp 25.000

Dengan posisi kas kuat, volatilitas pasar tinggi, dan fleksibilitas buyback yang kini tidak selalu membutuhkan RUPS, tren ini diprediksi akan berlanjut hingga awal 2026. Emiten dengan fundamental kokoh dan valuasi menarik diperkirakan menjadi pelaku buyback berikutnya.

Sentimen Positif untuk Pasar Saham Indonesia

Aksi buyback bernilai jumbo bukan hanya manuver finansial, tetapi juga cermin optimisme emiten terhadap prospek bisnisnya. Bagi investor, momentum ini bisa menjadi peluang strategis untuk mengoleksi saham berkualitas dengan harga menarik, tentunya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan profil risiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *