Tips Edwin Pranata Maksimalkan Cuan Investasi di Tengah Pasar yang Fluktuatif
Cuaninsight – Di tengah dinamika dan volatilitas pasar keuangan, perilaku investor sering kali terbelah menjadi dua kubu. Sebagian memilih bersikap reaktif terhadap pergerakan harga jangka pendek, sementara lainnya tetap konsisten pada strategi jangka panjang. Pendekatan kedua inilah yang diyakini Edwin Pranata, Direktur Utama PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), sebagai fondasi untuk memaksimalkan cuan investasi secara berkelanjutan.
Fokus pada Fundamental, Bukan Gejolak Sesaat
Menurut Edwin, kesalahan umum investor adalah terlalu fokus pada fluktuasi harga harian. Padahal, pergerakan jangka pendek sering kali dipengaruhi sentimen sesaat yang tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental sebuah aset.
Ia menekankan bahwa investasi seharusnya berangkat dari kinerja jangka panjang dan nilai intrinsik, bukan sekadar spekulasi. Dengan fokus pada fundamental, investor memiliki landasan rasional dalam mengambil keputusan, terutama saat pasar berada dalam kondisi tidak menentu.
Pentingnya Horizon Investasi Jangka Panjang
Edwin menyarankan agar investor menetapkan horizon waktu minimal dua tahun, bahkan lebih lama. Menurutnya, waktu adalah faktor krusial yang memungkinkan potensi pertumbuhan suatu aset berkembang secara optimal.
“Horizon-nya bisa dua tahun minimal atau bahkan lebih,” ujar Edwin.

Dengan jangka waktu yang lebih panjang, investor tidak mudah tergoda untuk keluar masuk pasar hanya karena koreksi sementara. Strategi ini juga membantu mengurangi risiko emosional yang sering menjadi penyebab keputusan investasi yang keliru.
Pahami Instrumen dan Kelola Risiko dengan Bijak
Selain soal waktu, Edwin menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap instrumen investasi yang dipilih. Investor perlu mengetahui karakteristik, risiko, serta potensi setiap instrumen agar keputusan yang diambil bersifat terukur.
Filosofi ini terbentuk dari pengalamannya panjang di pasar modal. Edwin mengenal dirinya sebagai investor dengan profil moderate to high risk, namun bukan tipe pemburu keuntungan jangka pendek. Ia tidak hanya melihat valuasi dan fundamental klasik, tetapi juga mempertimbangkan tren, likuiditas, dan potensi pasar ke depan.
Perjalanan Investasi dan Pengalaman Berharga
Ketertarikan Edwin pada dunia investasi bermula sejak masa kuliah, ketika ia menempuh pendidikan di bidang keuangan. Instrumen pertama yang dikenalnya adalah saham, dan sejak 2015 ia mulai aktif berinvestasi, dengan fokus awal pada saham domestik, khususnya sektor perbankan yang dinilai relatif stabil.
Salah satu pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat pandemi Covid-19. Kala itu, Edwin melihat peluang pada saham perbankan digital.
“Awalnya hanya iseng melihat tren, tapi pergerakan bank digital luar biasa. Portofolio naik lebih dari seribu persen,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa kombinasi analisis fundamental dan pemahaman tren dapat menghasilkan imbal hasil signifikan.
Diversifikasi Portofolio Jadi Kunci Stabilitas
Saat ini, Edwin mengelola portofolio investasi yang terdiversifikasi. Sekitar 60% dialokasikan ke saham, 15% ke properti, dan 25% ke berbagai investasi barang eksotis. Diversifikasi ini bertujuan untuk menyeimbangkan potensi keuntungan dan risiko di berbagai kondisi pasar.
Bagi investor pemula, ia menyarankan untuk berani memulai meski dengan nominal kecil, memahami risiko sebelum ikut tren, serta membangun pola pikir jangka panjang.
“Investasi itu maraton, bukan lomba jarak pendek. Jangan berharap hasil instan,” tegas Edwin.
Investasi Terpenting: Diri Sendiri
Di luar instrumen finansial, Edwin menilai investasi paling krusial adalah investasi pada diri sendiri, atau yang ia sebut sebagai investasi “leher ke atas”. Bentuknya mencakup kesehatan, pengetahuan, dan mindset.
Kesehatan menjadi fondasi utama karena tanpa kondisi fisik dan mental yang baik, konsistensi dalam mengambil keputusan sulit tercapai. Pengetahuan berfungsi sebagai modal bersaing, sementara mindset menentukan cara seseorang menghadapi risiko dan ketidakpastian pasar.
Menurut Edwin, keberhasilan investor tidak semata ditentukan oleh instrumen yang dipilih, melainkan oleh cara berpikir dan karakter dalam menghadapi dinamika pasar.

